Vaksin Massal dan Sebar Pengetahuan lewat Digital Literacy Talks

loading...
Vaksin Massal dan Sebar Pengetahuan lewat Digital Literacy Talks
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Kementerian Kesehatan dan Dewan Pers melaksanakan vaksinasi Covid-19 bagi awak media. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
JAKARTA - Bertempat di Hall Basket, Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Kementerian Kesehatan dan Dewan Pers melaksanakan vaksinasi Covid-19 bagi awak media se- Jabodetabek, Jumat 26 Februari 2021.

Vaksinasi hari pertama telah diikuti oleh 1.545 awak media dari target 5.512 awak media selama tiga hari kegiatan.

Selama proses pelaksanaan vaksin masal, Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama dengan Siberkreasi juga menggelar talkshow dengan mengundang narasumber dari berbagai mitra kerja yang mempunyai keahlian yang sesuai dengan topik diskusi.Baca juga: Lampaui Jakarta, Nakes di Kabupaten Bekasi yang Belum Divaksin Covid-19 hanya Tersisa 10%

Tema yang diangkat, mengacu pada pilar-pilar literasi digital Indonesia; pilar-pilar tersebut diantaranya adalah Digital Skill, Digital Culture, Digital Ethic, Digital Safety, Digital Economy, dan Digital Society.
Salah satu digital literacy talks bertajuk Kekuatan Jurnalisme dalam Sosialisasi Vaksin Covid-19.

Diskusi ini menghadirkan Agus Sudibyo (Dewan Pers Indonesias); Yogi Arief Nugraha (Kompas TV) dan Djaka Susila (SINDOnews) dengan moderator Devie Rahmawati (Vokasi UI).Baca juga: Awas Vaksin Covid-19 Palsu, BPKN Imbau Seluruh K/L Waspada



Dalam diskusi ini terungkap bahwa salah satu tantangan dari menghadirkan informasi yang benar dan tepat adalah maraknya serbuan berita hoaks yang memang diproduksi dengan sangat cepat, karena tidak memerlukan verifikasi sebagaimana halnya jurnalisme, yang memang melalui proses verifikasi yang panjang.

Jurnalisme dalam prosesnya pasti memastikan bahwa informasi yang diproduksi menggunakan nara sumber yang kredibel bukan yang hanya kontroversial, jurnalisme yang akurat bukan hanya cepat, mengedepankan kualitas bukan kuantitas. Walau terungkap juga, ada “rezim traffic” yang mendorong jurnalis kadang terjebak dalam godaan untuk memenangkan kompetisi bisnis semata, bukan mencerdaskan pembaca.

Para pembicara meyakini bahwa konten media sosial yang banyak dibanjiri berita hoaks tidak akan selama menjadi santapan informasi yang disukai publik. Popularitas berbeda dengan akseptabilitas. Media sosial memang popular, namun bukan berarti diterima (aksep) oleh publik. Media sosial merupakan “frenemy”, friend (teman) sekaligus enemy (musuh) bagi masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial menyediakan banyak informasi yang baik sekaligus yang tidak bertanggung jawab di sisi lain.

Kedua perwakilan media menunjukkan bahwa tren di media masing-masing justru tetap memiliki pembaca yang setia dengan hasil tulisan yang mendalam. Angka pertumbuhan pembaca yang menghendaki slow journalism justru meningkat. Hasil diskusi ini menghadirkan optimisme bahwa “virus infodemik” yang juga sangat menggangu proses penerimaan vaksinasi Covid-19, tidak akan selamanya menguasai publik, ketika jurnalisme dan awak media terus belajar untuk mengembangkan konten informasi yang beragam (diversity), mendalam dan cermat, maka kita tetap bisa memiliki kehidupan berbangsa yang sehat.

Diskusi lainnya bertajuk Imunisasi dalam Kacamata Sosial, Budaya, dan Demografi Indonesia: Peluang & Tantangan. Digital literacy talks ini menghadirkan Nadia Wiweko (Kemenkes); Rizky Ika Syafitri (UNICEF Indonesia); Ari Soegeng Wahyuniarti (BAKTI, Kemenkominfo); Moderator, Devie Rahmawati (Vokasi UI).



Diskusi ini mengungkapkan bahwa penolakan sebagian masyarakat untuk divaksin disebabkan sedikitnya tiga alasan, yaitu keamanan, efektifitas vaksin, disusul alasan kultural seperti keyakinan tertentu. Untuk itu dibutuhkan strategi komunikasi yang sistematis dan efektif seperti pilihan produksi materi komunikasi, sebaiknya dapat diterima dan dipahami oleh penerima sasaran program komunikasi.

Bila diperlukan, informasi dapat diberikan dalam bahasa daerah. Saluran komunikasi yang digunakan juga harus disesuaikan dengan medium yang menjadi media utama yang digunakan oleh masyarakat. Tidak promosi Kesehatan misalnya menggunakan sosial media secara masif. Sebagian justru akan efektif ketika menggunakan suara dari para tokoh yang dipercaya oleh publik, salah satunya para dokter.

Itulah mengapa, dokter dan tenaga Kesehatan menjadi salah satu target dari sosialisasi kebijakan vaksin. Karena penelitian menunjukkan bahwa keyakinan dan keinginan untuk vaksin di kalangan nakes, tidak 100%.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top