Jangan Jemawa, Korona Makin Dekat dengan Kita

Selasa, 19 Mei 2020 - 07:15 WIB
loading...
Jangan Jemawa, Korona...
Publik melawan Corona.Foto/Dok Okezone
A A A
Pelonggaran kebijakan penanganan Covid-19 seperti rencana pembukaan mal, pasar, pertokoan, hingga sekolah dalam waktu dekat membuat banyak masyarakat kaget, penuh harap, sekaligus waswas. Dalam perspektif ekonomi, kebijakan itu bisa dipahami karena didasari asumsi untuk menggerakkan keuangan. Ketika aktivitas ekonomi bergerak lagi, ancaman pengangguran dan kemiskinan yang berpotensi menjadi masalah besar bangsa ini harapannya bisa dihindari.

Namun, asumsi ini tak cukup menjawab kekhawatiran publik. Di tengah penanganan Covid-19 yang belum tuntas, kebijakan ini memang cenderung kontraproduktif. Kita lihat, hingga kemarin, penambahan kasus positif baru terus terjadi. Tak hanya di wilayah Jakarta dan sekitarnya, tren kenaikan juga tampak di berbagai daerah. Demikian di level global, kurva peningkatan kasus juga masih menanjak hingga menembus 4,8 juta orang.

Dengan fakta ini, sejatinya, Covid-19 di Indonesia belum tuntas. Data yang muncul di publik pun hakikatnya belum mampu memotret situasi yang terjadi sesungguhnya. Apakah rapid test selama ini sudah menjangkau seluruh penduduk Indonesia? Jangankan seluruh penduduk yang jumlahnya hampir 270 juta jiwa, 10% dari total itu pun belum terjangkau.

Ini artinya apa? Semua pihak masih meraba-raba. Kapan puncak pandemi ini bakal terjadi pun, semua juga masih berbasis prediksi. Jawa Timur, misalnya, Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 setempat memperkirakan puncak pandemi terjadi Juni nanti. Kisaran jumlah kasus yang diperkirakan mencapai 4.000. Keyakinan itu muncul karena saat ini kasus sudah mencapai sekitar 2.000-an. Demikian hitung-hitungan Gugus Tugas dengan segala asumsi yang ada. Namun, sejauh mana tes cepat ini sudah dilakukan, juga masih menyisakan pertanyaan. Belum lagi melihat rencana pemerintah menciptakan kehidupan dengan new normal style dalam waktu dekat, tampaknya prediksi itu perlu direvisi.

Ikhtiar new normal l ewat kebijakan pelonggaran seperti membuka aktivitas lagi fasilitas umum, sekali lagi, adalah menjadi strategi demi memberi nyawa kembali kehidupan yang sempat mati suri. Dalam konteks ideal, semestinya pelonggaran hanya bisa dilakukan jika antivirus sudah ditemukan dan berhasil menyembuhkan. Atau, setidaknya, kasus ini benar-benar teratasi dengan penurunan jumlah korban meninggal secara signifikan.

Kini, pelonggaran sebagian telah berjalan seperti di sektor transportasi. Jika pelonggaran lebih besar benar akan dimulai 1 Juni nanti, yang perlu ditekankan adalah pentingnya saling menjaga diri dan lingkungan terdekat. Pesan ini penting karena tanpa kesadaran pribadi lebih dini, potensi ledakan kasus bisa saja terjadi. Pemerintah memang memiliki asumsi bahwa penduduk di bawah usia 45 tahun lebih kuat sehingga dianjurkan bekerja normal. Namun, siapa yang bisa menjamin bahwa golongan ini tak bisa terpapar ganasnya Covid-19? Siapa pula bisa menjamin, golongan ini bisa aware terhadap lingkungan terdekatnya seperti kala sampai rumah atau bertemu dengan kerabatnya.

Siapa pula yang bisa menjamin bahwa saat pasar dan mal dibuka, ada standar dan prosedur tegas yang berpatokan pada protokol kesehatan Covid-19. Lebih-lebih ketika pada 15 Juni nanti saat sekolah beroperasi kembali, siapa yang bisa menjamin anak-anak kita bisa tidak akan tertular virus ini. Apakah mereka dengan segala ‘naluri kebebasannya’ sudah memiliki kesadaran tinggi menjaga kesehatan? Apakah keyakinan bahwa herd immunity akan terbentuk dalam situasi ini benar-benar sudah terukur? Semuanya masih keyakinan semu yang belum teruji empirik.

Dengan fakta ini, sejatinya, ketika new normal diberlakukan, virus-virus korona sangat mungkin makin dekat dengan kita. Di tengah kondisi ini, tidak ada strategi jitu yang lebih baik kecuali menguatkan imunitas diri secara berkelanjutan. Masing-masing dari diri kita jangan jemawa, tapi harus memiliki kesadaran tinggi bahwa virus ini belum berhenti dan masih menjadi ancaman bersama.
(zil)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Grounded Garuda dari...
Grounded Garuda dari Haji, Mungkinkah?
Pertarungan Final Prancis...
Pertarungan Final Prancis Vs Jerman Berebut Kapal Selam Indonesia
Pelajaran Berarti dari...
Pelajaran Berarti dari Kertajati
Latihan Gabungan Militer...
Latihan Gabungan Militer dan Diplomasi Pertahanan
ASEAN Benteng Stabilitas...
ASEAN Benteng Stabilitas Indo-Pasifik
Antara Telur dan Tembakau
Antara Telur dan Tembakau
Menanti BBM Turun Harga
Menanti BBM Turun Harga
Rekomendasi
5 Kebiasaan Buruk yang...
5 Kebiasaan Buruk yang Diam-diam Merusak Tubuh, dari Asupan Makanan hingga Stres
Mojtaba Khamenei: Iran...
Mojtaba Khamenei: Iran dan AS Capai Kesepakatan karena Trump Putus Asa
AS atau Iran yang Menang...
AS atau Iran yang Menang Perang? Ini Jawaban Mengejutkan 10 Pakar Militer
Berita Terkini
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangkap, Refly Harun: Kami Berharap Penahanan Ini Ditangguhkan!
Babak Baru Ijazah Jokowi,...
Babak Baru Ijazah Jokowi, Kala Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangkap Polda Metro Jaya, Segera Disidang?
Kronologi Penangkapan...
Kronologi Penangkapan Roy Suryo dan Dr. Tifa oleh Polda Metro, Refly: Tidak Ada Tanda-tanda
Ditangkap Polda Metro...
Ditangkap Polda Metro Jaya, Dokter Tifa: Tepat saat Saya Menghadap Ujian S3
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangkap Polda Metro Jaya di Jakarta
KPK Telusuri Pembelian...
KPK Telusuri Pembelian Aset Fadia Arafiq saat Jabat Bupati Pekalongan
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved