Meneroka Batjaan Liar

Sabtu, 05 Februari 2022 - 08:11 WIB
loading...
A A A
Kemudian, Razif memberi komentar bahwa A Teeuw tidak mengerti betul bagaimana bahasa Melayu Pasar menjadi bahasa paling komunikatif untuk menjelaskan kontradiksi-kontradiksi kolonial. Dengan bahasa Melayu Pasar, gagasan sosialisme dengan berbagai seruan pembaruan-perubahan mudah diterima dan dicerna rakyat jajahan. Kesamaan bahasa membuat segenap rakyat gampang paham dan saling terikat erat. Mereka pun terhubung secara komunikatif lewat bahasa.

Perihal bahasa dari batjaan liar, yang bila dibandingkan dengan Balai Poestaka, Razif menulis, “Sulit bagi Balai Poestaka yang ‘halus’ dan ‘lembut’¾karena senantiasa disensor dan dipaksa bersuara dalam bahasa Melayu Tinggi yang terbatas¾untuk bersuara di tengah dunia pergerakan yang ‘keras dan garang’”. Bahasa digunakan untuk bersaing dan berebut pengaruh, dari masa ke masa. Pengarang-pengarang masa silam tentu mesti pintar mengolah dan mempermainkan bahasa agar terjalin komunikasi yang efektif.

Para penulis pergerakan, penerbit, dan pembacanya menjalin ikatan (politik) yang kuat. Ekosistem peredaran bacaan ini nyata terbentuk, hingga kemudian gagasan bangsa yang dibayangkan (imagined community) benar-benar di benak. Struktur produksi, distribusi, dan konsumsinya lebih dekat dengan kehidupan para pembacanya, yang tak dapat dipisahkan dari perkumpulan atau partai politik yang disuarakannya.

Ini mengindikasikan, bacaan liar termasuk instrumen penting di tengah zaman yang sedang bergerak dan bergolak. Bacaan tidak bisa absen guna penyadaran dan penyebar-luasan wacana. Razif menulis, “produk dan penyebaran bacaan merupakan hal pokok dari pergerakan¾sebagai pengikat dan roda penggerak mesin sosial demokrasi”. Keberadaan literatur adalah hal yang pokok selain pidato, rapat umum, agitasi, berita, visi-misi, dan lain-lain. Bacaan memang terasa propagandis dan mengandung misi politis demi¾dan pada zaman¾“kemadjoean” di tanah jajahan.

Produksi bacaan liar lebih ditujukan kepada para pembaca, khususnya kaoem kromo, untuk berbicara tentang banyak hal dengan kata-kata baru yang mampu menyihir, seperti “kapitalisme”, “beweging”, “vergadering”, “imperialisme”, “staking” dan “internasionalisme”. Dengan ini, bacaan liar berisi istilah-istilah revolusioner, memantik perlawanan dan perubahan. Pelbagai bacaan tersebut menjadi medium menggaungkan gagasan ketidakadilan yang terjadi bahkan mengakar di Hindia Belanda, baik persoalan rasialisme, penindasan, perampasan hak, penyedotan tenaga kerja, korupsi, dan masih banyak lagi.

Beberapa contoh bacaan liar termasuk Hikajat Kadiroen-nya Semaoen, Rasa Mardika-nya Soemantri, Parlement atau Soviet-nya Tan Malaka, Student Hidjo dan Sjair Rempah-rempah-nya Marco Kartodikromo, Penoentoen Kaoem Boeroeh-nya Semaoen, Apa Maoenja Kaoem Koemunist, Kaoem Merah, Ma’loemat Kommunist India, serta Soerat Terboeka Kepada Kaoem Intellect atau Kaoem Terpeladjar, dan lain-lain.

Meski masing-masing penulis memiliki perbedaan latar belakang, Razif menyebut semua isi naskah bacaan liar, “melukiskan situasi pergerakan dan memantulkan harapan-harapan masa depan tanah airnya.” Sekian tulisan juga mengandung penglihatan-penafsiran baru atas realitas dunia, sebagai dampak dari gelombang pasang pemikiran modern yang menerpa Hindia-Belanda. Demikian pula, bacaan-bacaan ini menolak gagasan dan norma lama yang kolot.

Satu di antara tokoh yang wajib dibahas mengenai bacaan liar, adalah Marco Kartodikromo. Tokoh bacaan liar yang berpegang teguh pada prinsip “berani karena benar takut karena salah” ini, bisa dibilang ikonik, dan patut untuk diperhitungkan. Razif rupanya sempat menulis ulasan panjang tentang Marco Kartodikromo di majalah Prisma edisi September 1991.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengelola Sawit untuk...
Mengelola Sawit untuk Indonesia yang Kuat
Mengenal System Shift,...
Mengenal System Shift, Kerangka Baru Membaca Perubahan Dunia
Mudiruna, Kisah Ulama...
Mudiruna, Kisah Ulama Cahaya dari Rumah Sederhana
Bukan Motivasi Kosong,...
Bukan Motivasi Kosong, Positivo Theory Jadi Panduan Nyata Anak Muda Bangun Masa Depan
Rustini Muhaimin Tekankan...
Rustini Muhaimin Tekankan Budaya Literasi dengan Gerakan Membaca
Prosumenesia: Era Baru...
Prosumenesia: Era Baru Konsumen Jadi Produsen Digital
Buku “Misi untuk Raka”...
Buku Misi untuk Raka Diluncurkan, Edukasi Anak Usia Dini agar Seru Tanpa Gawai
Berani Sehat, Tak Perlu...
Berani Sehat, Tak Perlu Takut Kuman
3 Manfaat Membacakan...
3 Manfaat Membacakan Buku untuk Anak: Asah Kemampuan Komunikasi, Emosi, dan Imajinasi
Rekomendasi
2 Pemain Timnas Putri...
2 Pemain Timnas Putri Palestina Diculik Israel, FIFA Tutup Mata
Hasil Indonesia Open...
Hasil Indonesia Open 2026: Jonatan Sikat Alwi, Jafar/Felisha Kalah
Latihan Kaki Tak Hanya...
Latihan Kaki Tak Hanya Bakar Kalori, Ternyata Penting untuk Keseimbangan Hormon
Berita Terkini
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
ASPEK Indonesia Temui...
ASPEK Indonesia Temui Pimpinan UNI Global Union di Jenewa
Infografis
Fotografer Satwa Liar...
Fotografer Satwa Liar Temukan Penguin Albino yang Sangat Langka
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved