Indonesia-Afghanistan Kerjasama Lindungi Perempuan dan Anak di Tengah Konflik

loading...
Indonesia-Afghanistan Kerjasama Lindungi Perempuan dan Anak di Tengah Konflik
Kaum perempuan Afghanistan menuntut persamaan hak dengan masyarakat lain kepada pemerintahan baru yang dikomandoi Kelompok Taliban. Foto/Belfast Telegraph
JAKARTA - Di tengah pro kontra atas klaim pemerintahan Taliban diAfghanistan, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan (PPPA) melakukan kerja sama dengan Ministry of Women's Affairs (MOWA) Afghanistan tentang Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan .

Kerja sama ini menyepakati beberapa program dalam isu konflik sosial, program penguatan kapasitas dan produktivitas perempuan, ekonomi, kesehatan, pendidikan, pengarusutamaan gender dan perlindungan.

"Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPPA melakukan Kerjasama dengan Ministry of Women's Affairs (MOWA) Afghanistan tentang Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan. Kami memberikan perhatian yang besar dalam isu ini, khsusunya menyepakati beberapa program dalam memastikan isu tersebut di kedua negara. Diantaranya konflik sosial, serta program penguatan kapasitas dan produktifias perempuan dibidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, pengarusutamaan gender dan perlindungan,” kata Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Rumah Tangga dan Rentan Kementerian PPPA, Valentina Gintings dalam laman resmi Kemenpppa, dikutip Selasa (14/9/2021)

Baca juga: Taliban Sebut Rusia dan Turki akan Kirim Bantuan Kemanusiaan ke Afghanistan



Direktur Mulia Raya Foundation, Musdah turut menyampaikan kondisi perempuan di Afghanistan semakin mengalami kerentanan yang parah. Hal tersebut dikarenakan pandangan keislaman yang sangat konservatif dikembangkan oleh pengikut Taliban, seperti melarang perempuan menggunakan KB dan mendapatkan akses kesehatan reproduksi.

“Saya meminta pemerintah Indonesia mendorong dunia internasional untuk memastikan tidak ada lagi konflik antar suku dan konflik antar teroris di Afghanistan. Karena kita tahu perempuan dan anak pasti jadi korban utama. Diharapkan pemerintah bisa mendesak pemerintah Afghanistan memenuhi hak kesehatan reproduksi dan hak pendidikan bagi perempuan,” kata Musdah.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra juga turut menyampaikan pandangan keislaman yang dapat dijadikan alat diplomasi Indonesia sebagai negara mayoritas Islam yang berhasil menerapkan demokrasi kepada dunia internasional. Kongres Indonesia - Afghanistan tersebut seperti Kongres Ulama Perempuan Indonesia dan Afghanistan-Indonesia Women’s Solidarity Network

“Menggunakan Islam Wasathiyah dengan berada selalu di tengah, bersikap seimbang, adil, toleransi, inklusif dan akomodatif yang telah mengakar di Indonesia. Masa depan Islam adalah Islam Wasathiyah ini bukan yang keras dan intoleran. Oleh karenanya, menjadi tanggung jawab kita semua untuk menyebarkannya,” ungkap Azyumardi

Baca juga: Dunia Sambut Seruan PBB untuk Bantu Afghanistan
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top