Indonesia Dinilai Belum Cerminkan Demokrasi Substantif
Kamis, 17 Desember 2020 - 17:23 WIB
loading...
Indeks Demokrasi Indonesia, secara umum, mengindikasikan telah cukup berhasil dalam memproduksi vote melalui pemilu yang diselanggarakan secara rutin. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Indeks Demokrasi Indonesia, secara umum, mengindikasikan telah cukup berhasil dalam memproduksi vote melalui pemilu yang diselanggarakan secara rutin.
(Baca juga: Pilkada 2020, Kemenangan Politik Dinasti Bisa Hambat Demokrasi di Tingkat Lokal)
Tapi, sangat pelik untuk menghasilkan vote pascapemilu karena tidak terciptanya korelasi antara kehadiran dan representasi. (Baca juga: Menang Pilpres AS, Joe Biden: Demokrasi Menang!)
Hal ini dikatakan pakar politik LIPI Syarif Hidayat dalam Seminar Nasional "Refleksi Akhir Tahun: Capaian Indeks Demokrasi Indonesia dan Evaluasi Pilkada Serentak 2020", yang diselenggarakan secara daring oleh Pusat Kajian Studi Politik (PKSP) Fisip Universitas Nasional, Jakarta, Kamis (17/12/2020).
(Baca juga: Din Syamsuddin Sebut Indonesia Bangkrut Demokrasi dan Kebebasan Berekspresi)
"Akibatnya, kalaupun secara kuantitas, lembaga dan aturan main demokrasi telah dihadirkan, tetapi secara kualitas, praktik yang berlangsung belum mencerminkan karakter demokrasi substantif, lantaran minim kapasitas," kata Syarif Hidayat.
Pemilu cenderung lebih difungsikan sebagai instrumen oleh para elite politik untuk mendapatkan legitimasi masyarakat. Sehingga implikasinya suara yang diamanahkan oleh masyarakat tidak berdampak pada perbaikan kebijakan dalam penyelenggaraan pemerintahan periode pascapemilu.
(Baca juga: Pilkada 2020, Kemenangan Politik Dinasti Bisa Hambat Demokrasi di Tingkat Lokal)
Tapi, sangat pelik untuk menghasilkan vote pascapemilu karena tidak terciptanya korelasi antara kehadiran dan representasi. (Baca juga: Menang Pilpres AS, Joe Biden: Demokrasi Menang!)
Hal ini dikatakan pakar politik LIPI Syarif Hidayat dalam Seminar Nasional "Refleksi Akhir Tahun: Capaian Indeks Demokrasi Indonesia dan Evaluasi Pilkada Serentak 2020", yang diselenggarakan secara daring oleh Pusat Kajian Studi Politik (PKSP) Fisip Universitas Nasional, Jakarta, Kamis (17/12/2020).
(Baca juga: Din Syamsuddin Sebut Indonesia Bangkrut Demokrasi dan Kebebasan Berekspresi)
"Akibatnya, kalaupun secara kuantitas, lembaga dan aturan main demokrasi telah dihadirkan, tetapi secara kualitas, praktik yang berlangsung belum mencerminkan karakter demokrasi substantif, lantaran minim kapasitas," kata Syarif Hidayat.
Pemilu cenderung lebih difungsikan sebagai instrumen oleh para elite politik untuk mendapatkan legitimasi masyarakat. Sehingga implikasinya suara yang diamanahkan oleh masyarakat tidak berdampak pada perbaikan kebijakan dalam penyelenggaraan pemerintahan periode pascapemilu.
Lihat Juga :