Soal Muslim Uighur, DPR: China Tinggal Buktikan Tak Ada Pelanggaran HAM
Selasa, 27 April 2021 - 11:53 WIB
loading...
A
A
A
“Ini mereka (China) panik. Apalagi terakhir di Indonesia, wartawan dalam dan luar negeri banyak yang meliput serta mewartawakan dengan masif, aksi unjuk rasa Aliansi Mahasiswa Islam di Kedubes China sampai viral di media massa dan media sosial dunia,” ujar Peneliti CENTRIS, AB Solissa saat dihubungi wartawan, Senin, (19/4/2021).
Dalam aksi unjuk rasa tersebut, Aliansi Mahasiswa Islam meminta China untuk menghentikan pembantaian Muslim Uighur, stop perkosa dan jadikan Muslimah Uighur sebagai budak seks, hingga ajakan untuk memboikot Olimpiade Musim Dingin 2022 di China sebelum pelanggaran berat HAM berakhir.
CENTRIS menilai kerja para wartawan di Indonesia, telah sesuai dengan kaedah, prinsip dasar dan kode etik jurnalistik yang mengedepankan fakta dari sebuah peristiwa, bukan asumsi apalagi opini yang mereka tulis di medianya.
Bahkan, tidak sedikit jurnalis Tanah Air dan dunia yang akhirnya dapat mewartakan fakta dari dugaan pelanggaran berat HAM yang menimpa Muslim Uighur ditengah ketatnya aturan dan pengawasan otoritas China khususnya kepada media yang masuk wilayah mereka, melalui investigasi reports yang dipublish dan dapat kita lihat di berbagai media massa terpercaya. Baca juga: AS Kembali Sebut China Lakukan Genosida Terhadap Muslim Uighur
“Jangan pertanyakan apalagi menyangsikan kerja jurnalistik media massa mainstream Indonesia dan dunia yang telah teruji kredibilitasnya sebagai mata dan jendela dunia,” pungkas AB Solissa.
Dalam aksi unjuk rasa tersebut, Aliansi Mahasiswa Islam meminta China untuk menghentikan pembantaian Muslim Uighur, stop perkosa dan jadikan Muslimah Uighur sebagai budak seks, hingga ajakan untuk memboikot Olimpiade Musim Dingin 2022 di China sebelum pelanggaran berat HAM berakhir.
CENTRIS menilai kerja para wartawan di Indonesia, telah sesuai dengan kaedah, prinsip dasar dan kode etik jurnalistik yang mengedepankan fakta dari sebuah peristiwa, bukan asumsi apalagi opini yang mereka tulis di medianya.
Bahkan, tidak sedikit jurnalis Tanah Air dan dunia yang akhirnya dapat mewartakan fakta dari dugaan pelanggaran berat HAM yang menimpa Muslim Uighur ditengah ketatnya aturan dan pengawasan otoritas China khususnya kepada media yang masuk wilayah mereka, melalui investigasi reports yang dipublish dan dapat kita lihat di berbagai media massa terpercaya. Baca juga: AS Kembali Sebut China Lakukan Genosida Terhadap Muslim Uighur
“Jangan pertanyakan apalagi menyangsikan kerja jurnalistik media massa mainstream Indonesia dan dunia yang telah teruji kredibilitasnya sebagai mata dan jendela dunia,” pungkas AB Solissa.
(kri)
Lihat Juga :