Intervensi Pemulihan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat di Tapal Batas Negeri

Sabtu, 07 Agustus 2021 - 07:29 WIB
loading...
A A A
Intervensi melalui Ekokesra pada PKSN dan Lokasi Prioritas
Dalam Renduk Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan 2020-2024 mengacu kepada dua prioritas nasional dalam RPJMN 2020-2024 yaitu “Pembangunan Kewilayahan” dan “Pembangunan Politik, Hukum, Pertahanan, dan Keamanan (Polhukhankam)”. Pembangunan Kewilayahan diarahkan untuk menyelesaikan isu strategis utama yaitu ketimpangan antar wilayah dengan sasaran antara lain: pertama, meningkatnya pemerataan antar wilayah (Kawasan Barat Indonesia/KBI Kawasan Timur Indonesia/KTI, Jawa dan luar Jawa); kedua, meningkatnya keunggulan kompetitif pusat-pusat pertumbuhan wilayah; ketiga meningkatnya kualitas dan akses pelayanan dasar, daya saing serta kemandirian daerah; dan keempat adalah meningkatkan sinergi pemanfaatan ruang wilayah.

Lokasi pengelolaan perbatasan diprioritaskan pada kecamatan-kecamatan terluar yang berbatasan langsung dengan negara lain serta pusat layanan utama Kawasan perbatasan sebagai Pusat Kegitan Strategis Nasional (PKSN). Lokasi pengelolaan yang dipilih dalam hal ini disebut dengan lokasi prioritas (Lokpri). Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) mencatat adanya tambahan sasaran lokasi prioritas (Lokpri) menjadi 222 kecamatan dalam pengelolaan kawasan perbatasan pada tahun 2020-2025. Peningkatan Lokpri tersebut tertuang dalam Peraturan Kepala BNPP Nomor 3 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis (renstra) Sekretariat Tetap BNPP Tahun 2020-2024. Baseline Lokpri pada 2015-2019 tercatat ada 187 Kecamatan. Sedangkan di Renstra BNPP 2020-2024 ditargetkan menjadi 222 Kecamatan. Sedangkan untuk PKSN telah ditetapkan sebanyak 18 (delapanbelas) PKSN sebagai prioritas nasional yang tersebar dari Sabang sampai Meurauke.

Pemilihan Lokpri pengelolaan perbatasan secara garis besar dipilih berdasarkan pendekatan pertahanan dan keamanan (Hankam) (security approach) dan pendekatan kesejahteraan masyarakat (prosperity approach). Pertama menjadi perhatian adalah aspek hankam, yang dijalankan secara sinergis dengan upaya peningkatan aspek kesejahteraan masyarakat, dan aspek kelestarian lingkungan (environmental approach) melengkapi kedua aspek awal, dalam perencanaan pembangunan di kawasan perbatasan. Pemilihan PKSN mempertimbangkan aspek keruangan dan regional kawasan-kawasan pusat kegiatan dan penyangga di sekitarnya, dengan target antara lain sebagai pusat perkotaan yang berpotensi sebagai pos pemeriksaan lintas batas dengan negara tetangga, sebagai pusat perkotaan yang berfungsi sebagai pintu gerbang internasional yang menghubungkan dengan negara tetangga, sebagai pusat perkotaan yang merupakan simpul utama transportasi yang menghubungkan wilayah sekitarnya, serta sebagai pusat perkotaan yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi yang dapat mendorong perkembangan kawasan di sekitarnya.

Pembangunan kewilayahan menekankan keterpaduan pembangunan dengan pendekatan spasial atas dasar data dan informasi yang akurat dan lengkap serta lokasi yang jelas sesuai dengan rencana tata ruang dan daya dukung lingkungan, yang dilaksanakan secara terintegrasi yang mengutamakan kerjasama dan keterpaduan program dan kegiatan antar Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah, antar Pemerintah Daerah, serta antar Pemerintah dan Badan Usaha dalam perencanaan, pendanaan dan pembiayaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi pembangunan. Pendekatan ini tidak hanya mengenai pertumbuhan ekonomi tetapi juga pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah dan masyarakat, melalui pendekatan pertumbuhan dan pendekatan pemerataan, sebagaimana tercermin dari pendekatan koridor pertumbuhan dan koridor pemerataan, yang juga meliputi kawasan perbatasan.

Menghadapi pandemi, Sektor kesehatan dan ekonomi nyatanya sukar untuk dipisahkan. ibarat bayi kembar siam, keduanya memang menjadi pertimbangan penting dalam menyelesaikan masalah pelik ini. namun demikian, ada beberapa pertimbangan cara yang tepat untuk digunakan untuk tetap menjaga stabilitas ekonomi pada daerah perbatasan.

