Poros Islam, Cita-Cita atau Angan-Angan Belaka?
Minggu, 25 April 2021 - 10:46 WIB
loading...
A
A
A
Lebih lanjut dia mengatakan, antara PKB dengan PPP juga sulit bertemu karena kedua partai itu juga merebutkan basis pemilih yang kurang lebih sama yaitu Islam tradisional. "Itu sebabnya mungkin yang menjelaskan kenapa yang ketemu adalah PPP dengan PKS, bukan PPP dengan PKB atau PKS dan PAN, jadi intinya sulit ya," ucapnya.
Namun, kata dia, tak tertutup kemungkinan parta-partai Islam disatukan oleh suatu momentum atau peristiwa. "Terutama misalkan kalau menemukan tokoh yang mau diusung sama-sama katakanlah misalnya Anies Baswedan pada pilpres yang akan datang, karena Anies naiknya di jabatan gubernur itu melalui nuansa warna dukungan kelompok-kelompok Islam, jadi isunya adalah penistaan agama, di luar isu-isu kebijakan Ahok, kemudian ada tokoh-tokoh seperti Rizieq Shihab GNPF, ulama, FPI, kemudian ada peristiwa 411 dan 212, jadi mungkin saja, menurut saya itu pun tidak akan mutlak atau semua partai Islam berbasis massa Islam berkumpul di sana, pasti nanti ada yang memilih calon yang lain, katakanlah calon dari nasionalis,” pungkasnya.
Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Riset dan Analisis (SUDRA) Fadhli Harahab menilai Koalisi Poros Partai Islam hanyalah sebuah angan-angan. "Hanya angan-angan. Apalagi melihat fragmentasi masing-masing Parpol yang cenderung memiliki kepentingan yang lebih besar atas golongannya ketimbang kepentingan koalisi yang berdasarkan pada Poros Islam itu sendiri," kata Fadhli secara terpisah.
Baca juga: Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Sebab, menurut dia, terlalu banyak perbedaan di internal parpol islam itu sendiri, mulai dari irisan geografis, pemahaman, hingga kondisi sosial budaya. Dia menilai perbedaan di internal itu bisa saja memicu perpecahan yang berakibat meruncingnya politik aliran di internal parpol Islam.
"Saya kira sejarah telah membuktikan bagaimana sulitnya mempersatukan parpol Islam menjadi sebuah poros yang kuat dan menentukan. Alih-alih bersatu, wacana poros Islam hanya akan menjadi marketing politik kelompok Islam tertentu untuk kepentingan politik jangka pendek," pungkasnya.
Namun, kata dia, tak tertutup kemungkinan parta-partai Islam disatukan oleh suatu momentum atau peristiwa. "Terutama misalkan kalau menemukan tokoh yang mau diusung sama-sama katakanlah misalnya Anies Baswedan pada pilpres yang akan datang, karena Anies naiknya di jabatan gubernur itu melalui nuansa warna dukungan kelompok-kelompok Islam, jadi isunya adalah penistaan agama, di luar isu-isu kebijakan Ahok, kemudian ada tokoh-tokoh seperti Rizieq Shihab GNPF, ulama, FPI, kemudian ada peristiwa 411 dan 212, jadi mungkin saja, menurut saya itu pun tidak akan mutlak atau semua partai Islam berbasis massa Islam berkumpul di sana, pasti nanti ada yang memilih calon yang lain, katakanlah calon dari nasionalis,” pungkasnya.
Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Riset dan Analisis (SUDRA) Fadhli Harahab menilai Koalisi Poros Partai Islam hanyalah sebuah angan-angan. "Hanya angan-angan. Apalagi melihat fragmentasi masing-masing Parpol yang cenderung memiliki kepentingan yang lebih besar atas golongannya ketimbang kepentingan koalisi yang berdasarkan pada Poros Islam itu sendiri," kata Fadhli secara terpisah.
Baca juga: Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Sebab, menurut dia, terlalu banyak perbedaan di internal parpol islam itu sendiri, mulai dari irisan geografis, pemahaman, hingga kondisi sosial budaya. Dia menilai perbedaan di internal itu bisa saja memicu perpecahan yang berakibat meruncingnya politik aliran di internal parpol Islam.
"Saya kira sejarah telah membuktikan bagaimana sulitnya mempersatukan parpol Islam menjadi sebuah poros yang kuat dan menentukan. Alih-alih bersatu, wacana poros Islam hanya akan menjadi marketing politik kelompok Islam tertentu untuk kepentingan politik jangka pendek," pungkasnya.
(zik)
Lihat Juga :