Perang Tagar dan Pesan Berantai Andi Arief Pertanda KLB Demokrat Makin Dekat
Kamis, 04 Maret 2021 - 00:19 WIB
loading...
A
A
A
"Dalam teori dan strategi diseminasi informasi, broadcast WhatsApp tersebut bisa dimaknai sesuai persepsi masing-masing," kata Ninoy.
Beredarnya broadcast yang berisi permintaan penyelenggaraan KLB Demokrat, menunjukkan adanya kegerahan di dalam internal Demokrat. "Bisa jadi cuitan itu digunakan oleh internal Demokrat yang terusik oleh gerakan mendongkel AHY, untuk membela diri dengan cara playing victim, menyalahkan pihak lain seperti para kader yang dipecat," ujarnya.
Menurut Ninoy, hanya Telkomsel dan pihak berwajib yang mengetahui siapa yang menyebarkan pesan berantai itu.
Adanya perang tagar dan pesan berantai berisi dorongan KLB dari nomor Andi Arief, kata Ninoy, menunjukkan dinamika konflik internal Demokrat semakin tajam. Strategi menguasai media sosial dan media menjadi sangat penting dan Demokrat kubu AHY dalam posisi tertekan. Terlebih lagi ketika AHY dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melibatkan Presiden Joko Widodo dan Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko.
"Tampaknya ada suasana kepanikan terkait informasi KLB yang semakin hari semakin berkembang, termasuk adanya pernyataan dari Barisan Massa Demokrat di 28 provinsi mendesak AHY untuk mundur sebagai Ketum Demokrat dan KLB tampaknya tinggal menunggu waktu," katanya.
Beredarnya broadcast yang berisi permintaan penyelenggaraan KLB Demokrat, menunjukkan adanya kegerahan di dalam internal Demokrat. "Bisa jadi cuitan itu digunakan oleh internal Demokrat yang terusik oleh gerakan mendongkel AHY, untuk membela diri dengan cara playing victim, menyalahkan pihak lain seperti para kader yang dipecat," ujarnya.
Menurut Ninoy, hanya Telkomsel dan pihak berwajib yang mengetahui siapa yang menyebarkan pesan berantai itu.
Adanya perang tagar dan pesan berantai berisi dorongan KLB dari nomor Andi Arief, kata Ninoy, menunjukkan dinamika konflik internal Demokrat semakin tajam. Strategi menguasai media sosial dan media menjadi sangat penting dan Demokrat kubu AHY dalam posisi tertekan. Terlebih lagi ketika AHY dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melibatkan Presiden Joko Widodo dan Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko.
"Tampaknya ada suasana kepanikan terkait informasi KLB yang semakin hari semakin berkembang, termasuk adanya pernyataan dari Barisan Massa Demokrat di 28 provinsi mendesak AHY untuk mundur sebagai Ketum Demokrat dan KLB tampaknya tinggal menunggu waktu," katanya.
(abd)
Lihat Juga :