Ancaman Pandemi, Tirani, dan Oknum Demokrasi 'Negara -62'
Rabu, 09 Maret 2022 - 15:25 WIB
loading...
A
A
A
Apakah sedang terjadi kekacauan sosial yang merajalela dan penjarahan di mana-mana? Apakah polisi dan tentara Negara -62 tidak lagi memiliki kehebatan untuk menjaga keamanan dan kedaulatan? Atau wabah korona sudah merenggut separuh dari generasi muda Negara -62 sehingga tidak ada lagi jiwa-jiwa muda dan pikiran-pikiran cerdas yang pantas menjadi pilihan rakyat selanjutnya sebagaimana konstitusi mereka telah menyuratkan secara nyata? Lalu kecengengan para oknum demokrasi akan merombak konstitusinya sendiri demi menutup ketakutan mereka jika pemilih menentukan beda?
Terlebih lagi jika suara rakyatnya ditunda karena alasan konflik Ukraina-Rusia. Mungkin para oknum demokrasi itu sudah melihat rudal-rudal penghancur berseliweran di atas langit Negara -62 dan tidak percaya bahwa negaranya sendiri akan mampu membangun ketahanan ekonomi dari perang yang terjadi jauh di barat dunia sana? Apabila perang Ukraina-Rusia berdampak seketika secara besar dan berat, apakah oknum demokrasi yang merasa dirinya terhormat tidak pernah belajar sejarah peradaban manusia bahwa pemilu di tengah kondisi perang dunia sekali pun pernah terjadi di Amerika Serikat dan Inggris Raya?
Cukuplah sudah publik dijejali pikiran-pikiran dan sikap hampa logika dasar dan hampa nurani demokrasi dari para oknum demokrasi. Sang Presiden Rakyat bukanlah pemimpin yang tuna-aspirasi. Presiden Rakyat adalah pemimpin yang akan menyosong Pemilu 2024 dengan sukacita sebagaimana mayoritas rakyat riang gembira memilihnya pada dua pemilu sebelumnya. Presiden Rakyat paham bahwa kekuasaan memiliki batas untuk membuka jalan regenerasi, demikian pula dengan para pemimpin partai-partai politik. Hanya oknum demokrasi yang ingin merusak tatanan.
Semoga ancaman pandemi tirani, wabah buta aksara konstitusi, penyakit tuli nurani, dan oknum demokrasi yang berkembang di Negara -62 tidak menular ke Negara +62. Rakyat Negara +62 masih memiliki prasangka baik terhadap para pemimpinnya, maka belajarlah dari Negara -62, janganlah rakyat dimanfaatkan untuk nafsu perpanjangan masa kuasa. Berikan tempat layak bagi rakyat, berapapun biayanya. Hitung anggaran negara dengan seksama, jangan pengelolaan uang pemerintah disamakan dengan rumah tangga sederhana agar bisa dijadikan alasan pemilu ditunda. Jangan cengeng dan takut menghadapi wajah-wajah rakyat yang polos bahkan terkesan permisif, karena rakyat tahu kapan waktu yang tepat untuk melawan tirani ataupun tanda-tanda kemunculannya (lagi).
Jika toh mungkin bisa terjadi mirip, innalilahi wa innailaihi rajiun. Semoga Allah SWT menjaga keselamatan Tanah Air dan segenap rakyat Negara +62 dan semoga ancaman pandemi tirani tidak merebak di Negara -62.
Terlebih lagi jika suara rakyatnya ditunda karena alasan konflik Ukraina-Rusia. Mungkin para oknum demokrasi itu sudah melihat rudal-rudal penghancur berseliweran di atas langit Negara -62 dan tidak percaya bahwa negaranya sendiri akan mampu membangun ketahanan ekonomi dari perang yang terjadi jauh di barat dunia sana? Apabila perang Ukraina-Rusia berdampak seketika secara besar dan berat, apakah oknum demokrasi yang merasa dirinya terhormat tidak pernah belajar sejarah peradaban manusia bahwa pemilu di tengah kondisi perang dunia sekali pun pernah terjadi di Amerika Serikat dan Inggris Raya?
Cukuplah sudah publik dijejali pikiran-pikiran dan sikap hampa logika dasar dan hampa nurani demokrasi dari para oknum demokrasi. Sang Presiden Rakyat bukanlah pemimpin yang tuna-aspirasi. Presiden Rakyat adalah pemimpin yang akan menyosong Pemilu 2024 dengan sukacita sebagaimana mayoritas rakyat riang gembira memilihnya pada dua pemilu sebelumnya. Presiden Rakyat paham bahwa kekuasaan memiliki batas untuk membuka jalan regenerasi, demikian pula dengan para pemimpin partai-partai politik. Hanya oknum demokrasi yang ingin merusak tatanan.
Semoga ancaman pandemi tirani, wabah buta aksara konstitusi, penyakit tuli nurani, dan oknum demokrasi yang berkembang di Negara -62 tidak menular ke Negara +62. Rakyat Negara +62 masih memiliki prasangka baik terhadap para pemimpinnya, maka belajarlah dari Negara -62, janganlah rakyat dimanfaatkan untuk nafsu perpanjangan masa kuasa. Berikan tempat layak bagi rakyat, berapapun biayanya. Hitung anggaran negara dengan seksama, jangan pengelolaan uang pemerintah disamakan dengan rumah tangga sederhana agar bisa dijadikan alasan pemilu ditunda. Jangan cengeng dan takut menghadapi wajah-wajah rakyat yang polos bahkan terkesan permisif, karena rakyat tahu kapan waktu yang tepat untuk melawan tirani ataupun tanda-tanda kemunculannya (lagi).
Jika toh mungkin bisa terjadi mirip, innalilahi wa innailaihi rajiun. Semoga Allah SWT menjaga keselamatan Tanah Air dan segenap rakyat Negara +62 dan semoga ancaman pandemi tirani tidak merebak di Negara -62.
(bmm)
Lihat Juga :