Pertama, intervensi pembangunan ekonomi dan kesejahteraan rakyat (Ekokesra) dapat melalui sektor-sektor utama yaitu baik sektor penyediaan fasilitas permukiman penduduk, fasilitas kesehatan, pendidikan, sampai dengan perekonomian lokal masyarakat. Pemenuhan kebutuhan fasilitas permukiman masyarakat di kawasan perbatasan yaitu keberadaan rumah layak huni merupakan syarat dasar sebagai cara utama kita melawan pandemi. Selain itu dengan adanya sanitasi permukiman yang layak, seperti air bersih, drainase, persampahan, pengelolaan limbah rumah tangga (MCK), serta pola hidup bersih dapat memperkecil tertularnya virus Covid-19.

Kedua, pemenuhan kebutuhan standar fasilitas pendidikan masyarakat di kawasan perbatasan, diantaranya adalah kebutuhan akan gawai dan juga kuota internet. Penyediaan fasilitas Pendidikan dapat dilakukan dari mulai PAUD sampai jenjang SMA/SMK serta pendikan vokasi sesuai dengan kebutuhan dan karekteristik masing-masing. Sedangkan pada PKSN tertentu, dapat disediakan sampai ke perguruan tinggi sehingga menjadi pengungkit kemajuan daerah perbatasan.

Ketiga, Pemenuhan kebutuhan standar fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat. Penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan harus secara merata di seluruh penjuru perbatasan. Bukan hanya ketersediaannya saja, melainkan keberadaan akses seluruh masyarakat terhadap fasilitas tersebut. Di samping itu, terkait skala pengembangan dapat dibedakan untuk fasilitas pada skala rumah sakit hanya ditargetkan ada pada Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) saja, sedangkan pada skala di bawahnya yaitu Puskesmas sampai dengan PUSTU harus tersedia sampai skala Lokpri. Pada skala Lokpri, pembangunan fasilitas ditekankan pada tingkat Puskesmas dan Puskesmas Pembantu.

Di samping itu, keberadaan praktik dokter juga menjadi salah satu keberhasilan dari penyediaan fasilitas kesehatan. Oleh sebab itu, pengarahan izin praktik dokter menuju ke Lokpri pengelolaan perbatasan menjadi salah stau intervensi strategis. dan keempat, disamping pemenuhan Pendidikan dan kesehatan, perlu disediakan pula fasilitas pelayanan perekonomian masyarakat, agar dapat memfasilitasi aktivitas produksi secara massif dan pasca produksi oleh masyarakat. tentunya pasar masyarakat ini harus bergaya ala new normal, yaitu kebiasaan adaptasi baru dalam aktivitas perekonomian dengan menerapkan protokol kesehatan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Vesak Festival 2026,...
Vesak Festival 2026, Stafsus Menag Doakan Presiden Prabowo Diberi Kekuatan Memimpin Bangsa
Pembangunan Transportasi...
Pembangunan Transportasi Publik Mampu Sejahterakan Warga Daerah
Pemprov Papua Selatan:...
Pemprov Papua Selatan: PSN Wanam Buka Lapangan Pekerjaan dan Tingkatkan Kesejahteraan
Program RSLH Ubah Nasib...
Program RSLH Ubah Nasib Ratusan Warga Kudus, 128 Rumah Dibangun Ulang
Rekomendasi
SPMB DKI Jakarta 2026...
SPMB DKI Jakarta 2026 Sediakan 245.980 Kuota, Termasuk Sekolah Swasta Gratis
Kemendagri Dorong Percepatan...
Kemendagri Dorong Percepatan Penataan dan Registrasi Posyandu
Aksi Demo di Gedung...
Aksi Demo di Gedung DPR, Puluhan Mahasiswa Terlibat Aksi Dorong dengan Polisi
Berita Terkini
Bertemu Prabowo, Presiden...
Bertemu Prabowo, Presiden Jerman Singgung Deklarasi Jakarta Tahun 2012
Prabowo Sebut Indonesia-Jerman...
Prabowo Sebut Indonesia-Jerman Sepakat Konflik Harus Diselesaikan lewat Perundingan
Selain Bos Maktour,...
Selain Bos Maktour, KPK Panggil Tiga Saksi Lain Kasus Kuota Haji
Pertemuan Prabowo dengan...
Pertemuan Prabowo dengan Steinmeier Perkuat 75 Tahun Diplomatik Indonesia-Jerman
Ketua Dewan Pers Komaruddin...
Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat Tekankan Sikap Kritis dan Konstruktif Media Massa
Kepala BPOM: Masa Depan...
Kepala BPOM: Masa Depan Indonesia Ditentukan SDM Unggul, Bukan Lagi Kekayaan SDA
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved