Kembali ke Akar, Memelihara Daun
Senin, 14 Februari 2022 - 11:53 WIB
loading...
A
A
A
Identitias manusia juga begitu. Kadangkala terlihat, seringkali tersembunyi seperti akar di tanah. Tetapi identitas tetap banyak. Kadangkala sudah dewasa pun masih mengharap identitas lain.
Inilah jati diri pohon, dan juga jati diri manusia. Keduanya sama kompleksnya. Lebih rumit lagi bagi manusia, karena tidak pasif dan selalu bergerak dan tumbuh. Manusia tidak statis, tetapi berpindah-pindah, dari keyakinan, ideologi, pendidikan, karir dan pergaulan. Identitas manusia berubah-ubah. Inilah dasar dari inklusifivisme dan kebhinekaan. Kembali lagi pada unsur pohon.
Akar menopang tanaman, tanpa akar tanaman tidak hidup. Tetapi tanaman memerlukan daun untuk menarik energi matahari guna proses fotosintesis. Batang juga menopang dan menyaurlan makanan dari bawah dan atas. Ranting-ranting memberi tempat pada daun. Bahkan oranisme diluar diri pohon, juga berperan dalam kehidupan tanaman.
Manusia tak ubahnya juga begitu. Memperhatikan identitas dasar juga penting, mempertanyakan siapa kita menjadi bahan perenungan dan panduan hidup: iman, kedaerahan, kebangsaan, pandangan hidup, pilihan politik.
Tetapi jangan lupa bahwa kehidupan manusia bak dahan, ranting, daun yang terbuka dengan segala persentuhan di luar kita. Daun-daun tergantung sinar matahari. Ranting dan pohon di luar dan bisa tumbuh karena banyak asupan dari bawah dan dari atas.
Daun-daun berfotosintesis karena persentuhan dengan alam luas, melihat langit, melihat bintang di malam hari, dan diterpa angin dan hujan. Kehidupan manusia tak ubahnya begitu. Semua faktor di luar dirinya juga penting selain dari dirinya sendiri, daerahnya, bahasanya, dan kepercayaannya.
Manusia hidup di dunia, menerima kehidupan dari alam luas, baik manusia atau bukan manusia. Manusia terbuka dan harus membuka diri bak pohon-pohon di hutan, sawah, pinggir sungai dan pantai. Kehidupan harus cair, terbuka, dan luas.
Inilah jati diri pohon, dan juga jati diri manusia. Keduanya sama kompleksnya. Lebih rumit lagi bagi manusia, karena tidak pasif dan selalu bergerak dan tumbuh. Manusia tidak statis, tetapi berpindah-pindah, dari keyakinan, ideologi, pendidikan, karir dan pergaulan. Identitas manusia berubah-ubah. Inilah dasar dari inklusifivisme dan kebhinekaan. Kembali lagi pada unsur pohon.
Akar menopang tanaman, tanpa akar tanaman tidak hidup. Tetapi tanaman memerlukan daun untuk menarik energi matahari guna proses fotosintesis. Batang juga menopang dan menyaurlan makanan dari bawah dan atas. Ranting-ranting memberi tempat pada daun. Bahkan oranisme diluar diri pohon, juga berperan dalam kehidupan tanaman.
Manusia tak ubahnya juga begitu. Memperhatikan identitas dasar juga penting, mempertanyakan siapa kita menjadi bahan perenungan dan panduan hidup: iman, kedaerahan, kebangsaan, pandangan hidup, pilihan politik.
Tetapi jangan lupa bahwa kehidupan manusia bak dahan, ranting, daun yang terbuka dengan segala persentuhan di luar kita. Daun-daun tergantung sinar matahari. Ranting dan pohon di luar dan bisa tumbuh karena banyak asupan dari bawah dan dari atas.
Daun-daun berfotosintesis karena persentuhan dengan alam luas, melihat langit, melihat bintang di malam hari, dan diterpa angin dan hujan. Kehidupan manusia tak ubahnya begitu. Semua faktor di luar dirinya juga penting selain dari dirinya sendiri, daerahnya, bahasanya, dan kepercayaannya.
Manusia hidup di dunia, menerima kehidupan dari alam luas, baik manusia atau bukan manusia. Manusia terbuka dan harus membuka diri bak pohon-pohon di hutan, sawah, pinggir sungai dan pantai. Kehidupan harus cair, terbuka, dan luas.
(poe)