Lima Srikandi Ini Dikukuhkan Menjadi Profesor Riset
Jum'at, 04 Desember 2020 - 11:21 WIB
loading...
A
A
A
Orasi pertama dibuka oleh Sri Irianti dengan menyampaikan orasi bertopik "Inovasi Pengintegrasian Program Water, Sanitation And Hygiene (WaSH) menuju Tercapainya Sustainable Development Goal 6 di Indonesia". Menurut Irianti, intergrasi antarelemen WaSH menjadi solusi penting untuk memperbesar peran WaSH dalam pencegahan penyakit dan gangguan kesehatan. Selain itu sebagai pemenuhan hak asasi untuk hidup bermanfaat. Integrasi program WaSH bisa menjadi solusi percepatan tercapainnya SDG 6 di Indonesia.
(Untuk mengisi survei calon Presiden 2024 pilihan Anda, silakan klik di sini ).
Ekowati Rahajeng dalam orasinya mengangkat topik "Penguatan Posbindu PTM Dalam Menurunkan Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama". Ekowati mengatakan bahwa ada lima kunci untuk memperkuat Posbindu PTM yaitu, peningkatan rutinitas kegiatan, peningkatan kemampuan edukasi dan konseling bagi petugas dan kader, perluasan cakupan sasaran penduduk, optimalisasi pengelolaan PTM di desa, serta penerapan sistem surveilans secara sistematik.
(Baca juga: Guru Besar Kesehatan Anak UI: Ini Cara Edukasi 3M kepada Anak-anak ).
Selanjutnya, Rustika memberikan orasi dengan topik "Kolaborasi Pembinaan Pengendalian Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Jemaah Haji Dalam Mendukung Istitaah Kesehatan". Dalam orasinya dipaparkan bahwa kolaborasi pembinaan pengendalian faktor risiko PTM bagi jemaah haji perlu dengan melibatkan berbagai sektor. Dengan adanya upaya ini akan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku kesehatan, serta kebugaran jemaah haji. Hal tersebut dapat menurunkan tinggat kesakitan dan kematian pada jemaah haji.
Kemudian topik orasi "Pengembangan Parameter Standar Simplisia Untuk Menjamin Mutu dan Keamanan Obat Tradisional" disampaikan oleh Yuli. Dijelaskan olehnya menjamin mutu dan keamanan obat tradisional sangat penting untuk otentifikasi simplisia dalam mencegah praktik pemalsuan bahan baku obat tradisional di masyarakat. Pengembangan parameter standar simplisia dapat menjadi acuan bagi industri obat tradisional dan memicu industri bahan baku obat tradisional.
(Untuk mengisi survei calon Presiden 2024 pilihan Anda, silakan klik di sini ).
Ekowati Rahajeng dalam orasinya mengangkat topik "Penguatan Posbindu PTM Dalam Menurunkan Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama". Ekowati mengatakan bahwa ada lima kunci untuk memperkuat Posbindu PTM yaitu, peningkatan rutinitas kegiatan, peningkatan kemampuan edukasi dan konseling bagi petugas dan kader, perluasan cakupan sasaran penduduk, optimalisasi pengelolaan PTM di desa, serta penerapan sistem surveilans secara sistematik.
(Baca juga: Guru Besar Kesehatan Anak UI: Ini Cara Edukasi 3M kepada Anak-anak ).
Selanjutnya, Rustika memberikan orasi dengan topik "Kolaborasi Pembinaan Pengendalian Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Jemaah Haji Dalam Mendukung Istitaah Kesehatan". Dalam orasinya dipaparkan bahwa kolaborasi pembinaan pengendalian faktor risiko PTM bagi jemaah haji perlu dengan melibatkan berbagai sektor. Dengan adanya upaya ini akan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku kesehatan, serta kebugaran jemaah haji. Hal tersebut dapat menurunkan tinggat kesakitan dan kematian pada jemaah haji.
Kemudian topik orasi "Pengembangan Parameter Standar Simplisia Untuk Menjamin Mutu dan Keamanan Obat Tradisional" disampaikan oleh Yuli. Dijelaskan olehnya menjamin mutu dan keamanan obat tradisional sangat penting untuk otentifikasi simplisia dalam mencegah praktik pemalsuan bahan baku obat tradisional di masyarakat. Pengembangan parameter standar simplisia dapat menjadi acuan bagi industri obat tradisional dan memicu industri bahan baku obat tradisional.
Lihat Juga :