Mengenal M Rasjidi, Menteri Agama Pertama RI

Selasa, 26 Oktober 2021 - 18:46 WIB
loading...
Mengenal M Rasjidi,...
M Rasjidi, Menteri Agama Pertama RI. Foto/Istimewa/Tangkapan layar muhammadiyah.or.id
A A A
JAKARTA - M Rasjidi tercatat sebagai Menteri Agama pertama RI. Cendekiawan muslim ini juga dikenal sebagai seorang diplomat yang bertugas di sejumlah negara.

M Rasjidi lahir di Kotagede, Yogyakarta, 20 Mei 1915. Kedua orang tuanya memberi nama Saridi. Ayahnya, Atmosudigdo, adalah pengusaha batik.

M Rasjidi kecil menempuh pendidikan dasarnya di sekolah Ongko Loro. Lalu, dia disekolahkan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Muhammadiyah Kotagede. Setelah itu, dia sempat belajar di sekolah guru, Muallimin Muhammadiyah.

Kepada SINDOnews, pemerhati sejarah Fikrul Hanif Sufyan mengatakan, setelah tercerahkan dengan pemikiran modernis Islam Ahmad Dahlan, Saridi berguru ke tokoh Islam lainnya, Syekh Ahmad Surkati, pendiri perguruan Al-Irsyad. Sejak berguru dengan pengurus Jamiat Khair itu, nama Saridi pun berubah menjadi Rasjidi.

Dua tahun menuntut ilmu di Al-Irsyad, Rasjidi meraih gelar diploma. Pada 1931, Rasjidi hijrah ke Kairo, Mesir, untuk melanjutkan studi di Darul Ulum, Universitas Kairo.

Baca juga: Yusril Sebut Ucapan Menag Yaqut Hanya Bikin Gaduh, Tak Ada Manfaat buat Islam dan NU

Selanjutnya, dia mengambil studi filsafat Islam di Universitas Kairo. Dia tercatat sebagai satu-satunya mahasiswa asal Indonesia yang berani mengambil kuliah filsafat. Setelah empat tahun menimba ilmu di Mesir, Rasjidi meraih gelar Bachelor of Arts (BA).

"Rosihan Anwar pernah memiliki kenangan terhadap sosok Rasjidi, ketika ia disorot oleh surat kabar Belanda Mataram Bode dengan sebuah berita kecil. Beritanya berisi raihan Rasjidi menggondol gelar Bachelor of Arts di Universitas Kairo," kata Fikrul pada 2015.

Sejak saat itu, Rasjidi selalu menjadi daya tarik bagi Pemerintah Hindia Belanda karena ia bisa berceramah dengan bahasa Prancis, suatu hal yang unik dalam masyarakat Kolonial pada masa itu.

Baca juga: Menag Yaqut Buka Suara soal Polemik Kemenag Hadiah untuk NU

Pada 1938, Rasjidi pulang ke Tanah Air dan menikah. Dia mulai tertarik terjun ke dunia politik dan menjadi anggota Partai Islam Indonesia (1940). Di tahun yang sama, dia juga menjadi anggota Alliance Francaise (Perhimpunan Prancis) di Yogyakarta.

Menurut catatan Wikipedia, dalam Kabinet Sjahrir I (14 November 1945-12 Maret 1946), Rasjidi ditunjuk sebagai Menteri Negara (Urusan Agama).

Dikutip dari kemenag.go.id, Rasjidi diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri Agama RI yang pertama. Dia adalah seorang ulama berlatar belakang pendidikan Islam modern dan di kemudian hari dikenal sebagai pemimpin Islam terkemuka dan tokoh Muhammadiyah.

Rasjidi saat itu adalah menteri tanpa portfolio dalam Kabinet Sjahrir. Dalam jabatan selaku menteri negara (menggantikan K.H. A. Wahid Hasjim), Rasjidi sudah bertugas mengurus permasalahan yang berkaitan dengan kepentingan umat Islam.

Selanjutnya, dalam Kabinet Sjahrir II (12 Maret 1946-2 Oktober 1946), Rasjidi kembali dipercaya menjadi Menteri Agama.

Johan Prasetya dalam buku Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan (Penerbit Saufa, Agustus 2014) menuliskan, Rasjidi kemudian disibukkan dengan urusan diplomasi saat menjadi salah satu anggota delegasi RI yang dipimpin Haji Agus Salim pada Inter Asian Relation Conference di New Delhi, 23 Maret 1947.

