Terumbu Karang di Tengah Pandemi

Selasa, 19 Mei 2020 - 07:00 WIB
loading...
A A A
Sebelum virus korona muncul, tentu saja terumbu karang menerima dampak langsung yang timbul dari aktivitas wisata bahari, seperti kontak fisik, baik sengaja maupun tidak disengaja terhadap terumbu karang saat wisatawan melakukan diving atau snorkeling . Gangguan (disturbance ) tersebut secara kumulatif berkontribusi menekan terumbu karang (Hawkins et al,2005). Belum lagi ditambah kegiatan destructive fishing, illegal fishing , dan perubahan iklim global yang membuat suhu air laut meningkat sehingga berdampak terhadap pemerosotan luas tutupan karang.

Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan (archipelago state ) dengan luas terumbu karang sebesar 2,5 juta hektare. Kurang lebih dua per tiga jenis karang dunia dapat dijumpai di Indonesia, itu sebabnya negara kita diklasifikasikan berada dalam segitiga karang (coral triangle ) dunia. Ada hal yang menarik yaitu, terdapat 569 jenis karang keras (ordo Scleractinia) dari 845 total spesies karang dunia atau sebesar 67% berada di perairan Indonesia. Angka itu tampak begitu besar. Apa jadinya kalau luas tutupan karang Indonesia berkurang? Dipastikan akan terjadi penurunan fungsi ekologis dan ekonomis yang dimiliki terumbu karang itu sendiri.

Terumbu karang diketahui mampu mengurangi erosi, sebagai tempat penyedia makanan bagi biota laut, tempat berlindung dan tempat pemijahan (nursery ground ) bagi beberapa biota karang ekonomis seperti jenis ikan karang, tiram mutiara, udang karang, dan biota karang ekonomis lainnya. Bayangkan saja bila kualitas dan tutupan karang menurun, masyarakat di kawasan pesisir dan para operator wisata bahari yang menggantungkan hidup dari kunjungan wisatawan pasti merugi. Faktor penyebabnya jelas. Keindahan panorama objek bawah laut yang dulu menawan bagi wisatawan dirasa kurang atraktif lagi. Di sisi lain, nelayan akan menjerit akibat gagal memenuhi permintaan konsumen atas ikan karang dan beberapa biota karang ekonomis.

Kini gangguan berkurang drastis. Berkat virus korona, manusia dipaksa mengurung diri di dalam rumah. Fenomena ini pun dimanfaatkan terumbu karang dengan melancarkan strategi pemulihan pascamengalami gangguan. Komunitas terumbu karang yang bertahan setelah berlalunya gangguan, selanjutnya pada fase pemulihan akan mereorganisasi komunitas terumbu karang yang baru. Mengutip Nystrom dan Folke (2001) secara alamiah proses ini bergantung pada memori ekologis ekosistem terumbu karang yang merupakan komposisi dan distribusi organisme serta interaksi dalam ruang dan waktu, termasuk pengalaman (life history ) dengan lingkungan. Kita berharap proses pemulihan terumbu karang didukung oleh semesta agar berlangsung sempurna.

Melestarikan Terumbu Karang

Jika ingin terhindar dari bencana ekologi dan bencana ekonomi pada masa yang akan datang, maka misi menjaga kelestarian terumbu karang wajib dijalankan. Menurut hemat penulis, ada beberapa cara yang dapat ditempuh supaya terumbu karang tetap lestari. Pertama, implementasi visitor management system yang terintegrasi di seluruh kawasan wisata bahari. Sistem ini mencoba mengawinkan aspek dari nilai manfaat terumbu karang (co-benefit ) dan peran dalam menjaga keseimbangan ekologis (co-environment ).

Konsepnya merujuk pada jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di suatu kawasan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan terhadap ekosistem terumbu karang. Apabila suatu kawasan jumlah pengujung yang melakukan diving dan snorkeling telah menyentuh ambang batas yang ditentukan, maka secara otomatis pengujung yang baru nantinya ditawarkan jenis aktivitas wisata bahari yang lain atau disarankan melakukan aktivitas sejenis di titik yang berbeda.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
NU dan Arsitektur Peradaban...
NU dan Arsitektur Peradaban Abad Kedua
Menakar Masa Depan di...
Menakar Masa Depan di Balik Dana Abadi Daerah
Smartwatch AI, Kala...
Smartwatch AI, Kala Algoritma Mulai Membentuk Cara Kita Menilai Diri
Masalah Perampasan Aset...
Masalah Perampasan Aset Tindak Pidana
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Transformasi Standar...
Transformasi Standar Nasional dan Akreditasi Pendidikan Tinggi: Kebutuhan untuk Wujudkan Merdeka Belajar
Ini Strategi Public...
Ini Strategi Public Relations Jaga Reputasi Perusahaan
Tasawuf dan Ketiadaan
Tasawuf dan Ketiadaan
Rekomendasi
Tak Mau Tarik Pasukan...
Tak Mau Tarik Pasukan Zionis, Israel Justru Izinkan Tentara Maroko dan Uganda Berjaga di Rafah
Mengapa Pentagon Diam-diam...
Mengapa Pentagon Diam-diam Ubah Jumlah Tentara yang Terluka dan Tewas Akibat Perang Iran?
Cara Islam Mengelola...
Cara Islam Mengelola Konflik Rumah Tangga: Teladan Rasulullah, Fatimah, dan Ali bin Abi Thalib
Berita Terkini
PBNU Minta Jaksa Agung...
PBNU Minta Jaksa Agung Tak Kendur Berantas Korupsi meski Diterpa Kasus Jampidsus
Wabup Maluku Tengah...
Wabup Maluku Tengah Sebut Bimtek Perindo Jadi Ajang Konsolidasi Menuju Pemilu 2029
Mengakhiri Beban Ganda...
Mengakhiri Beban Ganda Zakat dan Pajak
Momen Angela Tanoesoedibjo...
Momen Angela Tanoesoedibjo Apresiasi Legislator Perindo yang Aktif Kawal APBD dan Turun ke Masyarakat
Mengoptimalkan Potensi...
Mengoptimalkan Potensi Sawit sebagai Sumber Energi Terbarukan
KPK Tegaskan Tidak Ada...
KPK Tegaskan Tidak Ada Perlakuan Istimewa terhadap Febrie Adriansyah
Infografis
10 Pemain Tercepat di...
10 Pemain Tercepat di Piala Dunia 2026: Mbappe Kalahkan Haaland
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved