Kontribusi Kelompok Separatis untuk Masyarakat Papua Dipertanyakan
Kamis, 03 Desember 2020 - 21:44 WIB
loading...
Kontribusi Ketua United Liberation Movement for West Papua (ULMWP,) Benny Wenda untuk masyarakat Papua dipertanyakan. Foto/reuters
A
A
A
JAKARTA - Pakar resolusi konflik Universitas Parahyangan, Bandung, I Nyoman Sudira, mempertanyakan kontribusi tokoh-tokoh separatis Papua terhadap masyarakat di wilayah tersebut. Terutama, pentolan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP,) Benny Wenda yang telah mendeklarasikan pemerintahan sementara. Dia menilai, selama ini jejak dan kontribusi Benny Wenda tak terlihat bagi Papua.
"Gini saja, selama ini apa sih catatan yang sudah dilakukan Benny Wenda terhadap Papua yang merasa dia wakili? Di dalam teori resolusi konflik seorang mungkin bisa menjadi first maker. Kalau kelompok ini masih jauh. Masih banyak tahapan yang harus ditempuh," kata I Nyoman dalam sebuah Wabinar yang diselenggarakan Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP) dengan tajuk “Pendekatan Kemanusiaan dan Keamanan Bagi Papua”, Kamis (3/12/2020). (Baca juga: Deklarasi Papua Barat, Ketua MPR Bilang Makar dan Minta Pemerintah Tegas)
Tidak hanya itu, I Nyoman juga mempertanyakan kepentingan Benny Wenda dan para tokoh separatis lainnya di Papua. Termasuk, bentuk pemerintahan yang ingin dibangun oleh mereka. "Saya masih mempelajari kelompok-kelompok yang ingin merdeka. Kalau merdeka, mau mendirikan negara apa, mau membentuk pemerintah seperti apa, mau bagaimana struktur organisasisnya. Jelas enggak ini. Itu menjadi persoalan juga," ujarnya. (Baca juga: Mahfud MD: Masyarakat Tak Perlu Takut, Deklarasi Benny Wenda Lewat Twitter)
Dia menyebut, ada banyak kelompok separatis di Papua, termasuk di ULMWP sendiri. "Bicara mengenai Benny Wenda, kita bicara ULMWP. Jangan salah, tokoh ULMWP itu ada empat bisa disebut tiga tokoh besarnya. Ada Benny Wenda di London, Octavianus Mote di New York, ada Rex Rumakiek yang di Austalia," sebutnya. (Baca juga: Mahfud MD: Benny Wenda Membuat Negara Ilusi)
ULMWP, kata dia, jalur perjuangannya bukan lokal atau nasional. Melainkan dari jalur internasional. "Dia enggak berjuang lagi dengan pemerintah Indonesia. Perjuangan mereka adalah dari sisi apa yang dilakukan selama ini mencari dukungan internasional, paling tidak memberikan support terhadap perjuangan mereka untuk memisahkan diri dari Indonesia. Isu yang digembor-gemborkan di luar negeri adalah HAM, enggak ada yang lain. Karena hanya HAM yang bisa menjadi jembatan kekuatan internasional bisa masuk," lanjutnya.
"Gini saja, selama ini apa sih catatan yang sudah dilakukan Benny Wenda terhadap Papua yang merasa dia wakili? Di dalam teori resolusi konflik seorang mungkin bisa menjadi first maker. Kalau kelompok ini masih jauh. Masih banyak tahapan yang harus ditempuh," kata I Nyoman dalam sebuah Wabinar yang diselenggarakan Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP) dengan tajuk “Pendekatan Kemanusiaan dan Keamanan Bagi Papua”, Kamis (3/12/2020). (Baca juga: Deklarasi Papua Barat, Ketua MPR Bilang Makar dan Minta Pemerintah Tegas)
Tidak hanya itu, I Nyoman juga mempertanyakan kepentingan Benny Wenda dan para tokoh separatis lainnya di Papua. Termasuk, bentuk pemerintahan yang ingin dibangun oleh mereka. "Saya masih mempelajari kelompok-kelompok yang ingin merdeka. Kalau merdeka, mau mendirikan negara apa, mau membentuk pemerintah seperti apa, mau bagaimana struktur organisasisnya. Jelas enggak ini. Itu menjadi persoalan juga," ujarnya. (Baca juga: Mahfud MD: Masyarakat Tak Perlu Takut, Deklarasi Benny Wenda Lewat Twitter)
Dia menyebut, ada banyak kelompok separatis di Papua, termasuk di ULMWP sendiri. "Bicara mengenai Benny Wenda, kita bicara ULMWP. Jangan salah, tokoh ULMWP itu ada empat bisa disebut tiga tokoh besarnya. Ada Benny Wenda di London, Octavianus Mote di New York, ada Rex Rumakiek yang di Austalia," sebutnya. (Baca juga: Mahfud MD: Benny Wenda Membuat Negara Ilusi)
ULMWP, kata dia, jalur perjuangannya bukan lokal atau nasional. Melainkan dari jalur internasional. "Dia enggak berjuang lagi dengan pemerintah Indonesia. Perjuangan mereka adalah dari sisi apa yang dilakukan selama ini mencari dukungan internasional, paling tidak memberikan support terhadap perjuangan mereka untuk memisahkan diri dari Indonesia. Isu yang digembor-gemborkan di luar negeri adalah HAM, enggak ada yang lain. Karena hanya HAM yang bisa menjadi jembatan kekuatan internasional bisa masuk," lanjutnya.
Lihat Juga :