Setelah penyerahan kedaulatan, Rasjidi diangkat menjadi Duta Besar RI untuk Mesir merangkap Arab Saudi yang berkedudukan di Kairo. Dua tahun menjadi dubes di Kairo, dia dipindahkan ke Teheran sebagai Dubes Iran merangkap Afghanistan pada tahun 1953.

Kegiatan diplomasi dia tanggalkan saat menyelesaikan disertasinya di Universitas Sorbonne, Prancis. Pada 23 Mei 1956, Rasjidi lulus dengan predikat cum laude dan berhak meraih gelar doktor.

Lulus dari Sorbonne, Rasjidi diangkat pemerintah menjadi Dubes RI di Pakistan sampai terjadinya guncangan politik di Tanah Air sekitar 1958.

Lalu, Rasjidi mendapat tawaran mengajar di McGill University di Montreal, Kanada, sebagai Associate Professore bidang ilmu Agama Islam selama lima tahun, sebelum menerima tawaran untuk mengelola sebuah masjid, perpustakaan, dan lembaga pendidikan di Washington DC.

Baca juga: Tak Setuju Pernyataan Gus Yaqut, JK: Kemenag Itu adalah Keharusan

Dari Amerika Serikat, Rasjidi kembali ke Tanah Air, kemudian memulai pengabdiannya di bidang akademis, tepatnya sebagai dosen Hukum Islam di Universitas Indonesia (UI). Tahun 1968, dia dikukuhkan sebagai Guru Besar Hukum Islam dan Lembaga-lembaga Islam di universitas yang sama. Ia juga dikukuhkan menjadi Guru Besar Filsafat Barat di Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Cendekiawan muslim ini meninggal 30 Januari 2001 karena sakit, kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga di Kotagede, Yogyakarta. Di Kantor Kemenag, Jakarta, nama M Rasjidi pun diabadikan yakni diAuditorium HM Rasjidi.

Sumber: Wikipedia, www.kemenag.go.id, dan buku Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan (Penulis Johan Prasetya, Penerbit Saufa, Agustus 2014).
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
KPK Panggil 2 Tersangka...
KPK Panggil 2 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji
Kemenag Catat 2 Juta...
Kemenag Catat 2 Juta Hewan Kurban Senilai Rp18,28 Triliun Dipotong saat Iduladha
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Waisak 2026, Menag:...
Waisak 2026, Menag: Dharma Menjaga Perdamaian Dunia
Prabowo Salat Iduladha...
Prabowo Salat Iduladha di Paris, Menag: Tetap Ikuti Perkembangan di Istiqlal
Matahari Tepat di Atas...
Matahari Tepat di Atas Ka’bah pada 27-28 Mei, Kemenag Ajak Cek Arah Kiblat
Komisi VIII DPR dan...
Komisi VIII DPR dan Menteri Agama Bahas Pengawasan Kasus Kekerasan Seksual di Pesantren
Stafsus Menag Sayangkan...
Stafsus Menag Sayangkan Pembubaran Kemah Pemuda Ahmadiyah di Karanganyar
Teladani KH. Wahab Hasbullah,...
Teladani KH. Wahab Hasbullah, Menag Dorong Pesantren Cetak Generasi Unggul
Rekomendasi
BPDP, Ditjenbun dan...
BPDP, Ditjenbun dan AKPY Latih 122 Pekebun Sawit OKI Tingkatkan Kualitas Panen
Merger BUMN Karya Mundur...
Merger BUMN Karya Mundur ke Kuartal IV-2026, BP BUMN Ungkap Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Dijadikan Ganti Rugi bagi Negara Arab, 3 Alasan Teheran Marah Besar!
Berita Terkini
Hery Susanto Diberhentikan...
Hery Susanto Diberhentikan Tidak Hormat dari Ketua Ombudsman, Mensesneg: Nanti Kita Tindak Lanjuti
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Siap Perjuangkan Kepastian Kerja dan Upah Layak
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang
Usia Pensiun Personel...
Usia Pensiun Personel Polri Tidak Sama, Ini Penjelasan Pemerintah
Perjuangkan Nasib Dokter...
Perjuangkan Nasib Dokter Muda, PDMI Minta Pemerintah Buka Kembali Akses Ujian Kompetensi
OTT di Muara Enim dan...
OTT di Muara Enim dan Jakarta, KPK Sita Uang Ratusan Juta
Infografis
Spesifikasi dan Daya...
Spesifikasi dan Daya Tempur Kapal Induk Pertama Indonesia Giuseppe Garibaldi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved