Enggan Tilik Diri Lagi
Sabtu, 05 Februari 2022 - 07:56 WIB
loading...
A
A
A
Dari trianggolo Pancasilais itu, terekam tugas maraton. UKP-BPIP menyanggupi konten atau materi ajar. Tim UKP-BPIP akan obrak-abrik (clearing house) terhadap materi ajar Pancasila selama ini yang menyimpang. Mereka berujar, selama ini terjadi kecenderungan materi ajar kaku, kering, dan bersifat jiplakan dari sumber atau referensi yang kurang valid dan tepercaya. Kilah mereka, padahal Pancasila menjadi mata pelajaran wajib di sekolah dan perguruan tinggi.
Pihak kementerian mendapat jatah teknis, berarti ada juklak-juknis hingga legalisasi surat keputusan nasional. Padahal bidikannya tahun silam akademik 2017-2018 harus dimulai. Trianggolo Pancasilais tersebut merencanakan peluncuran program spektakuler di Istana Bogor, pada 13-14 Agustus, menjelang HUT Kemerdekaan RI tahun 2017. Gerangan apa untuk momentum 2022 kini?
Nah! Titik inilah tagihan buat para pelakon literasi. Mana gaung dan kiprahnya? Mungkinkah kitab Makrifat Pagi, Percik Embun Spiritualitas di Terik Republik dan undur diri Bung Yudi dari ketua BPIP menjadi solusi?
Promosi trianggolo Pancasilais itu kembali pincang. Muncullah introspeksi sekaligus refleksi bersama. Dunia pembelajaran dan pengajaran, pendidikan dan perbukuan langsung terkena getahnya. Pertama, kurikulum yang bermuatan Pancasila dan perangkatnya terbaru ini dianggap rekayasa dan permainan proyek negara.
Kedua, buku teks siswa dan buku guru yang diperjuangkan dengan penilaian PUSKURBUK dianggap cacat moral. Ketiga, buku referensi atau pendamping yang lulus penilaian masih lemah kualitas. Keempat, kaum pendidik anak bangsa sebagai penghela siswa masih jauh harapan.
Mengapa kita selalu tertatih menyambut gagasan mulia? Mengapa enggan tilik diri dan sudi tersisih seperti nasib pendidikan karakter, pendidikan ekonomi kreatif, pendidikan antikorupsi, pendidikan antinarkoba, pun pendidikan maritim, pendidikan bahari? Inikah cermin dan kiprah karakter madya anak-anak bangsa kita? Cukupkah berhenti di predikat puas berkarakter madya? *
Pihak kementerian mendapat jatah teknis, berarti ada juklak-juknis hingga legalisasi surat keputusan nasional. Padahal bidikannya tahun silam akademik 2017-2018 harus dimulai. Trianggolo Pancasilais tersebut merencanakan peluncuran program spektakuler di Istana Bogor, pada 13-14 Agustus, menjelang HUT Kemerdekaan RI tahun 2017. Gerangan apa untuk momentum 2022 kini?
Nah! Titik inilah tagihan buat para pelakon literasi. Mana gaung dan kiprahnya? Mungkinkah kitab Makrifat Pagi, Percik Embun Spiritualitas di Terik Republik dan undur diri Bung Yudi dari ketua BPIP menjadi solusi?
Promosi trianggolo Pancasilais itu kembali pincang. Muncullah introspeksi sekaligus refleksi bersama. Dunia pembelajaran dan pengajaran, pendidikan dan perbukuan langsung terkena getahnya. Pertama, kurikulum yang bermuatan Pancasila dan perangkatnya terbaru ini dianggap rekayasa dan permainan proyek negara.
Kedua, buku teks siswa dan buku guru yang diperjuangkan dengan penilaian PUSKURBUK dianggap cacat moral. Ketiga, buku referensi atau pendamping yang lulus penilaian masih lemah kualitas. Keempat, kaum pendidik anak bangsa sebagai penghela siswa masih jauh harapan.
Mengapa kita selalu tertatih menyambut gagasan mulia? Mengapa enggan tilik diri dan sudi tersisih seperti nasib pendidikan karakter, pendidikan ekonomi kreatif, pendidikan antikorupsi, pendidikan antinarkoba, pun pendidikan maritim, pendidikan bahari? Inikah cermin dan kiprah karakter madya anak-anak bangsa kita? Cukupkah berhenti di predikat puas berkarakter madya? *
(hdr)
Lihat Juga :