Nekat! Kolonel Pentolan Intelijen Ini Berani Lawan Sepupunya yang Berpangkat Jenderal
Minggu, 09 Januari 2022 - 05:29 WIB
loading...
Tak ada yang meragukan sepak terjang Kolonel Zulkifli Lubis dalam dunia intelijen Indonesia. Tak main-main, dia dijuluki sebagai Bapak Intelijen Indonesia. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Tak ada yang meragukan sepak terjang Kolonel Zulkifli Lubis dalam dunia intelijen Indonesia. Tak main-main, dia dijuluki sebagai Bapak Intelijen Indonesia.
Namun, perjalanan hidup Zulkifli Lubis di dunia militer sangat berliku. Jebolan terbaik Pembela Tanah Air (Peta) ini tercatat tak selalu sejalan dengan pemerintah.
Baca juga: Kisah Letda Sanurip, Snipper Kopassus yang Tembak Mati 11 Rekannya di Timika
Bahkan, Lubis berseberangan dengan saudara sepupunya yang seorang tokoh militer, Jenderal Abdul Haris (AH) Nasution. Tak tanggung-tanggung, perseteruan keduanya melahirkan pergolakan politik di Tanah Air maupun di tubuh TNI.
Dikutip dari buku "Zulkifli Lubis, Bapak Intelijen Indonesia, Sabtu (8/1/2022), dikisahkan hubungan Zulkifli Lubis dan AH Nasution cukup aneh. Secara pribadi, keduanya saudara sepupu. Keduanya sama-sama muslim yang taat, sederhana, konstitusionalis, antikorupsi, dan antikomunis.
Alih-alih saling mendukung, hubungan Lubis dan Nasution kerap berlawanan. Disebutkan, kerusuhan-kerusuhan politik pada 1950-an sering kali bermuara pada konflik Lubis dan Nasution.
Ditengarai perbedaan asal pendidikan di militer menjadi penentu mereka selalu berseberangan. Lubis didikan Peta sedangkan Nasution jebolan KNIL (Tentara Kerjaaan Hindia Belanda).
"Kebetulan kalau dengan saya, tidak pernah cocok. Saya termasuk yang diinteli terus," ujar Nasution.
Namun, Lubis selalu punya argumen untuk mementah pernyataan-pernyataan Nasution. Dalam catatan harian Rosihan Anwar, Lubis pernah mengatakan bahwa Nasution benar-benar cuma alat pemerintah belaka.
"Bapak bilang, Nasution itu lemah," kata Furqan Lubis, anak keenam Zulkifli Lubis.
Sebaliknya, Nasution memandang Lubis sebagai penyulut utama dari oposisi melawan dirinya di kalangan Angkatan Darat. "Kami berseberangan sejak masa Yogya (selama revolusi)," tutur Nasution seperti dikutip Audrey Kahn dalam Dari Pemberontakan ke Integrasi.
"Dia masih mempunyai orang-orang dari masa ini dan masih mempunyai hubungan dengan panglima-panglima daerah. Beberapa orang di SSKAD (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat) di Bandung sangat dekat dengan Lubis, sebagian sebelumnya adalah orang-orangnya. Sumual (kemudian memimpin pemberontakan di Sulawan) dilatih di sana."
Perseteruan itu kembali pecah pada Peristiwa 17 Oktober 1952 yang mendesak pembubaran Parlemen, tetapi ditolak Presiden Soekarno. Nasution, yang dianggap otak di balik peristiva ini, kemudian mengundurkan diri sebagai KSAD.
Posisinya kemudian digantikan Bambang Sugeng. Hal itu menyebabkan terjadinya krisis di tubuh Angkatan Darat dan baru bisa diselesaikan dalam forum rekonsiliasi di Yogyakarta pada Februari 1955. Namun pergantian kepemimpinan di tubuh AD masih saja bergolak.
Pengangkatan Bambang Utoyo sebagai KSAD mendapat penolakan dari sebagian bear perwira Angkatan Darat. Nasution akhirnya kembali menduduki jabatan itu. Lubis menjadi wakilnya dan harus menyerahkan tongkat komando, sebagai Pj KSAD, jabatan yang kosong kepada Nasution.
Namun, perjalanan hidup Zulkifli Lubis di dunia militer sangat berliku. Jebolan terbaik Pembela Tanah Air (Peta) ini tercatat tak selalu sejalan dengan pemerintah.
Baca juga: Kisah Letda Sanurip, Snipper Kopassus yang Tembak Mati 11 Rekannya di Timika
Bahkan, Lubis berseberangan dengan saudara sepupunya yang seorang tokoh militer, Jenderal Abdul Haris (AH) Nasution. Tak tanggung-tanggung, perseteruan keduanya melahirkan pergolakan politik di Tanah Air maupun di tubuh TNI.
Dikutip dari buku "Zulkifli Lubis, Bapak Intelijen Indonesia, Sabtu (8/1/2022), dikisahkan hubungan Zulkifli Lubis dan AH Nasution cukup aneh. Secara pribadi, keduanya saudara sepupu. Keduanya sama-sama muslim yang taat, sederhana, konstitusionalis, antikorupsi, dan antikomunis.
Alih-alih saling mendukung, hubungan Lubis dan Nasution kerap berlawanan. Disebutkan, kerusuhan-kerusuhan politik pada 1950-an sering kali bermuara pada konflik Lubis dan Nasution.
Ditengarai perbedaan asal pendidikan di militer menjadi penentu mereka selalu berseberangan. Lubis didikan Peta sedangkan Nasution jebolan KNIL (Tentara Kerjaaan Hindia Belanda).
"Kebetulan kalau dengan saya, tidak pernah cocok. Saya termasuk yang diinteli terus," ujar Nasution.
Namun, Lubis selalu punya argumen untuk mementah pernyataan-pernyataan Nasution. Dalam catatan harian Rosihan Anwar, Lubis pernah mengatakan bahwa Nasution benar-benar cuma alat pemerintah belaka.
"Bapak bilang, Nasution itu lemah," kata Furqan Lubis, anak keenam Zulkifli Lubis.
Sebaliknya, Nasution memandang Lubis sebagai penyulut utama dari oposisi melawan dirinya di kalangan Angkatan Darat. "Kami berseberangan sejak masa Yogya (selama revolusi)," tutur Nasution seperti dikutip Audrey Kahn dalam Dari Pemberontakan ke Integrasi.
"Dia masih mempunyai orang-orang dari masa ini dan masih mempunyai hubungan dengan panglima-panglima daerah. Beberapa orang di SSKAD (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat) di Bandung sangat dekat dengan Lubis, sebagian sebelumnya adalah orang-orangnya. Sumual (kemudian memimpin pemberontakan di Sulawan) dilatih di sana."
Perseteruan itu kembali pecah pada Peristiwa 17 Oktober 1952 yang mendesak pembubaran Parlemen, tetapi ditolak Presiden Soekarno. Nasution, yang dianggap otak di balik peristiva ini, kemudian mengundurkan diri sebagai KSAD.
Posisinya kemudian digantikan Bambang Sugeng. Hal itu menyebabkan terjadinya krisis di tubuh Angkatan Darat dan baru bisa diselesaikan dalam forum rekonsiliasi di Yogyakarta pada Februari 1955. Namun pergantian kepemimpinan di tubuh AD masih saja bergolak.
Pengangkatan Bambang Utoyo sebagai KSAD mendapat penolakan dari sebagian bear perwira Angkatan Darat. Nasution akhirnya kembali menduduki jabatan itu. Lubis menjadi wakilnya dan harus menyerahkan tongkat komando, sebagai Pj KSAD, jabatan yang kosong kepada Nasution.
Lihat Juga :