Menag Pastikan Akan Evaluasi Penyelenggaraan Umrah

loading...
Menag Pastikan Akan Evaluasi Penyelenggaraan Umrah
Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas saat menerima perwakilan asosiasi-asosiasi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) di Kantor Kementerian Agama, Jakarta. Foto/SINDOnews
JAKARTA - Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas menyebut akan mengevaluasi kembali kebijakan penyelenggaraan umrah di masa pandemi. Hal ini disampaikan Menag Yaqut saat menerima perwakilan asosiasi-asosiasi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) di Kantor Kementerian Agama, Jakarta.

“Nanti kita akan lakukan evaluasi kembali semuanya, dan tentunya berkoordinasi dengan Satgas COVID-19 agar penyelenggaraan umrah tetap aman bagi jamaah,” ujar Yaqut yang didampingi Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kemenag Arfi Hatim dari keterangan yang diterima MNC Portal Indonesia, Selasa (16/2/2021). Baca juga: Tiba di Madinah, Rombongan Jamaah Umrah Penghargaan KSAD Lakukan Karantina

Sebelumnya, Pemerintah Arab Saudi sempat menutup akses untuk melakukan ibadah umrah bagi jemaah Indonesia pada 27 Februari 2020 untuk mencegah penyebaran COVID-19 yang saat itu baru mewabah di dunia. Kemudian, akses dibuka pada November 2020. Belum genap tiga bulan sejak dibuka, Saudi kembali menutup akses umrah bagi jemaah Indonesia pada 4 Februari 2021.

Yaqut mengajak seluruh pihak memanfaatkan momen ditutupnya umrah ini untuk melakukan evaluasi. “Jadi nanti kalau Saudi sudah membuka kembali akses umrah, kita sudah betul-betul siap,” tuturnya.



Ia juga mengingatkan PPIU untuk dapat membantu pemerintah dalam menyukseskan penyelenggaraan umrah di masa pandemi. “Salah satunya, kami betul-betul meminta PPIU untuk dapat mengedukasi jamaah kita bila nanti ibadah umrah dibuka lagi,” pesan Yaqut.

“Jangan sampai saat di Tanah Suci, jamaah masih ada yang kedapatan coba-coba tidak menaati protokol kesehatan di Arab Saudi. Karena menurut laporan, masih banyak yang kedapatan melanggar di sana. Saya berharap jemaah umrah kita dapat menjadi contoh bagi dunia,” imbuhnya.

Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua GAPURA Alisan, Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Firman M Nur, Sekjen Forum Silaturahmi Asosiasi Travel Haji dan Umroh (Forum SATHU) Mukharom, serta beberapa jajaran pengurus asosiasi.

Kepada Menag, para perwakilan asosiasi ini menyampaikan beberapa keluhan terkait dengan penyelenggaraan ibadah umrah di masa pandemi. Salah satunya adalah aturan karantina selama enam hari lima malam paska kepulangan dari Tanah Suci.

“Ini cukup memberatkan bagi jamaah. Karena mereka harus menanggung biaya karantina sendiri dan itu cukup besar, sekitar 4-5 juta per jamaah,” ungkap Ketua AMPHURI Firman M Nur. Baca juga: Umrah Ditunda, Sapuhi Minta Jamaah Tidak Ambil Dana yang Telah Dibayarkan

“Terasa makin berat, karena kebanyakan jamaah yang kita berangkatkan ini kan yang tertunda keberangkatannya sejak Maret 2020. Nah mereka juga sebelumnya sudah diminta menambah biaya umrah, karena berubahnya harga referensi. Yang semula minimal 20 juta, berubah menjadi 26 juta,” sambung Firman.
(kri)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top