Greenpeace: Waspadai Dampak Migrasi Mikroplastik Galon Sekali Pakai

Selasa, 09 November 2021 - 18:21 WIB
loading...
Greenpeace: Waspadai...
Greenpeace meminta masyarakat mewaspadai dampak migrasi mikroplastik dari galon sekali pakai. FOTO/IST
A A A
JAKARTA - Pegiat lingkungan Greenpeace Indonesia mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati dalam mengkonsumsi air mineral dalam kemasan galon sekali pakai. Hal itu disebabkan ditemukannya migrasi mikroplastik dari galon tersebut ke dalam produk airnya.

Afifa Rahmi Andini, Plastic Researcher Greenpeace Indonesia mengungkapkan, dari hasil uji yang dilakukan di Laboratorium Kimia Anorganik UI ditemukan bahwa air galon sekali pakai mengandung atau terkontaminasi dengan mikroplastik. Saat itu, sampel air galon sekali pakai diambil dari tiga wilayah yaitu Jakarta, Depok, dan Bogor.

"Mikroplastik yang ditemukan dalam air galon sekali pakai itu sebagian besar berbentuk fragmen dengan ukuran 2,44-63,65 mikrometer," katanya dalam acara webinar "Reuse Revolution For a Better Health and Climate" pada Selasa (9/11/2021).

Baca juga: Kandungan Mikroplastik di Galon Air Minum Tak Berisiko Kesehatan

Menurut Afifa, mikroplastik yang ditemukan dalam air galon sekali pakai itu didominasi jenis PET, yaitu polimer pembuat kemasan galon. Dia mengatakan, konsentrasinya memang tidak terlalu besar hanya sekitar 0,2 mg sampai 5 mg per liter. "Tapi kalau kita lihat jumlah partikelnya sangat banyak. Ada 85-95 juta partikel per liter atau 570 juta–1.275 juta per galon," katanya.

Kata Afifa, migrasi mikroplastik galon sekali pakai ke dalam produk airnya itu berpotensi masuk ke dalam tubuh para konsumen. Dari kuesioner yang disebarkan Greenpeace kepada 38 konsumen galon sekali pakai, diperoleh hasil bahwa rata-rata mereka mengonsumsi air galon sekali pakai sekitar 1,89 liter per hari.

"Setelah kita hitung, dengan konsumsi sebanyak itu, mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh konsumen sekitar 0,378 mg -9,45 mg per hari," katanya.

Kadar itu memang masih berada di bawah batas aman dari WHO. Namun, kata Afifa, WHO juga memberikan catatan bahwa penelitian terkait dampak kesehatan mikroplastik ini masih terus dikembangkan. "Jadi, WHO juga memberikan early warning atau reminder terhadap penggunaan jangka panjang yang bisa memberikan risiko yang sangat besar," katanya.

Baca juga: YLKI Soroti Bahaya Mikroplastik Galon Isi Ulang Bagi Konsumen

Kalau mikroplastik itu terakumulasi dalam jaringan atau organ tubuh manusia, menurut Afifa, itu bisa memberikan beberapa masalah dalam sistem syaraf dan hormonal. "Tidak hanya itu, mikroplastik dalam tubuh manusia itu juga dikawatirkan dapat menimbulkan risiko ke arah karsinogenik," tuturnya.

Karenanya, dia mengajak masyarakat untuk mewaspadai pemakaian air minum galon sekali pakai ini. "Kalau bisa kita nggak usah mengonsumsi air galon sekali pakai ini," ucapnya.

Selain dampak terhadap kesehatan, menurut Afifa, galon sekali pakai ini juga akan menambah masalah baru bagi lingkungan. "Kondisi sampah plastik kita yang sudah sampai di titik krisis saat ini, seharusnya jangan ditambah lagi dengan terus berinovasi menciptakan produk-produk plastik sekali pakai yang baru, yang justru akan memperberat masalah sampah plastik kita," katanya.

Di acara yang sama, Peneliti Plastik Ecoton, Eka Chlara Budiarti mengutarakan bahwa cemaran mikroplastik dari sampah plastik sekali pakai ini banyak ditemukan di wilayah-wilayah muara sungai. Kondisi ini akan mengkontaminasi ikan-ikan termasuk kerang hijau yang ada di sana. "Nah, mikroplastik itu otomatis akan masuk ke tubuh para konsumen yang memakannya, yang akhirnya bisa menyebabkan penyakit," katanya.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Darurat Mikroplastik...
Darurat Mikroplastik dan Timbal, Indonesia Terancam Kehilangan Generasi
Kuliah Umum Diaz Hendropriyono...
Kuliah Umum Diaz Hendropriyono Ingatkan Ancaman Mikroplastik
Aturan Kemasan Pangan,...
Aturan Kemasan Pangan, Indonesia Diingatkan Tak Jiplak Negara Lain
BPOM Disarankan Tidak...
BPOM Disarankan Tidak Memaksakan Pelabelan BPA di Galon
Perlu Kajian Ilmiah...
Perlu Kajian Ilmiah Sebelum Membuat Regulasi Zat Kimia Berbahaya pada Kemasan Pangan
Urgensi Mengelola Sampah...
Urgensi Mengelola Sampah Plastik
Siap-siap! Lonjakan...
Siap-siap! Lonjakan Biaya Plastik Picu Kenaikan Harga Minyak Goreng
Krisis Bahan Baku Plastik,...
Krisis Bahan Baku Plastik, Pemerintah Jajaki Impor Kemasan dari Malaysia hingga Rusia
Bahan Baku Plastik Langka,...
Bahan Baku Plastik Langka, Indonesia Sibuk Cari Sumber Pasokan Alternatif ke 3 Negara
Rekomendasi
Ombudsman Mengaku Dihalang-halangi...
Ombudsman Mengaku Dihalang-halangi saat Sidak Lapas Kelas IIA Cibinong
Haul Akbar Ulama Betawi,...
Haul Akbar Ulama Betawi, Gus Muhaimin Urai Peran Besar Ulama Bangun Bangsa
Wapres Vance Batalkan...
Wapres Vance Batalkan Kunjungan ke Jenewa, Swiss: Perundingan AS-Iran Ditunda
Berita Terkini
Seskab Teddy Bertemu...
Seskab Teddy Bertemu Kepala BNN Komjen Suyudi, Ada Apa?
50 Tokoh Pasang Badan...
50 Tokoh Pasang Badan untuk Roy Suryo, Din Syamsuddin dan Oegroseno Ikut Jadi Penjamin
Kasus Ijazah Jokowi,...
Kasus Ijazah Jokowi, Roy Suryo akan Ajukan Penangguhan Penahanan
Perkuat Akuntabilitas...
Perkuat Akuntabilitas Keuangan Daerah, BSKDN Libatkan Akademisi dalam Validasi IPKD
Usai Ziarah ke Makam...
Usai Ziarah ke Makam Soekarno dan Gus Dur, Kapolri Tabur Bunga di Makam Soeharto
Libatkan Mahasiswa saat...
Libatkan Mahasiswa saat Kunker, Gibran Dinilai Perkuat Dialog dan Partisipasi Publik
Infografis
Libur Lebaran 28 Maret-1...
Libur Lebaran 28 Maret-1 April 2025, Waspadai Banjir Rob Jakarta
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved