Habib Husein Ja'far: Jadikan Imajinasi Sebagai Pemersatu Bangsa

Kamis, 28 Oktober 2021 - 13:14 WIB
loading...
A A A
Bagi saya kemudian tinggal setiap orang melihat potensi dirinya apa. Saya memiliki potensi dibidang agama kemudian saya membangun konten-konten agama yang berorientasi pada kesatuan imajinasi sebagai bangsa. Misalnya toleransi tentang kebangsaan dan lain sebagainya. Nah, setiap orang bisa melakukan itu. Ada yang melakukannya dengan film, komik atau psikologi dengan memberikan konten-konten psikologi yang berorientasi kesana. Intinya semangatnya sama yaitu membangun imajinasi yang satu bahwa kita adalah Indonesia.

Dan aspek tontonan dan kretifitasnya juga harus dipertimbangkan jangan hanya memikirkan aspek tuntunannya. Sehingga tuntunan itu tidak bernilai tontonan. Nah, kelemahannya, hal-hal kebangsaan yang dibuat oleh negara atau lembaga itu bersifat tidak kreatif. Dia hanya bernilai tuntunan tapi tidak tontonan sehingga tidak banyak orang terinspirasi dari sana. Jadi hanya menjadi iklan-iklan lembaga saja. Karena itu menurut saya penting setiap orang itu mengeluarkan dari dalam dirinya secara original sehingga kemudian tuntunan bernilai tontonan.

Nah, ceramah yang saya sampaikan disajikan dengan gaya yang orisinil dan kreativitas yang memadai sehingga bukan hanya bernilai tuntunan tapi tontonan. Sehingga bukan lagi misalnya, mari bangsa Indonesia kita bersatu dengan tangan sambil mengepal. Dengan film juga bisa atau dengan apapun lah. Sehingga nilai-nilai itu bisa ditransfer kepada generasi muda. Karena saat ini kita sedang menghadapi satu tantangan dan satu kelebihan.

Kelebihannya bahwa kita adalah sedang menghadapi bonus demografi dimana pemuda ini mayoritas. Tapi tantangannya kita juga berada di masa peralihan dari cetak dan analog ke digital sehingga harus dipikir matang-matang bagaimana bisa merambah anak muda di tengah perubahan era menuju digital sehingga harus menyajikan konten digital yang tepat. Salah-salah anak mudanya nggak ada grab karena medium digitalnya tidak bisa dipegang dengan baik atau tidak bisa menyajikan konten digital yang baik.

Nah, itu yang sering dan masih gagal disajikan oleh beberapa lembaga dan pemerintahan. Artinya mereka masih melalui TV, bikin iklan berjejer ke kanan dan kiri. Kemudian mengepalkan tangan padahal eranya sudah geser. Intinya perubahan itu tidak disadari padahal media digital atau media sosial khususnya sangat rentan karena riset-riset menunjukkan gerakan- gerakan radikalisme dan terorisme menjadikan media sosial sebagai garda terdepan untuk mengoyak-ngoyak imajinasi kita tentang kesatuan bangsa.

Kalau Anda melihat posisi pemerintah berada dimana?

Saya melihatnya pemerintah sekali-kali terjebak pada seremonial seperti upacara atau festival. Bagi saya itu bagus seremonial tapi kurang efektif. Kemudian pendekatannya masih cenderung konvensional. Tidak kreatif sehingga pesannya tidak sampai ke generasi muda. Karena merasa pesannya bukan yang gue bangat. Ini juga tantangan buat saya dan juga yang lainnya. Ketika tidak bisa mengemas dengan baik maka pesannya tidak akan sampai. Padahal tantangan generasi muda saat ini sedang dominan.

Begini ya, generasi muda itu kan tidak merasakan pancasila sebagaimana generasi tua. Misalnya mereka tidak merasakan beratnya tantangan kebangsaan. Artinya mereka masih minus pengalaman. Mereka tidak mengetahui bahayanya radikalisme, mereka tidak mengetahui berapa dasyatnya pancasila dan sebagainya.

Nah, kalau itu gagal ditransfer bahwa Pancasila begitu Agung dan penting dalam menjaga keutuhan NKRI maka akan menjadi bencana besar bukan bonus, tapi bencana demografi. Karena itu menurut saya, ini tantangannya media sosial sebab bonus demografinya disana. Ia kalau hanya sia-sia memanfaatkan bonus demografi seperti Afrika Selatan, tapi kalau jadi bencana akan lebih bahaya. Bukan cuma gagal tapi minus dan pemuda jadi propaganda dan anti nilai-nilai kebangsaan. Itu kan sangat membahayakan.

Artinya pemerintah seharusnya peka dan melek bagaimana keinginan atau kemauan anak milenial sekarang seiring perubahan ini?
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3602 seconds (11.97#12.26)