Sindir AHY, Kubu Moeldoko Bandingkan Demokrasi Era Jokowi dengan SBY
Selasa, 04 Mei 2021 - 12:23 WIB
loading...
A
A
A
"Apakah AHY anak Pepo itu kurang membaca, hingga dia tidak tau bahwa pernah ada seorang Mahasiswa Universitas Bung Karno yang bernama Sondang Hutagalung yang telah memprotes Presiden SBY dengan membakar dirinya sendiri sampai hangus dan mati di depan Istana Negara pada Tanggal. 7 Desember 2011? Sekali lagi ini terjadi bukan di era kepemimpinan Jokowi, melainkan di era kepemimpinan SBY," ungkapnya.
Lebih lanjut SHE mengatakan, apakah AHY juga tidak pernah diajari oleh para seniornya di Partai Demokrat, bahwa di zaman bapaknya menjadi Presiden RI selama dua periode itu, ormas-ormas pelopor kekerasan dan penentangan ideologi negara seperti HTI dan FPI tumbuh subur, hingga banyak rakyat dan aktivis NU serta para penganut agama dan kepercayaan di negeri ini menjadi korban kekerasan ormas-ormas pentungan itu.
Di sisi lain, lupakah AHY terhadap kekerasan yang pernah dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal di negeri di era kepemimpinan SBY, terhadap kelompok Syiah dan Ahmadiyah yang rumah-rumahnya dibakar dan orang-orangnya dibunuh? Jika AHY tidak mengerti soal itu, maka silahkan AHY banyak bertanya ke aktivis-aktivis NU seperti KH. Maman Imanulhaq dan lain-lain, atau silakan AHY membaca hasil survei yang diungkap oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) di tahun-tahun terakhir SBY menjabat sebagai Presiden RI.
Menurut LSI saat itu ada peningkatan kasus kekerasan yang berlatar belakang diskriminasi, agama, sosial maupun etnis di era kepemimpinan SBY. Belum lagi kasus-kasus pelanggaran HAM berat di era kepemimpinan SBY. "Menurut hasil survei LSI, jika sebelum kepemimpinan SBY terdapat 915 kekerasan dengan rata-rata pertahun 150 kasus, di era SBY kekerasan meningkat menjadi 1483 kasus dengan rata-rata 210 kasus pertahun yang terjadi mulai tahun 2005 hingga 2012," bebernya.
Ketiga, lanjut pria yang bergabung ke kepengurusan Partai Demokrat kubu Meoldoko ini memandang, dengan mencermati pernyataan AHY di atas yang menyatakan bahwa di era kepemimpinan Jokowi, skor indeks demokrasi di Indonesia telah menurun secara signifikan, itu menurutnya jelas menunjukkan bahwa AHY dan bapaknya yakni SBY jelas sekali tidak dapat memahami apa itu demokrasi yang sesungguhnya, hingga keduanya menyimpulkan skor indeks demokrasi secara serampangan.
Lebih lanjut SHE mengatakan, apakah AHY juga tidak pernah diajari oleh para seniornya di Partai Demokrat, bahwa di zaman bapaknya menjadi Presiden RI selama dua periode itu, ormas-ormas pelopor kekerasan dan penentangan ideologi negara seperti HTI dan FPI tumbuh subur, hingga banyak rakyat dan aktivis NU serta para penganut agama dan kepercayaan di negeri ini menjadi korban kekerasan ormas-ormas pentungan itu.
Di sisi lain, lupakah AHY terhadap kekerasan yang pernah dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal di negeri di era kepemimpinan SBY, terhadap kelompok Syiah dan Ahmadiyah yang rumah-rumahnya dibakar dan orang-orangnya dibunuh? Jika AHY tidak mengerti soal itu, maka silahkan AHY banyak bertanya ke aktivis-aktivis NU seperti KH. Maman Imanulhaq dan lain-lain, atau silakan AHY membaca hasil survei yang diungkap oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) di tahun-tahun terakhir SBY menjabat sebagai Presiden RI.
Menurut LSI saat itu ada peningkatan kasus kekerasan yang berlatar belakang diskriminasi, agama, sosial maupun etnis di era kepemimpinan SBY. Belum lagi kasus-kasus pelanggaran HAM berat di era kepemimpinan SBY. "Menurut hasil survei LSI, jika sebelum kepemimpinan SBY terdapat 915 kekerasan dengan rata-rata pertahun 150 kasus, di era SBY kekerasan meningkat menjadi 1483 kasus dengan rata-rata 210 kasus pertahun yang terjadi mulai tahun 2005 hingga 2012," bebernya.
Ketiga, lanjut pria yang bergabung ke kepengurusan Partai Demokrat kubu Meoldoko ini memandang, dengan mencermati pernyataan AHY di atas yang menyatakan bahwa di era kepemimpinan Jokowi, skor indeks demokrasi di Indonesia telah menurun secara signifikan, itu menurutnya jelas menunjukkan bahwa AHY dan bapaknya yakni SBY jelas sekali tidak dapat memahami apa itu demokrasi yang sesungguhnya, hingga keduanya menyimpulkan skor indeks demokrasi secara serampangan.
Lihat Juga :