Masyumi Reborn dan Jalan Terjal Islam Politik
Selasa, 17 November 2020 - 09:56 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, politik Islam, bertolak pada argumentasi yang lebih esensial, bahwa politik itu penting dan nilai-nilai Islam perlu dihadirkan sebagai inspirasi politik tanpa harus memformalkannya dalam sistem ketatanegaraan.
Dalam perkembangannya, gagasan Islam politik cenderung semakin terpinggirkan dalam wacana ruang publik dan politik kontemporer. Islam politik dianggap tidak marketable di alam demokrasi yang ditunjukkan dari hasil pemilu ke pemilu terutama pemilu di era pasca reformasi.
Pasar pemilih muslim sebagai ceruk utama partai-partai Islam pun secara umum lebih merefleksikan sikap moderatnya, menolak formalisasi Islam. Partai-partai Islam seperti PPP dan PKS juga harus berkompromi dengan realitas politik dan bertransformasi menjadi partai yang lebih terbuka.
Jalan Terjal Masyumi
Kembalinya Partai Masyumi dalam gelanggang politik akan dihadapkan pada sejumlah tantangan. Pertama, konfigurasi politik nasional saat ini jauh berbeda dengan situasi Orde Lama yang diwarnai dengan konvergensi dan pertarungan ideologi secara fragmentatif.
Dalam tiga kali pemilu terakhir, realitas politik menunjukkan supremasi elektoral selalu dipegang oleh partai-partai nasionalis. Pemilu 2009 dimenangkan Partai Demokrat, Pemilu 2014 PDIP dan Pemilu 2019 juga dimenangkan PDIP.
Sementara itu, saluran formal politik umat Islam yang diwakili setidaknya oleh PPP, PKB, PAN, PKS, PBB dan PBR secara umum terus mengalami pasang surut dengan capaian tertinggi di bawah 10% sebagaimana yang diperoleh PKB pada pemilu 2019 yaitu 9,69%. Itupun disertai dengan kerja keras membangun inklusifitas partai politik agar lebih diterima di semua kalangan.
Dalam konteks dinamika elektoral, tren umum yang berkembang selama tiga kali pemilu terakhir adalah semakin eksklusif platform ideologi partai politik, maka semakin sulit berkembang menjadi partai besar. Inilah tantangan Masyumi ke depan jika ingin survive dan memenangkan kompetisi politik nasional. Supremasi elektoral yang hanya berlangsung dalam satu kali putaran pemilu pada 1955, sangat sulit direproduksi jika Masyumi tidak jeli melihat konfigurasi politik yang ada saat ini.
Kedua, Masyumi mengalami defisit kader muda yang cukup tinggi. Salah satu kunci penting survivalitas partai politik adalah tersedianya infrastruktur sumber daya manusia yang bisa menggerakkan seluruh sumber daya partai secara maksimal. Saat ini, Masyumi lebih didominasi kalangan tua, sementara tantangan zaman lebih kompleks seiring perkembangan teknologi informasi.
Defisit kader muda berkorelasi terhadap kemampuan partai dalam mengorganisasikan sumber daya politik dan ekonomi yang ada agar lebih manageable. Masyumi mampu menunjukkan supremasi elektoralnya pada pemilu 1955 karena memilki sejumlah kader muda progresif seperti Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, dan Mohammad Roem yang mampu mengimbangi ritme politikus konservatif (meminjam istilah Kahin) seperti Sukiman.
Karena keluwesan berpolitiknya, Guru Besar Cornell University George McTurnan Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia (1952) bahkan menyebut Natsir sebagai “the last giant among the indonesia’s nationalist and revolutionary political leaders.”.
Ketiga, segmen pasar pemilih dalam pemilu terakhir dibanjiri dengan kalangan muda. Jumlah pemilih milenial mencapai 30-40% atau lebih dari 42 juta jiwa pada Pemilu 2019. Secara umum, segmen pemilih milenial memiliki karakteristik yang jauh berbeda dengan kalangan tua. Tiga ciri penting dari karakteristik milenial adalah creative, confidence dan connected.
