Kala Soeharto Gagal Jegal Gus Dur di Muktamar Cipasung, Momentum Kemenangan Santri

Jum'at, 22 Oktober 2021 - 10:53 WIB
Kala Soeharto Gagal Jegal Gus Dur di Muktamar Cipasung, Momentum Kemenangan Santri
Di bawah tekanan yang sangat kuat di luar dan di dalamn arena Muktamar Cipasung, Gus Dur akhirnya terpilih sebagai ketua PBNU untuk ketiga kalinya. Foto/nu.or.id
A A A
JAKARTA - Sambil membentuk barisan melingkar, kader-kader muda NU berteriak. ” Soeharto has to go!, Soeharto has to go! (Soeharto harus pergi),” teriak mereka di depan pintu ruang sidang Muktamar NU di Ponpes Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, Desember 1994.

Teriakan itu bukan sekadar menunjukkan kelegaan NU dan para peserta bahwa muktamar akhirnya bisa memilih KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai ketua umum PBNU. Yel-yel tersebut sekaligus ingin mempertontonkan kekalahan Soeharto yang mencoba mengobok-obok NU.

Bagi NU dan kaum nahdliyin, inilah muktamar terpanas sepanjang sejarah organisasi tersebut. Sebab pada muktamar inilah NU menghadapi tekanan paling besar dari penguasa. Dimulai dari riak-riak kecil merespons sikap oposisi Gus Dur, pemerintahan Soeharto menumpuk segala daya di arena Muktamar Cipasung demi menghentikan langkah cucu pendiri NU itu.

Baca juga: Muktamar NU: Sukses, Sehat, dan Keren



Menurut Greg Barton, seorang Indonesianis penulis biografi Gus Dur, rezim penguasa sudah siap ketika dua pekan sebelum muktamar Gus Dur menyatakan kembali mencalonkan diri sebagai ketua umum PBNU. Meskipun, Gus Dur sempat menyatakan tak berminat menjadi ketua tanfidziyah lagi dan ingin menjadi Rais Am.

Kala Soeharto Gagal Jegal Gus Dur di Muktamar Cipasung, Momentum Kemenangan Santri

Setelah didiamkan Soeharto gara-gara Muktamar Cipasung, Gus Dur akhirnya bertemu dengan penguasa Orde Baru itu dua tahun kemudian. Foto/ist

”Ia (Gus Dur) mencoba membenarkan sikapnya ini dengan mengatakan bahwa dia prihatin dengan apa yang mungkin dialami NU dan mengenai akan segera berakhirnya rezim Soeharto,” tulis Greg dalam buku berjudul Biografi Abdurrahman Wahid (2003), dikutip Jumat (22/10/2021).

“Akan ada badai dan laut akan sangat berombak. Dan lebih dari pada sebelumnya, NU akan memerlukan seorang kapten yang berpengalaman,” ucap Gus Dur yang dicatat Greg Barton.

Baca juga: Cerita Amien Rais Seputar Pelengseran Gus Dur pada 2001
Halaman :
Mungkin Anda Suka
Komentar
Copyright © 2021 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2292 seconds (11.210#12.26)