Keluarga Titik Awal Penentu Kualitas Bangsa
Selasa, 22 Desember 2020 - 06:50 WIB
loading...
A
A
A
"Saya memberi apresiasi tinggi kepada BKKBN yang telah menetapkan iBangga. Dengan begitu pembangunan manusia akan lebih terukur dari sisi pembangunan keluarga," tutur Muhajir seraya menambahkan bahwa indeks itu akan bersinergi dengan antara lain Indeks Revolusi Mental, Indeks Pendidikan, hingga Indeks Kemiskinan dalam membangun bangsa. (Baca juga: Tekan Stunting, BKKBN Dorong Kemandirian Pangan di Daerah Rentan )
Menurut Muhajir, iBangga sangat dibutuhkan saat ini dalam upaya pemerintah menekan laju angka stunting, SDM yang belum terlalu kompetitif dan belum memiliki kemampuan memadai hingga angka kematian ibu dan bayi yang masih tinggi. "Menurut riset, angkatan kerja Indonesia saat ini 54% adalah mantan stunting," ungkap Muhajir.
Menggaris-bawahi pernyataan Menko PMK, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan bahwa iBangga diluncurkan oleh BKKBN karena lembaga ini menilai bahwa keluarga sebagai unit analisis terkecil dalam masyarakat perlu diketahui secara mikro.
"Untuk pembangunan kita bicara secara makro sehingga tidak menyentuh hal-hal mikro keluarga. Seperti apa problem keluarga. Maka, kita tidak bisa memberi treatment yang tepat. Perlu mendiagnosis keluarga sebelum dilakukan treatment. Untuk itulah iBangga kami luncurkan," jelas Hasto.
Menurut Hasto, iBangga berbeda dengan Indek Pembangunan Manusia (IPM). Melalui iBangga, masing-masing keluarga bisa dipotret secara mikro, untuk kemudian dikelompokkan dalam indeks dengan unsur Tenteram, Mandiri, Bahagia. Ketiganya itu menjadi indeks iBangga. Dengan iBangga, potret keluarga menjadi lebih jelas. Masing-masing keluarga terdata dengan jelas dari banyak sisi. Termasuk adakah kasus KDRT, bagaimana ibadahnya, apakah sempat rekreasi.
"Tahun 2021 kita akan lakukan pendataan dengan mendatangi 77 juta keluarga. Masing-masing keluarga kita potret. Apakah ada kasus KDRT, apakah ibadah bagus, apa sempat rekreasi. Indikator yang ada untuk lihat apakah keluarga itu tenteram, mandiri, bahagia," urai Hasto dengan berharap pembangunan nasional yang dikembangkan berbasis keluarga.
Menurut Muhajir, iBangga sangat dibutuhkan saat ini dalam upaya pemerintah menekan laju angka stunting, SDM yang belum terlalu kompetitif dan belum memiliki kemampuan memadai hingga angka kematian ibu dan bayi yang masih tinggi. "Menurut riset, angkatan kerja Indonesia saat ini 54% adalah mantan stunting," ungkap Muhajir.
Menggaris-bawahi pernyataan Menko PMK, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan bahwa iBangga diluncurkan oleh BKKBN karena lembaga ini menilai bahwa keluarga sebagai unit analisis terkecil dalam masyarakat perlu diketahui secara mikro.
"Untuk pembangunan kita bicara secara makro sehingga tidak menyentuh hal-hal mikro keluarga. Seperti apa problem keluarga. Maka, kita tidak bisa memberi treatment yang tepat. Perlu mendiagnosis keluarga sebelum dilakukan treatment. Untuk itulah iBangga kami luncurkan," jelas Hasto.
Menurut Hasto, iBangga berbeda dengan Indek Pembangunan Manusia (IPM). Melalui iBangga, masing-masing keluarga bisa dipotret secara mikro, untuk kemudian dikelompokkan dalam indeks dengan unsur Tenteram, Mandiri, Bahagia. Ketiganya itu menjadi indeks iBangga. Dengan iBangga, potret keluarga menjadi lebih jelas. Masing-masing keluarga terdata dengan jelas dari banyak sisi. Termasuk adakah kasus KDRT, bagaimana ibadahnya, apakah sempat rekreasi.
"Tahun 2021 kita akan lakukan pendataan dengan mendatangi 77 juta keluarga. Masing-masing keluarga kita potret. Apakah ada kasus KDRT, apakah ibadah bagus, apa sempat rekreasi. Indikator yang ada untuk lihat apakah keluarga itu tenteram, mandiri, bahagia," urai Hasto dengan berharap pembangunan nasional yang dikembangkan berbasis keluarga.
Lihat Juga :