Analisa Guru Besar UI, Angka Corona Lebih Tinggi Sebelum PPKM Darurat
Senin, 12 Juli 2021 - 17:17 WIB
loading...
A
A
A
“Pertama, peningkatan kasus baru sebesar 156% antara 3 dan 11 Juli 2021, tinggi sekali,” ungkap Tjandra. Baca juga: Dampak PPKM, BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi hanya 3,8% di 2021
Kedua, kata Tjandra, peningkatan lebih dari 150% kasus baru ini tidak dapat diterangkan dengan peningkatan jumlah orang yang diperiksa, karena dari kedua tanggal ini jumlahnya hanya meningkat 15,4%. “Artinya, peningkatan kasus memang terjadi karena masih besarnya penularan di masyarakat. Hal ini ditunjang dengan analisa ketiga tentang angka kepositifan,” paparnya.
Ketiga, angka kepositifan tetap tinggi, 25,3% di tanggal 3 Juli dan bahkan meningkat menjadi 28,3% di tanggal 11 Juli 2021. Tjandra pun membandingkan dengan angka kepositifan di sejumlah negara. “Kalau kita bandingkan negara tetangga maka sebagian besar angka kepositifannya sudah kecil. Vietnam misalnya angkanya 1,2 %, Kamboja 3,6 % dan Laos 2,4 %,” ungkapnya.
Tjandra juga mengatakan di negara Filipina masih cukup tinggi, itupun angkanya 11,7%, sementara Malaysia yang masih dalam bentuk lockdown “Movement Control Order (MCO)” angkanya kini 8,5 %. “Kalau kita lihat yang agak jauh, India, angka kepositifan pernah juga di atas 20% pada waktu kasus sedang tinggi-tingginya di sekitar Mei 2021, tetapi sekarang angka kepositifan India hanya 2,3 % saja. Jadi angka kepositifan kita memang masih sangat tinggi, dan harus segera diturunkan,” katanya.
Keempat, Tjandra mengatakan belum adanya peningkatan bermakna jumlah tes yang dilakukan. “Sekarang masih 159.219 spesimen dan 128.100 orang yang di periksa, padahal diharapkan angkanya akan naik tajam menjadi beberapa ratus ribu tes per harinya. Dengan tes yang tinggi dan telusur yang massif maka kasus akan dapat ditemukan dan ditangani serta diisolasi dan di karantina.”
Kedua, kata Tjandra, peningkatan lebih dari 150% kasus baru ini tidak dapat diterangkan dengan peningkatan jumlah orang yang diperiksa, karena dari kedua tanggal ini jumlahnya hanya meningkat 15,4%. “Artinya, peningkatan kasus memang terjadi karena masih besarnya penularan di masyarakat. Hal ini ditunjang dengan analisa ketiga tentang angka kepositifan,” paparnya.
Ketiga, angka kepositifan tetap tinggi, 25,3% di tanggal 3 Juli dan bahkan meningkat menjadi 28,3% di tanggal 11 Juli 2021. Tjandra pun membandingkan dengan angka kepositifan di sejumlah negara. “Kalau kita bandingkan negara tetangga maka sebagian besar angka kepositifannya sudah kecil. Vietnam misalnya angkanya 1,2 %, Kamboja 3,6 % dan Laos 2,4 %,” ungkapnya.
Tjandra juga mengatakan di negara Filipina masih cukup tinggi, itupun angkanya 11,7%, sementara Malaysia yang masih dalam bentuk lockdown “Movement Control Order (MCO)” angkanya kini 8,5 %. “Kalau kita lihat yang agak jauh, India, angka kepositifan pernah juga di atas 20% pada waktu kasus sedang tinggi-tingginya di sekitar Mei 2021, tetapi sekarang angka kepositifan India hanya 2,3 % saja. Jadi angka kepositifan kita memang masih sangat tinggi, dan harus segera diturunkan,” katanya.
Keempat, Tjandra mengatakan belum adanya peningkatan bermakna jumlah tes yang dilakukan. “Sekarang masih 159.219 spesimen dan 128.100 orang yang di periksa, padahal diharapkan angkanya akan naik tajam menjadi beberapa ratus ribu tes per harinya. Dengan tes yang tinggi dan telusur yang massif maka kasus akan dapat ditemukan dan ditangani serta diisolasi dan di karantina.”
Lihat Juga :