Nekat! Kolonel Pentolan Intelijen Ini Berani Lawan Sepupunya yang Berpangkat Jenderal

Minggu, 09 Januari 2022 - 05:29 WIB
loading...
A A A
Lubis diketahui sedang berada di rumah Kolonel Prajitno, Asisten I MBAD di Cideng ketika Peristiwa Cikini terjadi. Lubis mengetahuinya lewat radio. Sabtu 30 November 1957 malam itu, Sekolah Rakjat Yayasan Perguruan Tjikini sedang merayakan hari jadi ke-15. Bertajuk malam amal, diadakan pertunjukan seni, pameran dan lelang.

Presiden RI pertama Soekarno hadir selaku orangtua murid. Kebetulan Guntur dan Megawati bersekolah di sana. Pamit meninggalkan acara, Soekarno berjalan menuju mobil Chrysler Crown Imperial. Tak lama suara ledakan terdengar memecah suasana.

Awalnya banyak yang mengira ledakan ban. Tak berselang lama terdengar ledakan kedua. Sontak orang-orang yang menghadiri acara itu menjadi panik. Pasalanya, anak-anak, ibu-ibu, hingga pria dewasa menjadi korban. Soekarno selamat lantaran kesigapan Ngationo, salah seorang pengawalnya.

"Ngationo telah menjadikan dirinya sebagai perisai dan merangkul Bung Karo sebelum granat yang jatuh di dekatnya meledak sehingga pecahan-pecahan granat yang menuju ke arah Bung Karno telah mengenai badan dan bagian kepala Ngationo," tulis surat kabar Merdeka, 2 Desember 1957.

Setibanya di Istana, Soekarno langsung menyampaikan pidato serangan bom tersebut. Ia meminta masyarakat tetap tenang. "Tetap tenang sambil memperhebat kewaspadaan nasional. Mari kita tetap bersatu dalam suka dan duka!"

Lubis setelah satu jam langsung mengetahui pelakunya. Lubis mendapat informasi dari Ibrahim Saleh, ketua asrama pemuda Sumbawa di Gang Ampiun yang langsung datang memberitahukannya. Menyusul kemudian Jusuf Ismail, yang bersama tiga temannya, Saadon bin Mohammad, Tasrif bin Husein, dan Moh Tasin bin Abubakar melakukan aksi penggranatan.

Lubis pun bisa menebak bahwa dirinya akan dituduh menjadi dalang Peristiwa Cikini. Terlebih dia berstatus sebagai buron setelah percobaan kudeta pada 1956. Dia memilih
melarikan diri ke Sumatera. Prediksi Lubis benar. KSAD Nasution dan orang kepercayaannya, Letkol Sukendro mencapnya sebagai otak di balik penggranatan itu.

Tak butuh waktu lama, pelaku penggranatan berhasil diidentifikasi oleh militer. Dipimpin Komandan Komando Militer Kota Besar Djakarta Raya Mayor Dachjar, para pelaku penghuni asrama Sumbawa langsung ditangkap.

Keempat pelaku kemudian divonis hukuman mati. "Sebab utama begitu cepatnya pelaku Peristiwa Cikini ditangkap adalah pengkhianatan seorang penghuni asrama Sumbawa itu," tulis Peter Kasenda.

Para pelaku penggranatan memang kenal dekat dengan Lubis. Mereka menganggap Lubis tokoh penting yang sejalan, "ketua" penentang Soekarno. Dalam pandangan mereka, Soekarno merupakan pelindung komunis dan penghambat perkembangan Islam. Mereka kerap bertemu dan berdiskusi. Tetapi Lubis kerap berpesan agar tak menggunakan kekerasan dalam mewuijudkan cita-cita.

"Saya memang kenal orang-orangnya. Tersangkut boleh saja. Tapi kalau saya dikatakan menyuruh mereka, itu sangat keliru sama sekali," tegas Lubis.

Baca juga: Prabowo dan Luhut, 2 Bintang Kopassus Dipercaya LB Moerdani Dirikan Detasemen Antiteror

Hingga hari ini, peran Lubis tak diketahui pasti dalam Peristiwa Cikini. Lubis diketahui hanya kenal secara pribadi dengan para pelaku. Hubungan struktural formal Lubis dan para pelaku tak pernah terbukti. Apalagi perintah tertulis atau lisan untuk melakukan perlawanan dengan kekerasan hingga memakan korban jiwa.

Lubis tak pernah duduk di pesakitan. Permintaannya kepada jaksa agung agar tuduhan keterlibatannya dalam Peristiwa Cikini diperiksa, tak pernah ditanggapi. "Masalah itu sudah selesai," jawab pihak pemerintah sebagaimana ditulis R Leiressa dalam PRRI Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunisme.
(kri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pangdivif 1 Kostrad...
Pangdivif 1 Kostrad Mayjen TNI Fikri Musmar Pimpin Sertijab Danyonkav 1 Kostrad
750 Yonif Teritorial...
750 Yonif Teritorial Pembangunan, Strategi TNI Menghadapi Ancaman Baru
Ryamizard Ryacudu Meninggal...
Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia, TNI AD Berduka: Pengabdiannya Inspirasi bagi Prajurit
Soal Film Pesta Babi,...
Soal Film Pesta Babi, TNI AD: Kami Tak Antikritik, tapi Kritik Harus Berdasarkan Data dan Fakta
TNI AD Turun Perkuat...
TNI AD Turun Perkuat Patroli Antibegal, Kadispenad: Penindakan Tetap Wewenang Polisi
Serangan ke Prabowo...
Serangan ke Prabowo di Medsos Tak Organik, Pengamat Curigai Pola yang Tidak Biasa
Permukiman Prasejarah...
Permukiman Prasejarah Ditemukan di Gurun Yordania
Meski Sekutu Sejati,...
Meski Sekutu Sejati, Mengapa Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-mata Israel ke Tingkat Tertinggi?
Siapa Bill Pulte? Direktur...
Siapa Bill Pulte? Direktur Intelijen Nasional AS yang Tak Pernah Jadi Agen Rahasia
Rekomendasi
Partai Pro-Barat Menang...
Partai Pro-Barat Menang Pemilu Armenia, Pukulan Telak bagi Rusia
Begini Hasil Pertemuan...
Begini Hasil Pertemuan Dasco dan Bos Himbara, Dirut BNI: Fundamental Bagus, Tak Perlu Cemas
Bobby Nasution Dukung...
Bobby Nasution Dukung Kongres HMI ke-33 Digelar di Sumatera Utara
Berita Terkini
Tak Ada Batasan Anggota...
Tak Ada Batasan Anggota Polri Duduki Jabatan Sipil, Wamenkum Persilakan Gugat ke MK
Tokoh Nasional Ajukan...
Tokoh Nasional Ajukan Amicus Curiae, Nadiem: Dukungan Tegakkan Keadilan dan Kebenaran
Barang Bukti OTT Bupati...
Barang Bukti OTT Bupati Muara Enim, Uang Tunai hingga Rekening Senilai Rp2 M
Terungkap! 3 Modus Propaganda...
Terungkap! 3 Modus Propaganda Disintegrasi yang Membonceng Film Pesta Babi
KPK Tetapkan Bupati...
KPK Tetapkan Bupati Muara Enim Edison dan 3 Orang Lainnya Tersangka Suap dan Gratifikasi
Nadiem Berharap Divonis...
Nadiem Berharap Divonis Bebas Murni di Kasus Chromebook
Infografis
Profil Letjen TNI Robi...
Profil Letjen TNI Robi Herbawan, Ajudan Prabowo yang Jadi Kabais TNI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved