Kisah Jenderal Darah Biru Penumpas PKI Diabadikan Dudung Jadi Nama Gedung di Kodam Jaya
Minggu, 21 November 2021 - 05:30 WIB
loading...
A
A
A
Umar kembali terlibat dalam kegentingan ketika Jakarta mencekam akibat Gerakan 30 S/PKI. Tak bisa disangkal, pemulihan keamanan di Ibu Kota selama terjadi pemberontakan dan setelahnya menjadi tugas berat Kodam Jaya.
Dengan segala upaya keras Umar selaku Pangdam Jaya berhasil mempertahankan situasi keamanan Ibu Kota. Tak dimungkiri, ketika ini Umar menjadi orang terdekat Pangkostrad Soeharto dalam memadamkan Gestapu.
Karier militernya terus melesat. Berdasarkan Surat Keputusan Men/Pangad: Kep.138/12/65 tertanggal 2 Desember 1965, Mayjen TNI Umar Wirahadikusumah diangkat sebagai Pangkostrad. Dia menggantikan Letjen TNI Soeharto yang diangkat sebagai Men/Pangad.
Tak berhenti sampai di situ. Setelah periode 1969-1973 menjadi orang nomor satu di Pasukan Cakra, Umar dipercaya sebagai KSAD. Selepas dari militer, tentara yang sempat bekerja di perkebunan semasa remaja ini dipercaya Pak Harto sebagai Ketua BPK (1973-1983).
Puncak kariernya terjadi selepas dari lembaga itu. Soeharto yang kembali terpilih sebagai Presiden memilih Umar sebagai wapres. “Setelah melalui rangkaian proses persidangan, akhirnya Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan ketetapan Nomor VIII/MPR/1983 mengangkat Jenderal TNI Purnawirawan Umar Wirhadikusumah sebagai wakil presiden RI untuk lima tahun, terhitung sejak diucapkannya sumpah jabatan di hadapan MPR,” kata Herry.
Selepas wapres, Umar tak lagi aktif di dunia politik. Jenderal darah biru penumpas PKI itu wafat pada Jumat, 21 Maret 2003 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Raganya memang telah tiada, namun jasanya diabadikan Jenderal Dudung Abdurachman sebagai nama gedung di Makodam Jaya.
Dengan segala upaya keras Umar selaku Pangdam Jaya berhasil mempertahankan situasi keamanan Ibu Kota. Tak dimungkiri, ketika ini Umar menjadi orang terdekat Pangkostrad Soeharto dalam memadamkan Gestapu.
Karier militernya terus melesat. Berdasarkan Surat Keputusan Men/Pangad: Kep.138/12/65 tertanggal 2 Desember 1965, Mayjen TNI Umar Wirahadikusumah diangkat sebagai Pangkostrad. Dia menggantikan Letjen TNI Soeharto yang diangkat sebagai Men/Pangad.
Tak berhenti sampai di situ. Setelah periode 1969-1973 menjadi orang nomor satu di Pasukan Cakra, Umar dipercaya sebagai KSAD. Selepas dari militer, tentara yang sempat bekerja di perkebunan semasa remaja ini dipercaya Pak Harto sebagai Ketua BPK (1973-1983).
Puncak kariernya terjadi selepas dari lembaga itu. Soeharto yang kembali terpilih sebagai Presiden memilih Umar sebagai wapres. “Setelah melalui rangkaian proses persidangan, akhirnya Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan ketetapan Nomor VIII/MPR/1983 mengangkat Jenderal TNI Purnawirawan Umar Wirhadikusumah sebagai wakil presiden RI untuk lima tahun, terhitung sejak diucapkannya sumpah jabatan di hadapan MPR,” kata Herry.
Selepas wapres, Umar tak lagi aktif di dunia politik. Jenderal darah biru penumpas PKI itu wafat pada Jumat, 21 Maret 2003 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Raganya memang telah tiada, namun jasanya diabadikan Jenderal Dudung Abdurachman sebagai nama gedung di Makodam Jaya.
(ams)
Lihat Juga :