Mengandalkan Konsumsi (Lagi)

loading...
Pemerintah dan stakeholder terkait kini memang fokus pada sektor konsumsi. Maklum, karena sektor ini menjadi salah satu andalan untuk menopang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nasional di samping investasi.

Konsumsi menjadi tumpuan karena sektor lain seperti ekspor-impor masih belum menunjukkan kinerja memuaskan akibat tekanan di pasar global. Sepanjang tahun lalu, ekspor kita ke luar negeri mengalami kontraksi alias turun 2,61%. Khusus ekspor nonmigas turun 0,57%. Penurunan juga terjadi di sektor impor yakni sebesar 17,4%. Pada pos ini, impor sektor nonmigas juga turun 14,78%.

Sekadar diketahui, sektor konsumsi rumah tangga pada tahun lalu berkontribusi sebesar 58% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Artinya, lebih dari separuh ekonomi dalam negeri mengandalkan sektor konsumsi.

Tahun lalu, data BPS menyebutkan bahwa sektor konsumsi rumah tangga terkontraksi 2,63% akibat banyaknya warga yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi. Kondisi ini membuat konsumsi rumah tangga tertekan. Beruntung, pada 2020 konsumsi pemerintah masih mencatatkan hasil positif dengan pertumbuhan 1,94%.

Terkait kebijakan penurunan suku bunga acuan BI menjadi 3,5% serta DP kredit kendaraan dan properti 0%, ini tentu akan menjadi kabar baik bagi industri terkait. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyambut baik aturan tersebut karena diprediksi bisa mengembalikan daya beli masyarakat yang sempat lesu.

Gaikindo juga berharap, kebijakan itu bisa mengerek penjualan mobil tahun ini ke angka 750.000 unit, lebih baik dibanding penjualan tahun lalu yang hanya 500.000-an unit. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan masa sebelum pandemi yang rata-rata bisa mencetak penjualan di atas 1 juta unit per tahun.

Lebih jauh, Gaikindo berpendapat, kebijakan untuk merelaksasi DP kendaraan lebih jauh diharapkan bisa menggerakkan sektor automotif dan turunannya yang banyak melibatkan tenaga kerja baik secara langsung maupun tidak langsung.

Penurunan suku bunga acuan dan DP 0% juga diharapkan bisa mengerek sektor properti yang tahun lalu tak luput dari dampak korona. Menurut data yang dirilis BI, pada kuartal IV/2020 masih terjadi kontraksi penjualan properti residential sebesar -20,59%. Angka itu sedikit membaik dibanding dengan kuartal sebelumnya di mana minusnya mencapai 30,9%.
(war)
halaman ke-2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top