Calon Ketum PB PMII Bicara Dilema Tren Kekinian
Jum'at, 19 Februari 2021 - 20:00 WIB
loading...
A
A
A
Lebih jauh lagi, kata dia, jika diukur melalui penilaian Global Youth Development Indeks, Indonesia menduduki peringkat 138 dari 183 negara seluruh dunia. Penilaian ini didasarkan pada 5 variabel utama, yakni pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, lapangan dan kesempatan kerja, partisipasi dan kepemimpinan, serta diskriminasi dan gender.
"Itu jelas bukan berita baik. Tentu skor buruk ini menjadi gambaran besar kualitas anak muda Indonesia yang hanya berkutat pada mimpi-mimpi individual," tuturnya. Baca juga: Rafsanjani dan Gagasan Bersama Menggerakkan Indonesia
Lebih lanjut dia mengatakan, semangat perubahan anak muda Indonesia mampu menggetarkan lebih dari separuh bola dunia ini seolah tenggelam terbawa arus modernisasi semu dan gaya hidup medioker. "Saatnya kita mengubah tren, dari sekadar bergaya di berbagai platform media sosial, sex bebas, dan narkoba. Menjadi anak muda produktif, aktif bermasyarakat dan gerakan pengorganisiran massa. Semata-mata demi masa depan Indonesia," katanya.
Dia melanjutkan, sosial media adalah alat perjuangan, bukan memperalat kita dengan konsumerisme. Dia juga menceritakan tentang Wabah dan Bonus Demografi. Kata dia, sepanjang 2020 dunia mengalami wabah Covid-19. Wabah berimplikasi pada mati surinya gerak ekonomi dunia.
"Virus ini menular hingga mampu memaksa seluruh aktivitas ekonomi menurunkan kuantitas produksi bahkan tidak sedikit menghentikan produksi alias bangkrut," ujarnya.
Matinya aktivitas usaha, lanjut dia, berimplikasi langsung pada ekonomi masyarakat grassroot. Naiknya tingkat kemiskinan sebesar 1,63 juta orang pada Maret 2020. "Artinya penduduk miskin negara kita pada Maret 2020 sebesar 26,42 juta orang," katanya.
Dia menuturkan, meningkatnya kemiskinan nasional karena wabah Covid-19, dalam kurun satu bulan pasca kasus pertama Covid-19 muncul di Depok, memperburuk keadaan anak muda yang gemar kerumunan. Bahayanya, ujar dia, apabila terjadi kerumunan terkadang abai pada protokol kesehatan.
"Itu jelas bukan berita baik. Tentu skor buruk ini menjadi gambaran besar kualitas anak muda Indonesia yang hanya berkutat pada mimpi-mimpi individual," tuturnya. Baca juga: Rafsanjani dan Gagasan Bersama Menggerakkan Indonesia
Lebih lanjut dia mengatakan, semangat perubahan anak muda Indonesia mampu menggetarkan lebih dari separuh bola dunia ini seolah tenggelam terbawa arus modernisasi semu dan gaya hidup medioker. "Saatnya kita mengubah tren, dari sekadar bergaya di berbagai platform media sosial, sex bebas, dan narkoba. Menjadi anak muda produktif, aktif bermasyarakat dan gerakan pengorganisiran massa. Semata-mata demi masa depan Indonesia," katanya.
Dia melanjutkan, sosial media adalah alat perjuangan, bukan memperalat kita dengan konsumerisme. Dia juga menceritakan tentang Wabah dan Bonus Demografi. Kata dia, sepanjang 2020 dunia mengalami wabah Covid-19. Wabah berimplikasi pada mati surinya gerak ekonomi dunia.
"Virus ini menular hingga mampu memaksa seluruh aktivitas ekonomi menurunkan kuantitas produksi bahkan tidak sedikit menghentikan produksi alias bangkrut," ujarnya.
Matinya aktivitas usaha, lanjut dia, berimplikasi langsung pada ekonomi masyarakat grassroot. Naiknya tingkat kemiskinan sebesar 1,63 juta orang pada Maret 2020. "Artinya penduduk miskin negara kita pada Maret 2020 sebesar 26,42 juta orang," katanya.
Dia menuturkan, meningkatnya kemiskinan nasional karena wabah Covid-19, dalam kurun satu bulan pasca kasus pertama Covid-19 muncul di Depok, memperburuk keadaan anak muda yang gemar kerumunan. Bahayanya, ujar dia, apabila terjadi kerumunan terkadang abai pada protokol kesehatan.