Tepatkah Vaksin Individu Berbayar?
Senin, 12 Juli 2021 - 05:56 WIB
loading...
A
A
A
Hal ini setidaknya disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi IX DPR Nihayatul Wafiroh melalui cuitan di media sosial Twitter kemarin. Dia mempertanyakan jual beli atau komersialisasi vaksin Covid-19 Gotong-Royong oleh salah satu anak usaha BUMN, yakni Kimia Farma.
Anggota Fraksi PKB itu mengakui, Komisi IX belum pernah mendengar ataupun mendapat laporan adanya istilah vaksin gotong-royong individual, apalagi dengan cara membelinya. Dia menyebutkan, dalam pengetahuannya jenis vaksin hanya dua, yakni vaksin untuk masyarakat dan vaksin yang disediakan perusahaan untuk karyawan beserta keluarga.
Adanya pro-kontra ini tentu saja harus segera diluruskan agar masyarakat tidak bingung. Pasalnya, sepengetahun publik, sejak awal dengan terang sudah dijelaskan bahwa vaksinasi untuk menangkal virus korona itu adalah gratis disediakan oleh pemerintah. Jangan sampai juga muncul anggapan rakyat sedang sulit, tetapi dibebani pengeluaran lain untuk menikmati kesehatan.
Di bagian lain, upaya mempercepat program vaksinasi Covid-19 terus dilakukan. Menurut laporan Kemenkes, hingga kemarin vaksinasi sudah menembus angka 50 juta suntikan. Dari jumlah tersebut, 10 juta di antaranya tercapai dalam kurun waktu delapan minggu, 10 juta dalam waktu empat minggu, dan terakhir 10 juta suntikan dalam waktu 12 hari.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, pihaknya berharap vaksinasi Covid-19 di Indonesia terus bertambah di kemudian hari. Menurut Budi, hingga kemarin sudah 38 juta rakyat Indonesia mendapatkan vaksinasi yang pertama atau 20% dari total target populasi suntik yaitu sebesar 181,5 juta rakyat Indonesia. Bahkan, kata Budi, beberapa provinsi seperti Bali sudah lebih dari 70% warganya menerima suntikan yang pertama. Demikian juga untuk DKI Jakarta sudah lebih dari 50% mendapatkan suntikan pertama.
Anggota Fraksi PKB itu mengakui, Komisi IX belum pernah mendengar ataupun mendapat laporan adanya istilah vaksin gotong-royong individual, apalagi dengan cara membelinya. Dia menyebutkan, dalam pengetahuannya jenis vaksin hanya dua, yakni vaksin untuk masyarakat dan vaksin yang disediakan perusahaan untuk karyawan beserta keluarga.
Adanya pro-kontra ini tentu saja harus segera diluruskan agar masyarakat tidak bingung. Pasalnya, sepengetahun publik, sejak awal dengan terang sudah dijelaskan bahwa vaksinasi untuk menangkal virus korona itu adalah gratis disediakan oleh pemerintah. Jangan sampai juga muncul anggapan rakyat sedang sulit, tetapi dibebani pengeluaran lain untuk menikmati kesehatan.
Di bagian lain, upaya mempercepat program vaksinasi Covid-19 terus dilakukan. Menurut laporan Kemenkes, hingga kemarin vaksinasi sudah menembus angka 50 juta suntikan. Dari jumlah tersebut, 10 juta di antaranya tercapai dalam kurun waktu delapan minggu, 10 juta dalam waktu empat minggu, dan terakhir 10 juta suntikan dalam waktu 12 hari.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, pihaknya berharap vaksinasi Covid-19 di Indonesia terus bertambah di kemudian hari. Menurut Budi, hingga kemarin sudah 38 juta rakyat Indonesia mendapatkan vaksinasi yang pertama atau 20% dari total target populasi suntik yaitu sebesar 181,5 juta rakyat Indonesia. Bahkan, kata Budi, beberapa provinsi seperti Bali sudah lebih dari 70% warganya menerima suntikan yang pertama. Demikian juga untuk DKI Jakarta sudah lebih dari 50% mendapatkan suntikan pertama.
(ynt)
Lihat Juga :