PKB Sebut Kunjungan Nadiem Makariem ke PBNU Sekedar Cari Suaka Politik

Jum'at, 23 April 2021 - 08:43 WIB
loading...
PKB Sebut Kunjungan Nadiem Makariem ke PBNU Sekedar Cari Suaka Politik
Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Luqman Hakim merasa klarifikasi permintaan maaf yang dilakukan Mendikbud Nadiem Makarim kepada PBNU belum cukup melegakan. FOTO/DOK.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Luqman Hakim menyatakan sebagai politikus PKB dirinya menghargai silaturrahim Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus memberikan klarifikasi dan minta maaf mengenai masalah Kamus Sejarah Indonesia.

Menurutnya, Kamus Sejarah Indonesia menjadi kontroversial karena tidak mencantumkan Ulama Besar Pendiri NU KH Hasyim Asyari dan Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dalam sejarah pendirian dan pembentukan karakter bangsa Indonesia.

"Masalah lainnya, di dalam Kamus Sejarah Indonesia itu, juga tidak dijelaskan mengenai peran Ulama Islam KH Wahid Hasyim dalam proses penyusunan Pancasila bersama Soekarno. Ironinya, justru narapidana teroris Abu Bakar Basyir ada di dalam dokumen ini," kata Luqman, Jumat (23/4/2021).

Baca juga: Kecewa, PBNU Siap Dukung Nadiem Sempurnakan Kamus Sejarah Indonesia

Dia menuturkan, sebagai bagian dari keluarga besar NU, dirinya merasa klarifikasi permintaan maaf yang dilakukan Mendikbud Nadiem Makarim kepada PBNU belum cukup melegakan. Kenapa? Pasalnya, keluarga besar NU selama ini sering menjadi korban dari penyusunan sejarah yang manipulatif, tidak jujur dan selalu peran ulama dan organisasi NU.

"Saya (dan juga keluarga besar NU) khawatir dalam penulisan Kamus Sejarah Indonesia masih akan merugikan umat Islam, khususnya NU," ujar Sekretaris Gerakan Sosial dan Kebencanaan DPP PKB ini.

Sebagai bukti, kata Luqman, Resolusi Jihad NU pada 22 Oktober 1945 yang berisi fatwa bahwa hukumnya wajib bagi setiap orang Islam berjuang mempertahankan kemerdekaan melawan penjajah yang kembali datang, selama ini disembunyikan dari dokumen sejarah. Padahal Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945 inilah awal mula adanya pertempuran Surabaya yang melahirkan hari Pahlawan 10 November. Tidak akan ada Hari Pahlawan 10 November jika tidak ada Resolusi Jihad NU 22 Oktoter.



Baca juga: Bertemu PBNU, Nadiem Makarim Jelaskan Hilangnya KH Hasyim Asy'ari di Kamus Sejarah

Dalam konteks ini, lanjut dia, negara akhirnya mengakui sejarah Resolusi Jihad NU 22 Oktober setelah PKB sebagai kekuatan politik NU menjadi bagian penting dari kekuasaan pemerintahan Presiden Jokowi melakukan berbagi langkah meluruskan sejarah pertempuran Surabaya. Di sisi lain, selama Orde Baru yang disokong Golkar dan ABRI berkuasa, sama sekali tidak pernah diungkap sejarah Resolusi Jihad NU 22 Oktober ini.

"Saya, selama menempuh pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, juga tidak pernah menemukan penjelasan peristiwa Resolusi Jihad NU 22 Oktober di dalam pelajaran sejarah. Ini bukanlah kelalaian. Manipulasi sejarah ini bukan hanya disengaja, tetapi dilakukan secara sistematis oleh kekuatan politik dan ekonomi yang besar," ujarnya.

"Saya tegaskan, bahwa sampai saat ini masih banyak fakta sejarah keperanan ulama, kiai dan NU dalam perkembangan bangsa Indonesia yang ditutup-ditutupi oleh kekuatan tertentu sehingga tidak diketahui masyarakat luas," sambung Luqman.
Halaman :
Mungkin Anda Suka
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1871 seconds (10.101#12.26)