Bisikan Prabowo ke Soeharto Buat Jenderal Kopassus Ini Terjungkal dari Istana
Kamis, 24 Februari 2022 - 06:05 WIB
loading...
A
A
A
Kemarahan Jenderal Benny Moerdani tak terbendung, Prabowo lantas dikeluarkan dari korps baret merah Kopassus ke korps baret hijau Kostrad menjadi Kepala Staf KODIM (Kasdim), jabatan buangan anggota Kopassus. Sebelum dibuang, Prabowo menjabat Wakil Komandan Detasemen 81-pasukan elite Kopassus spesial antiteror yang dibentuk bersama Letkol Luhut Panjaitan. Atas apa yang Prabowo alami, ia dikabarkan menjadi sangat benci terhadap Benny Moerdani.
Jika Prabowo pernah tersingkir oleh Benny Moerdani, maka selanjutnya Prabowo menjadi semakin hati-hati dengan langkah yang ia ambil. Tercermin dalam pelbagai pertemuan di tahun 1985 misalnya, ketika itu Mayor Prabowo bertemu dengan koleganya sesama perwira menengah seperti Mayor Kivlan Zen, Mayor Ismed Yuzairi, Mayor Sjafrie Sjamsoeddin, dan Mayor Glen Kairupan di rumah Prabowo di Lembang Bandung. Dalam pertemuan itu, menurut Kivlan Zen, Prabowo kerap berkata bisik-bisik dan penuh kekhawatiran.
Karir Jenderal Benny Moerdani tidak saja digoyah oleh Prabowo, tapi beberapa statemen dan langkah yang ia ambil sendiri justru menjadi penentu nasibnya. Disebutkan, suatu kali ketika Pak Harto dan Benny sedang main biliar berdua, Benny mengatakan sesuatu yang membuat Pak Harto sangat tersinggung.
Benny berkata jika untuk menjaga keamanan pribadi Presiden, memang sudah cukup satu batalion Paspampres. Tapi, untuk pengamanan politik Presiden mutlak harus didukung oleh keterlibatan keluarga dan Presiden sendiri. Setelah mendengar ucapan yang demikian, Pak Harto lantas masuk kamar tidur. Maksud di balik "teguran" Benny ini adalah berkenaan dengan sepak terjang anak-anak Soeharto di bidang bisnis.
Ikhwal mengenai keberanian Benny dalam "menegur", mengutarakan hal-hal sensitif kepada pribadi Presiden Soeharto tidak cukup sampai di situ. Menurut versi Sudomo yang pernah menjabat Wapangab/Pangkopkamtib Laksamana Sudomo, Benny Moerdani pernah menyampaikan saran kepada Soeharto untuk mempertimbangkan pengunduran diri secara sukarela, karena 20 tahun adalah masa periode yang terlampau lama. Baca juga: Hanya Mimpi Jadi Kapten, Putera Blora Ini Melambung Jadi Jenderal Kepercayaan Soeharto
Menjelang Sidang Umum (SU) MPR 1988, Soeharto mencium upaya dan kabar bahwa Pangab Jenderal Benny Moerdani sangat berambisi menjadi wakil presiden. Rencana dan siasat pun dijalankan, termasuk menjadikan Fraksi ABRI di MPR lokomotif yang mendukung dirinya.
Tak terduga, menjelang SU Presiden Soeharto melakukan percepatan penggantian Panglima ABRI dari Jenderal Benny Moerdani kepada Jenderal Tri Sutrisno. Pergantian mendadak yang menggagalkan ambisi Benny Moerdani ini tidak lain atas informasi yang diberika Prabowo sebagai rivalnya kepada Presiden Soeharto.
Jika Prabowo pernah tersingkir oleh Benny Moerdani, maka selanjutnya Prabowo menjadi semakin hati-hati dengan langkah yang ia ambil. Tercermin dalam pelbagai pertemuan di tahun 1985 misalnya, ketika itu Mayor Prabowo bertemu dengan koleganya sesama perwira menengah seperti Mayor Kivlan Zen, Mayor Ismed Yuzairi, Mayor Sjafrie Sjamsoeddin, dan Mayor Glen Kairupan di rumah Prabowo di Lembang Bandung. Dalam pertemuan itu, menurut Kivlan Zen, Prabowo kerap berkata bisik-bisik dan penuh kekhawatiran.
Karir Jenderal Benny Moerdani tidak saja digoyah oleh Prabowo, tapi beberapa statemen dan langkah yang ia ambil sendiri justru menjadi penentu nasibnya. Disebutkan, suatu kali ketika Pak Harto dan Benny sedang main biliar berdua, Benny mengatakan sesuatu yang membuat Pak Harto sangat tersinggung.
Benny berkata jika untuk menjaga keamanan pribadi Presiden, memang sudah cukup satu batalion Paspampres. Tapi, untuk pengamanan politik Presiden mutlak harus didukung oleh keterlibatan keluarga dan Presiden sendiri. Setelah mendengar ucapan yang demikian, Pak Harto lantas masuk kamar tidur. Maksud di balik "teguran" Benny ini adalah berkenaan dengan sepak terjang anak-anak Soeharto di bidang bisnis.
Ikhwal mengenai keberanian Benny dalam "menegur", mengutarakan hal-hal sensitif kepada pribadi Presiden Soeharto tidak cukup sampai di situ. Menurut versi Sudomo yang pernah menjabat Wapangab/Pangkopkamtib Laksamana Sudomo, Benny Moerdani pernah menyampaikan saran kepada Soeharto untuk mempertimbangkan pengunduran diri secara sukarela, karena 20 tahun adalah masa periode yang terlampau lama. Baca juga: Hanya Mimpi Jadi Kapten, Putera Blora Ini Melambung Jadi Jenderal Kepercayaan Soeharto
Menjelang Sidang Umum (SU) MPR 1988, Soeharto mencium upaya dan kabar bahwa Pangab Jenderal Benny Moerdani sangat berambisi menjadi wakil presiden. Rencana dan siasat pun dijalankan, termasuk menjadikan Fraksi ABRI di MPR lokomotif yang mendukung dirinya.
Tak terduga, menjelang SU Presiden Soeharto melakukan percepatan penggantian Panglima ABRI dari Jenderal Benny Moerdani kepada Jenderal Tri Sutrisno. Pergantian mendadak yang menggagalkan ambisi Benny Moerdani ini tidak lain atas informasi yang diberika Prabowo sebagai rivalnya kepada Presiden Soeharto.
Lihat Juga :