Membangun Daerah Secara Berkelanjutan
Kamis, 10 Desember 2020 - 21:24 WIB
loading...
A
A
A
Saya ingin mengambil contoh pendidikan di Kabupaten Morowali Utara, Sulaweasi Tengah yang pada 9 Desember lalu juga menggelar pilkada. Kabupaten ini memiliki kawasan pertambangan. Sejauh ini, pendidikan di Morowali Utara belum cukup membanggakan dalam memberikan sumbangan secara nasional atas peningkatkan GCI. Ada 38,68% penduduk yang memiliki ijazah Sekolah Menengah Atas sederajat, dan 10,77% penduduk tidak memiliki ijazah Sekolah Dasar (Susenas, 2019).
Tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduk pada suatu daerah mencerminkan kualitas sumber daya manusia (SDM) daerah tersebut. Jelas bahwa, agenda pembangunan di Morowali Utara ke depan akan banyak difokuskan pada peningkatan dan kemudahan akses pendidikan bagi seluruh warga.
Bila kita lihat data Sakernas (2019) tingkat pengangguran terbuka di Morowali Utara pada 2019 meningkat sebesar 1% (yoy). Selain karena peningkatan angka pemutusan hubungan kerja (PHK), data ini menegaskan ada diskrepansi antara pertumbuhanan investasi di Morowali Utara dengan penyerapan tenaga kerja. Mengapa ini terjadi? Ternyata pendidikan dan kesehatan di daerah ini bertumbuh kurang signifikan. Tercatat morbidity rate masih berada pada level 16,45% dari total penduduk.
Dengan merujuk beberapa indikator di atas yang memerlukan perbaikan, seyogianya Morowali Utara bisa berkontribusi dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 8, khususnya indikator 8,6 yaitu mengurangi proporsi usia muda yang tidak bekerja, tidak menempuh pendidikan atau pelatihan.
Lingkungan dan Sumber Pangan
Agenda pembangunan Morawali Utara ke depan mesti didorong dengan pendekatan inklusif. Tidak mengabaikan aspek kelesatarian alam, juga pertumbuhan ekonomi. Beranjak ke aspek lingkungan, kasus degradasi kualitas air berujung pada kesulitan masyarakat mendapatkan air bersih, fly ash yang mengacam sistem pernapasan warga, merupakan fragmen penyusun wajah lingkungan yang kini tengah dihadapi. Jika lama diabaikan, kelak mengancam keberlangsungan hidup warga, pun berdampak terhadap biota perairan, tanaman pangan yang selama ini kerap jadi sumber makanan bagi warga.
Tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduk pada suatu daerah mencerminkan kualitas sumber daya manusia (SDM) daerah tersebut. Jelas bahwa, agenda pembangunan di Morowali Utara ke depan akan banyak difokuskan pada peningkatan dan kemudahan akses pendidikan bagi seluruh warga.
Bila kita lihat data Sakernas (2019) tingkat pengangguran terbuka di Morowali Utara pada 2019 meningkat sebesar 1% (yoy). Selain karena peningkatan angka pemutusan hubungan kerja (PHK), data ini menegaskan ada diskrepansi antara pertumbuhanan investasi di Morowali Utara dengan penyerapan tenaga kerja. Mengapa ini terjadi? Ternyata pendidikan dan kesehatan di daerah ini bertumbuh kurang signifikan. Tercatat morbidity rate masih berada pada level 16,45% dari total penduduk.
Dengan merujuk beberapa indikator di atas yang memerlukan perbaikan, seyogianya Morowali Utara bisa berkontribusi dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 8, khususnya indikator 8,6 yaitu mengurangi proporsi usia muda yang tidak bekerja, tidak menempuh pendidikan atau pelatihan.
Lingkungan dan Sumber Pangan
Agenda pembangunan Morawali Utara ke depan mesti didorong dengan pendekatan inklusif. Tidak mengabaikan aspek kelesatarian alam, juga pertumbuhan ekonomi. Beranjak ke aspek lingkungan, kasus degradasi kualitas air berujung pada kesulitan masyarakat mendapatkan air bersih, fly ash yang mengacam sistem pernapasan warga, merupakan fragmen penyusun wajah lingkungan yang kini tengah dihadapi. Jika lama diabaikan, kelak mengancam keberlangsungan hidup warga, pun berdampak terhadap biota perairan, tanaman pangan yang selama ini kerap jadi sumber makanan bagi warga.
Lihat Juga :