Lemkapi Nilai Pengakuan Napoleon Bonaparte soal Kabareskrim Tidak Masuk Akal
Kamis, 26 November 2020 - 20:13 WIB
loading...
Direktur Eksekutif Lemkapi, Edi Hasibuan menilai pengakuan Irjen Napoleon Bonaparte (NB) yang menyebut ada restu Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo dalam kasus Djoko Tjandra tidak rasional. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pakar Hukum dari Universitas Bhayangkara Jakarta, Edi Hasibuan menilai pengakuan Irjen Pol Napoleon Bonaparte (NB) yang menyebut ada "restu" Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo dalam kasus Djoko Tjandra tidak rasional dan sangat tidak masuk akal.
"Kita melihat pengakuan itu sulit diterima akal sehat. NB mengaku TS (Tomy Sumardi-red) dapat restu dari Kabareskrim. Sedangkan TS sendiri tidak pernah mengaku mendapatkan restu," ujar Edi Hasibuan dalam keterangannya, Kamis (26/11/2020). (Baca juga: Pernyataan Napoleon Menyesatkan Kebenaran, Kabareskrim: Saya Tak Pernah Ragu Usut Tuntas Kasus Djoko Tjandra)
Untuk itu, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) ini meminta semua pihak hati-hati melihat kasus ini dan harus bijak melihat pernyataan Irjen Napoleon.
Edi juga melihat pernyataan ini sangat politis dan bisa mengarah pada pembunuhan karakter. Apalagi saat ini Kabareskrim merupakan salah satu calon kuat Kapolri.
"Kami melihat isu Djoko Tjandra sangat seksi untuk menurunkan elektabilitas calon Kapolri," terang pemerhati kepolisian ini.
"Kita melihat pengakuan itu sulit diterima akal sehat. NB mengaku TS (Tomy Sumardi-red) dapat restu dari Kabareskrim. Sedangkan TS sendiri tidak pernah mengaku mendapatkan restu," ujar Edi Hasibuan dalam keterangannya, Kamis (26/11/2020). (Baca juga: Pernyataan Napoleon Menyesatkan Kebenaran, Kabareskrim: Saya Tak Pernah Ragu Usut Tuntas Kasus Djoko Tjandra)
Untuk itu, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) ini meminta semua pihak hati-hati melihat kasus ini dan harus bijak melihat pernyataan Irjen Napoleon.
Edi juga melihat pernyataan ini sangat politis dan bisa mengarah pada pembunuhan karakter. Apalagi saat ini Kabareskrim merupakan salah satu calon kuat Kapolri.
"Kami melihat isu Djoko Tjandra sangat seksi untuk menurunkan elektabilitas calon Kapolri," terang pemerhati kepolisian ini.
Lihat Juga :