Arifin Panigoro, Perantau dan Pengusaha Hebat
Senin, 28 Februari 2022 - 21:00 WIB
loading...
A
A
A
Panigoro & Paramadina
Apa hubungan Arifin Panigoro dan Paramadina? Ini tidak banyak diketahui orang dan sebenarnya tidak terlalu penting bagi umum. Namun sebagai Rektor Universitas Paramadina dan dalam rangka mengenang pengusaha hebat ini, maka tidak ada salahnya kisah ini dikenang kembali.
Hubungan itu dimulai dari masa pascareformasi, di mana sekelompok aktivis seperti Sudirman Said, Erry Riyana bersama Arifin Panigoro dkk hendak mencari sosok pemimpin yang antikorupsi dengan rekam jejak yang jelas. Berdasarkan pemikiran dan mungkin penerawangan para aktivis ini, maka sosok Nurcholish Madjid lah yang cocok menjadi pemimpin itu. Karena itu, kelompok ini kemudian "berkampanye" mencalonkan Nurcholish Madjid sebagai calon presiden era reformasi.
Kiprah Arifin tentu saja wajar karena dialah aktor di dalam reformasi tersebut, sehingga terpikir untuk menemukan sosok antitesis dari tokoh-tokoh Orde Baru. Gerakan tersebut sempat bergema, tetapi akhirnya padam dengan sendirinya karena Cak Nur tidak punya "gizi".
Istilah "gizi" ini diceritakan Cak Nur ketika datang ke partai diejek: "dari mana gizinya cak?" Cerita dalam maknanya karena sampai sekarang politik memang masih "belepotan" dengan politik uang.
Seperti diketahui, Nurcholish Madjid adalah pendiri dan sekaligus sebagai Universitas Paramadina yang pertama. Komarudin Hidayat adalah Ketua Umum Yayasan Paramadina. Ada juga tokoh sahabat Cak Nur, yaitu Sudirman Said yang sempat menjadi pejabat Rektor Universitas Paramadina setelah Cak Nur wafat. Dari sini hubungan Arifin Panigoro dengan Paramadina begitu dekat, bahkan dengan murid-murid Cak Nur, seperti Komarudin Hidayat, Didik Rachbini, Fachry Ali, dan lainnya.
Apa hubungan Arifin Panigoro dan Paramadina? Ini tidak banyak diketahui orang dan sebenarnya tidak terlalu penting bagi umum. Namun sebagai Rektor Universitas Paramadina dan dalam rangka mengenang pengusaha hebat ini, maka tidak ada salahnya kisah ini dikenang kembali.
Hubungan itu dimulai dari masa pascareformasi, di mana sekelompok aktivis seperti Sudirman Said, Erry Riyana bersama Arifin Panigoro dkk hendak mencari sosok pemimpin yang antikorupsi dengan rekam jejak yang jelas. Berdasarkan pemikiran dan mungkin penerawangan para aktivis ini, maka sosok Nurcholish Madjid lah yang cocok menjadi pemimpin itu. Karena itu, kelompok ini kemudian "berkampanye" mencalonkan Nurcholish Madjid sebagai calon presiden era reformasi.
Kiprah Arifin tentu saja wajar karena dialah aktor di dalam reformasi tersebut, sehingga terpikir untuk menemukan sosok antitesis dari tokoh-tokoh Orde Baru. Gerakan tersebut sempat bergema, tetapi akhirnya padam dengan sendirinya karena Cak Nur tidak punya "gizi".
Istilah "gizi" ini diceritakan Cak Nur ketika datang ke partai diejek: "dari mana gizinya cak?" Cerita dalam maknanya karena sampai sekarang politik memang masih "belepotan" dengan politik uang.
Seperti diketahui, Nurcholish Madjid adalah pendiri dan sekaligus sebagai Universitas Paramadina yang pertama. Komarudin Hidayat adalah Ketua Umum Yayasan Paramadina. Ada juga tokoh sahabat Cak Nur, yaitu Sudirman Said yang sempat menjadi pejabat Rektor Universitas Paramadina setelah Cak Nur wafat. Dari sini hubungan Arifin Panigoro dengan Paramadina begitu dekat, bahkan dengan murid-murid Cak Nur, seperti Komarudin Hidayat, Didik Rachbini, Fachry Ali, dan lainnya.
Lihat Juga :