Angin Segar Amerika Serikat di Asia?
Senin, 04 Januari 2021 - 06:05 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, tulisan Joe Biden yang berjudul Why America Must Lead Again: Rescuing U.S. Foreign Policy After Trump di Majalah Foreign Affairs bulan Maret/April 2020. Di antara banyak hal yang ditulis, salah satu yang terpenting adalah pesan kuat adanya keinginan untuk meyakinkan dunia bahwa AS siap memimpin dunia kembali.
Untuk merealisasinya Biden mengutarakan bahwa AS akan merestorasi nilai-nilai demokrasi yang menjadi nilai dasar dalam hidup bernegara. Ambisi Biden itu tidak berhenti di situ saja. Ia berjanji akan menggelar Global Democracy Conference yang akan melibatkan semua negara penting dunia, organisasi internasional, dan kelompok masyarakat sipil.
Ketiga, Build Back Better, platform kampanye Biden-Harris khususnya di bidang ekonomi. Di dalam platform itu disebutkan bahwa Biden-Harris akan mengedepankan industri dalam negeri melalui berbagai inovasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Tujuannya menghasilkan produk-produk buatan AS oleh orang AS sendiri.
Dalam konteks ini Biden tidak berbeda dengan Trump. Tujuan utamanya adalah memakmurkan kembali AS. Namun bedanya terletak pada pendekatan yang mungkin akan dilakukan oleh Biden sebagai seorang politisi Demokrat yang sangat berpengalaman dan sebagai wakil presiden dua periode mendampingi Barack Obama.
Keempat, komposisi kabinet khususnya portofolio kunci seperti Menteri Luar Negeri. Anthony Blinken sebagai calon Menteri Luar Negeri telah bekerja sama dengan Biden lebih kurang 20 tahun sehingga sangat paham yang dimaui Biden. Blinken juga seorang multilateralis yang mengedepankan dialog dalam menyelesaikan masalah-masalah global seperti perubahan iklim dan pandemi dengan organisasi kesehatan dunia.
Kemungkinan langkah yang akan diambil di satu sisi membuka kembali hubungan baik dengan mitra tradisional di Eropa, Uni Eropa, Asia, dan Australia yang terganggu selama kepemimpinan Trump. AS akan kembali aktif dalam mengatur tata kelola global dengan merestorasi keterlibatan di berbagai organisasi internasional. Namun yang terpenting ujung pangkalnya adalah tetap pada pengembalian kondisi ekonomi domestik AS.
Untuk merealisasinya Biden mengutarakan bahwa AS akan merestorasi nilai-nilai demokrasi yang menjadi nilai dasar dalam hidup bernegara. Ambisi Biden itu tidak berhenti di situ saja. Ia berjanji akan menggelar Global Democracy Conference yang akan melibatkan semua negara penting dunia, organisasi internasional, dan kelompok masyarakat sipil.
Ketiga, Build Back Better, platform kampanye Biden-Harris khususnya di bidang ekonomi. Di dalam platform itu disebutkan bahwa Biden-Harris akan mengedepankan industri dalam negeri melalui berbagai inovasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Tujuannya menghasilkan produk-produk buatan AS oleh orang AS sendiri.
Dalam konteks ini Biden tidak berbeda dengan Trump. Tujuan utamanya adalah memakmurkan kembali AS. Namun bedanya terletak pada pendekatan yang mungkin akan dilakukan oleh Biden sebagai seorang politisi Demokrat yang sangat berpengalaman dan sebagai wakil presiden dua periode mendampingi Barack Obama.
Keempat, komposisi kabinet khususnya portofolio kunci seperti Menteri Luar Negeri. Anthony Blinken sebagai calon Menteri Luar Negeri telah bekerja sama dengan Biden lebih kurang 20 tahun sehingga sangat paham yang dimaui Biden. Blinken juga seorang multilateralis yang mengedepankan dialog dalam menyelesaikan masalah-masalah global seperti perubahan iklim dan pandemi dengan organisasi kesehatan dunia.
Kemungkinan langkah yang akan diambil di satu sisi membuka kembali hubungan baik dengan mitra tradisional di Eropa, Uni Eropa, Asia, dan Australia yang terganggu selama kepemimpinan Trump. AS akan kembali aktif dalam mengatur tata kelola global dengan merestorasi keterlibatan di berbagai organisasi internasional. Namun yang terpenting ujung pangkalnya adalah tetap pada pengembalian kondisi ekonomi domestik AS.
Lihat Juga :