Vaksin Massal dan Sebar Pengetahuan lewat Digital Literacy Talks
Sabtu, 27 Februari 2021 - 15:28 WIB
loading...
A
A
A
Para pembicara meyakini bahwa konten media sosial yang banyak dibanjiri berita hoaks tidak akan selama menjadi santapan informasi yang disukai publik. Popularitas berbeda dengan akseptabilitas. Media sosial memang popular, namun bukan berarti diterima (aksep) oleh publik. Media sosial merupakan “frenemy”, friend (teman) sekaligus enemy (musuh) bagi masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial menyediakan banyak informasi yang baik sekaligus yang tidak bertanggung jawab di sisi lain.
Kedua perwakilan media menunjukkan bahwa tren di media masing-masing justru tetap memiliki pembaca yang setia dengan hasil tulisan yang mendalam. Angka pertumbuhan pembaca yang menghendaki slow journalism justru meningkat. Hasil diskusi ini menghadirkan optimisme bahwa “virus infodemik” yang juga sangat menggangu proses penerimaan vaksinasi Covid-19, tidak akan selamanya menguasai publik, ketika jurnalisme dan awak media terus belajar untuk mengembangkan konten informasi yang beragam (diversity), mendalam dan cermat, maka kita tetap bisa memiliki kehidupan berbangsa yang sehat.
Diskusi lainnya bertajuk Imunisasi dalam Kacamata Sosial, Budaya, dan Demografi Indonesia: Peluang & Tantangan. Digital literacy talks ini menghadirkan Nadia Wiweko (Kemenkes); Rizky Ika Syafitri (UNICEF Indonesia); Ari Soegeng Wahyuniarti (BAKTI, Kemenkominfo); Moderator, Devie Rahmawati (Vokasi UI).
Diskusi ini mengungkapkan bahwa penolakan sebagian masyarakat untuk divaksin disebabkan sedikitnya tiga alasan, yaitu keamanan, efektifitas vaksin, disusul alasan kultural seperti keyakinan tertentu. Untuk itu dibutuhkan strategi komunikasi yang sistematis dan efektif seperti pilihan produksi materi komunikasi, sebaiknya dapat diterima dan dipahami oleh penerima sasaran program komunikasi.
Bila diperlukan, informasi dapat diberikan dalam bahasa daerah. Saluran komunikasi yang digunakan juga harus disesuaikan dengan medium yang menjadi media utama yang digunakan oleh masyarakat. Tidak promosi Kesehatan misalnya menggunakan sosial media secara masif. Sebagian justru akan efektif ketika menggunakan suara dari para tokoh yang dipercaya oleh publik, salah satunya para dokter.
Itulah mengapa, dokter dan tenaga Kesehatan menjadi salah satu target dari sosialisasi kebijakan vaksin. Karena penelitian menunjukkan bahwa keyakinan dan keinginan untuk vaksin di kalangan nakes, tidak 100%.
Berita hoaks memang menjadi tantangan besar, mengingat studi menunjukkan dalam waktu 5 menit, berita hoaks dapat menyebar hingga 10 lapisan lingkaran pertemanan. Sedangkan, verifikasi sebuah berita, yang misalnya dilakukan dalam dua jam proses komunikasi, belum tentu menyentuh hingga 10 lapisan. Berita hoaks untuk isu vaksin saja jumlah sekitar 1.300 informasi hoaks, dimana setiap hari diperkirakan muncul 5 hoaks.
Kedua perwakilan media menunjukkan bahwa tren di media masing-masing justru tetap memiliki pembaca yang setia dengan hasil tulisan yang mendalam. Angka pertumbuhan pembaca yang menghendaki slow journalism justru meningkat. Hasil diskusi ini menghadirkan optimisme bahwa “virus infodemik” yang juga sangat menggangu proses penerimaan vaksinasi Covid-19, tidak akan selamanya menguasai publik, ketika jurnalisme dan awak media terus belajar untuk mengembangkan konten informasi yang beragam (diversity), mendalam dan cermat, maka kita tetap bisa memiliki kehidupan berbangsa yang sehat.
Diskusi lainnya bertajuk Imunisasi dalam Kacamata Sosial, Budaya, dan Demografi Indonesia: Peluang & Tantangan. Digital literacy talks ini menghadirkan Nadia Wiweko (Kemenkes); Rizky Ika Syafitri (UNICEF Indonesia); Ari Soegeng Wahyuniarti (BAKTI, Kemenkominfo); Moderator, Devie Rahmawati (Vokasi UI).
Diskusi ini mengungkapkan bahwa penolakan sebagian masyarakat untuk divaksin disebabkan sedikitnya tiga alasan, yaitu keamanan, efektifitas vaksin, disusul alasan kultural seperti keyakinan tertentu. Untuk itu dibutuhkan strategi komunikasi yang sistematis dan efektif seperti pilihan produksi materi komunikasi, sebaiknya dapat diterima dan dipahami oleh penerima sasaran program komunikasi.
Bila diperlukan, informasi dapat diberikan dalam bahasa daerah. Saluran komunikasi yang digunakan juga harus disesuaikan dengan medium yang menjadi media utama yang digunakan oleh masyarakat. Tidak promosi Kesehatan misalnya menggunakan sosial media secara masif. Sebagian justru akan efektif ketika menggunakan suara dari para tokoh yang dipercaya oleh publik, salah satunya para dokter.
Itulah mengapa, dokter dan tenaga Kesehatan menjadi salah satu target dari sosialisasi kebijakan vaksin. Karena penelitian menunjukkan bahwa keyakinan dan keinginan untuk vaksin di kalangan nakes, tidak 100%.
Berita hoaks memang menjadi tantangan besar, mengingat studi menunjukkan dalam waktu 5 menit, berita hoaks dapat menyebar hingga 10 lapisan lingkaran pertemanan. Sedangkan, verifikasi sebuah berita, yang misalnya dilakukan dalam dua jam proses komunikasi, belum tentu menyentuh hingga 10 lapisan. Berita hoaks untuk isu vaksin saja jumlah sekitar 1.300 informasi hoaks, dimana setiap hari diperkirakan muncul 5 hoaks.
Lihat Juga :