Cadangan Listrik Lebih dari Cukup

loading...
Cadangan Listrik Lebih dari Cukup
Pemakaian energi listrik yang kini dimulai dari kompor listrik hingga kendaraan listrik bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan dan tuntutan zaman. (Ilustrasi: SINDOnews/Wawan Bastian)
KINI pemerintah terus berupaya mendorong penggunaan kompor listrik dan induksi hingga kendaraan listrik. Bukan sekadar ikuttrendi mana pemakaian energi listrik di berbagai negara terus meningkat, industri automotif berlomba-lomba memproduksi mobil berbahan bakar listrik. Niat pemerintah mendorong pemakaian energi listrik tak terlepas dari upaya menjaga ketahanan energi nasional. Saat ini angka-angka neraca perdagangan Indonesia selalu tertekan akibat impor bahan bakar minyak (BBM) danliquefied petroleum gas(LPG) yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu, penggunaan energi listrik pada kendaraan hingga kompor diyakini lebih ramah lingkungan sehingga Indonesia dapat mengambil peran dalam perubahan iklim.

Menjadi pertanyaan, seberapa besar ketersediaan pasokan listrik saat ini dan ke depan? Kapasitas terpasang pembangkit listrik hingga triwulan ketiga tahun lalu mencapai sebanyak 71.193 Megawatt (MW) atau 71,19 Gigawatt (GW). Adapun progres proyek kelistrikan 35.000 MW telah mencapai sekitar 35,55% pada kuartal ketiga 2020. Sementara itu, rasio elektrifikasi hingga triwulan keempat 2020 tercatat sekitar 99,20% dengan konsumsi listrik mencapai 1.089 kwh per kapita. Demikian data publikasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Saat ini, sebagaimana dibeberkan Executive Vice President of Engineering and Technology PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Zainal Arifin, Indonesia memiliki kapasitas listrik 63 GW dan cadangan listrik tercatat 21 GW. Berdasarkan hitungan pihak perusahaan pelat merah tersebut andaikan dalam waktu dekat jumlah mobil listrik di Indonesia mencapai 1 juta unit, diprediksi permintaan energi listrik bakal meningkat sebesar 2,5 GW hingga 3 GW. Artinya, pasokan listrik tidak menjadi masalah karena ketersediaan energi listrik lebih dari cukup.

Walau pihak PLN mengklaim bahwa pasokan listrik sangat memadai untuk menyuplai kebutuhan peralatan rumah tangga bertenaga listrik, seperti kompor listrik dan induksi hingga kendaraan listrik, namun sejumlah pihak tetap mewanti-wanti agar PLN tetap melakukan perhitungan yang matang. Dalam kaitan upaya PLN mendorong penggunaan kompor listrik terutama kompor induksi, Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan memberikan sejumlah catatan penting.Pertama, soal keandalan pasokan listrik PLN tidak boleh kendur sama sekali.Kedua, harga kompor harus terjangkau seluruh lapisan masyarakat.Ketiga, begitu pula harga peralatan yang dipakai berkaitan dengan kompor listrik dan induksi harus murah dan mudah didapatkan.

Pemakaian kompor listrik dan induksi sudah terbukti lebih hemat dari kompor gas. Pihak PLN mengklaim pemakaian kompor induksi lebih hemat ketimbang kompor gas. Dari hasil kajian teknis laboratorium Institut Teknologi PLN, masyarakat yang menggunakan kompor induksi bisa menghemat Rp40.000 hingga Rp50.000 per bulan dibandingkan menggunakan kompor gas. Hitung-hitungannya begini, untuk memasak seliter air dengan menggunakan kompor induksi 1.200 watt menghabiskan biaya Rp158, bandingkan dengan memakai kompor gas dengan tabung elpiji 12 kg dengan api maksimal memakan biaya Rp176.



Keunggulan lain terletak pada pengoperasian di mana kompor induksi tidak ada api yang menyala sehingga risiko terbakar lebih kecil. Lalu, apa bedanya antara kompor listrik dan kompor induksi? Yang jelas kedua kompor tersebut menggunakan energi listrik yang membedakan adalah cara kerja dari keduanya.

Rupanya, kompor induksi telah menjadi alat pemersatu bagi badan usaha milik negara (BUMN). Atas nama mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi nasional melalui gerakan penggunaan kompor induksi, delapan perusahaan pelat merah telah bekerja sama dan berkomitmen sesuai kapasitasnya masing-masing dalam upaya melancarkan pemasyarakatan penggunaan kompor induksi.

Langkah pemerintah dalam mengoptimalkan pemakaian energi listrik yang kini dimulai dari kompor listrik hingga kendaraan listrik bukan lagi sekadartren,itu merupakan sebuah kebutuhan dan tuntutan zaman. Tentu, kunci utama dari langkah pemerintah tersebut bagaimana mengamankan pasokan listrik. Hal ini harus dihitung secara cermat. Jangan sampai mengulang kegagalan program konversi penggunaan minyak tanah ke LPG. Ketika itu, harga LPG jauh lebih murah dan praktis ketimbang minyak tanah. Belakangan, konversi minyak tanah ke LPG jadi memberatkan kantong negara karena LPG harus diimpor yang pada akhirnya berpengaruh pada neraca perdagangan Indonesia.
(bmm)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top