Dalam perkembangannya, gagasan Islam politik cenderung semakin terpinggirkan dalam wacana ruang publik dan politik kontemporer. Islam politik dianggap tidak marketable di alam demokrasi yang ditunjukkan dari hasil pemilu ke pemilu terutama pemilu di era pasca reformasi.
Pasar pemilih muslim sebagai ceruk utama partai-partai Islam pun secara umum lebih merefleksikan sikap moderatnya, menolak formalisasi Islam. Partai-partai Islam seperti PPP dan PKS juga harus berkompromi dengan realitas politik dan bertransformasi menjadi partai yang lebih terbuka.
Jalan Terjal Masyumi
Kembalinya Partai Masyumi dalam gelanggang politik akan dihadapkan pada sejumlah tantangan. Pertama, konfigurasi politik nasional saat ini jauh berbeda dengan situasi Orde Lama yang diwarnai dengan konvergensi dan pertarungan ideologi secara fragmentatif.
Dalam tiga kali pemilu terakhir, realitas politik menunjukkan supremasi elektoral selalu dipegang oleh partai-partai nasionalis. Pemilu 2009 dimenangkan Partai Demokrat, Pemilu 2014 PDIP dan Pemilu 2019 juga dimenangkan PDIP.
Sementara itu, saluran formal politik umat Islam yang diwakili setidaknya oleh PPP, PKB, PAN, PKS, PBB dan PBR secara umum terus mengalami pasang surut dengan capaian tertinggi di bawah 10% sebagaimana yang diperoleh PKB pada pemilu 2019 yaitu 9,69%. Itupun disertai dengan kerja keras membangun inklusifitas partai politik agar lebih diterima di semua kalangan.
Dalam konteks dinamika elektoral, tren umum yang berkembang selama tiga kali pemilu terakhir adalah semakin eksklusif platform ideologi partai politik, maka semakin sulit berkembang menjadi partai besar. Inilah tantangan Masyumi ke depan jika ingin survive dan memenangkan kompetisi politik nasional. Supremasi elektoral yang hanya berlangsung dalam satu kali putaran pemilu pada 1955, sangat sulit direproduksi jika Masyumi tidak jeli melihat konfigurasi politik yang ada saat ini.
Kedua, Masyumi mengalami defisit kader muda yang cukup tinggi. Salah satu kunci penting survivalitas partai politik adalah tersedianya infrastruktur sumber daya manusia yang bisa menggerakkan seluruh sumber daya partai secara maksimal. Saat ini, Masyumi lebih didominasi kalangan tua, sementara tantangan zaman lebih kompleks seiring perkembangan teknologi informasi.
Defisit kader muda berkorelasi terhadap kemampuan partai dalam mengorganisasikan sumber daya politik dan ekonomi yang ada agar lebih manageable. Masyumi mampu menunjukkan supremasi elektoralnya pada pemilu 1955 karena memilki sejumlah kader muda progresif seperti Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, dan Mohammad Roem yang mampu mengimbangi ritme politikus konservatif (meminjam istilah Kahin) seperti Sukiman.
Karena keluwesan berpolitiknya, Guru Besar Cornell University George McTurnan Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia (1952) bahkan menyebut Natsir sebagai “the last giant among the indonesia’s nationalist and revolutionary political leaders.”.
Ketiga, segmen pasar pemilih dalam pemilu terakhir dibanjiri dengan kalangan muda. Jumlah pemilih milenial mencapai 30-40% atau lebih dari 42 juta jiwa pada Pemilu 2019. Secara umum, segmen pemilih milenial memiliki karakteristik yang jauh berbeda dengan kalangan tua. Tiga ciri penting dari karakteristik milenial adalah creative, confidence dan connected.
Lihat Juga :