Waspadai Lonjakan Covid-19

loading...
Waspadai Lonjakan Covid-19
Waspadai Lonjakan Covid-19
Euforia merayakan Hari Raya Idul Fitri 1442 H sepertinya tidak terhalang pandemi Covid-19. Meski masih di tengah keterbatasan dalam upaya menghindari penyebaran virus korona, antusiasme masyarakat mengisi liburan Lebaran tetap tinggi.

Saat melakukan rangkaian ibadah salat Idulfitri yang diikuti silaturahmi warga pun begitu antusias, saling bermaaf-maafan meski agak canggung karena menerapkan protokol kesehatan untuk menjaga jarak. Namun, tak sedikit pula yang kontak fisik bersalaman seperti biasa.

Melihat pemandangan seperti itu, ada perasaan campur aduk di dalam diri. Satu sisi senang karena bisa bersilaturahmi dengan tetangga dan warga lainnya, namun di sisi lain ada kekhawatiran demikian tinggi karena menyadari bahwa Covid-19 masih ada di sekitar kita. Bahkan, di lingkungan terdekat kita, anggota keluarga.

Apresiasi tinggi pantas diberikan kepada mereka yang dengan sabar bisa menahan diri untuk tetap mengikuti anjuran pemerintah untuk tidak melakukan perjalanan mudik Lebaran tahun ini. Namun, kepada mereka yang terpaksa maupun memaksa mudik, hendaknya juga kita memakluminya.



Bukan berarti mereka tidak ingin mengikuti aturan pemerintah. Namun aktivitas mudik yang sudah menjadi budaya di masyarakat, telah mendorong orang melakukan berbagai cara agar bisa sampai ke kampung halaman. Tujuannya satu, berkumpul dengan keluarga.

Risiko mudik tahun ini memang terbilang besar karena virus korona masih mengancam. Bukan saja di tempat tujuan di kampung, tetapi juga selama perjalanan dan lokasi istirahat. Apalagi bagi pemudik yang melanjutkan perjalanan berpelesir ke tempat wisata yang ternyata belakangan disesaki pengunjung.

Melihat sejumlah fakta banyaknya lokasi tujuan wisata yang dipadati pengunjung dan cenderung mengabaikan protokol kesehatan, kekhawatiran pun muncul. Akankah ini menjadi kluster baru penyebaran virus korona? Pertanyaan ini wajar mengemuka mengingat saat ini jumlah kasus korona di Tanah Air masih relatif tinggi. Hingga Minggu (16/5), total kasus positif mencapai 1.739.750 orang, dengan pasien sembuh 1.600.857 orang dan meninggal dunia sebanyak 48.093 orang. Dari jumlah tersebut, jumlah penambahan kasus harian pun masih cukup tinggi, di atas 3.000-an pada akhir pekan lalu.

Angka-angka ini harus menjadi peringatan bagi semua pihak bahwa korona sangat nyata masih ada di sekitar kita. Angka itu bukan tidak mungkin akan bertambah jika melihat fakta-fakta masih terjadinya kerumuman di banyak tempat, ditambah tidak disiplinnya masyarakat saat melakukan aktivitas sehari-hari temasuk ketika bersilaturahmi kala Lebaran.

Guna mengantisipasi penyebaran Covid-19 pascaliburan Lebaran, pemerintah telah menyiapkan sejumlah strategi. Di antaranya dengan melakukan random test (tes acak) dan mandatory check (wajib tes Covid) bagi para pemudik yang akan kembali ke ibu kota.

Tes acak kepada masyarakat ini diberlakukan bagi masyarakat yang melakukan perjalanan dari sejumlah provinsi di Pulau Jawa yang akan menuju Jakarta. Adapun untuk mandatory check berlaku bagi pemudik dari Sumatera ke Pulau Jawa dan Jakarta mulai 15 Mei lalu.



Beberapa titik pengecekan yang ditentukan untuk arus balik dari Sumatera ke Jakarta melalui penyeberangan Bakauheni–Merak, dan akan dilakukan di Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, Lampung.

Sedangkan penerapanrandom-testCovid-19 dilakukan untuk arus pergerakan masyarakat dari Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Barat (Jabar) menuju Jakarta, baik melalui jalan tol maupun jalan nasional.

Pengecekan denganrapid testantigen digelar di 21 lokasi titik pengecekan di seluruh provinsi yang ada di Pulau Jawa menuju Jakarta termasuk di ruas jalan tol Trans Jawa. Selain itu, jalur jalan nasional juga tidak luput dari pemeriksaan mulai dari jalan-jalan di Pantura Karawang, Cirebon, Sukabumi, dan Cianjur menju arah ke Jakarta.

Upaya tersebut dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 seiring dengan jumlah warga yang melakukan perjalanan dari Jakarta ke luar kota yang menurut data Kementerian Perhubungan mencapai 1,5 juta orang.

Kepedulian akan kesehatan masyarakat juga ditunjukkan oleh warga ibu kota dan sekitarnya yang tidak melakukan perjalanan mudik. Ini diperlihatkan dari munculnya berbagai spanduk yang dibuat warga di sejumlah wilayah di Jakarta dan daerah penyangga yang mengingatkan pemudik agar melakukan tes swab antigen sebelum kembali ke perantauan. Aksi ini rasanya tidak berlebihan karena warga semata-mata hanya ingin agar korona bisa hilang selamanya.
(ynt)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top