Tahun 2021, Keberhasilan Bersama Melewati Masa Paling Sulit
Selasa, 14 Desember 2021 - 15:43 WIB
loading...
A
A
A
Namun, skala kesulitan bersama akibat krisis multi dimensi 1998 jelas berbeda dengan skala kesulitan akibat krisis kesehatan sekarang. Pada krisis 1998, akar masalahnya jelas, dan rumusan jalan keluarnya pun jelas. Sedangkan pada krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19 sekarang, segala aspeknya diawali dengan ketidaktahuan.
Semua orang hanya mendapat pemberitahuan bahwa ada virus korona yang mengganggu saluran pernapasan sedang mewabah di seluruh dunia. Belum ada obatnya dan semua orang – termasuk para ahli sekali pun – tidak tahu cara atau strategi menangkal dan melumpuhkan virus ini.
Ketika menerapkan pembatasan sosial, industri farmasi memulai penelitian dan ujicoba vaksin korona. Pemberlakuan pembatasan sosial yang tidak efektif di banyak negara menyebabkan lonjakan kasus pada tingkat gobal tak terbendung. Worldometer mencatat, per 12 Desember 2021, total kasus positif Covid-19 di seluruh dunia mencapai 270.310.645 kasus, dengan total kematian 5.321.129, dan jumlah pasien sembuh 243.041.795.
Di dalam negeri, lonjakan jumlah pasien pada periode sulit itu menghadirkan tekanan teramat serius bagi layanan kesehatan di dalam negeri. Pada pekan pertama Juli 2021, pemanfaatan ruang isolasi pasien korona meningkat 76% dan penggunaan ruang ICU naik 69%. Bahkan, sejumlah kabupaten/kota mencatat tingkat hunian rumah sakit atau BOR (bed occupancy rate) pasien Covid-19 lebih dari 100%.
Karena jumlah tenaga kesehatan terbatas atau tak sebanding dengan jumlah pasien, banyak pasien tak terlayani. Gambarannya semakin mengerikan karena lonjakan jumlah pasien menyebabkan ragam alat kesehatan dan faktor penunjang lainnya menjadi langka, mulai dari APD (alat pelindung diri), obat-obatan, oksigen hingga peti jenazah
Belum lagi sejumlah tenaga kesehatan juga terpapar Covid-19. Juni 2021, beberapa organisasi tenaga kesehatan mengumumkan, tidak kurang dari 1.031 tenaga kesehatan gugur selama pandemi Covid-19. PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) mencatat 702 perawat meninggal. Sedangkan dokter yang meninggal berjumlah 545.
Namun, berkat pengabdian tak kenal dari segenap jajaran tenaga kesehatan, didukung ketegaran pemerintah bersama TNI-Polri memberlakukan pembatasan sosial, keadaan paling sulit itu secara bertahap bisa dikendalikan.
Semua orang hanya mendapat pemberitahuan bahwa ada virus korona yang mengganggu saluran pernapasan sedang mewabah di seluruh dunia. Belum ada obatnya dan semua orang – termasuk para ahli sekali pun – tidak tahu cara atau strategi menangkal dan melumpuhkan virus ini.
Ketika menerapkan pembatasan sosial, industri farmasi memulai penelitian dan ujicoba vaksin korona. Pemberlakuan pembatasan sosial yang tidak efektif di banyak negara menyebabkan lonjakan kasus pada tingkat gobal tak terbendung. Worldometer mencatat, per 12 Desember 2021, total kasus positif Covid-19 di seluruh dunia mencapai 270.310.645 kasus, dengan total kematian 5.321.129, dan jumlah pasien sembuh 243.041.795.
Di dalam negeri, lonjakan jumlah pasien pada periode sulit itu menghadirkan tekanan teramat serius bagi layanan kesehatan di dalam negeri. Pada pekan pertama Juli 2021, pemanfaatan ruang isolasi pasien korona meningkat 76% dan penggunaan ruang ICU naik 69%. Bahkan, sejumlah kabupaten/kota mencatat tingkat hunian rumah sakit atau BOR (bed occupancy rate) pasien Covid-19 lebih dari 100%.
Karena jumlah tenaga kesehatan terbatas atau tak sebanding dengan jumlah pasien, banyak pasien tak terlayani. Gambarannya semakin mengerikan karena lonjakan jumlah pasien menyebabkan ragam alat kesehatan dan faktor penunjang lainnya menjadi langka, mulai dari APD (alat pelindung diri), obat-obatan, oksigen hingga peti jenazah
Belum lagi sejumlah tenaga kesehatan juga terpapar Covid-19. Juni 2021, beberapa organisasi tenaga kesehatan mengumumkan, tidak kurang dari 1.031 tenaga kesehatan gugur selama pandemi Covid-19. PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) mencatat 702 perawat meninggal. Sedangkan dokter yang meninggal berjumlah 545.
Namun, berkat pengabdian tak kenal dari segenap jajaran tenaga kesehatan, didukung ketegaran pemerintah bersama TNI-Polri memberlakukan pembatasan sosial, keadaan paling sulit itu secara bertahap bisa dikendalikan.
Lihat Juga :