Kementerian ATR/BPN Disarankan Kerahkan Karyawan se-Indonesia Lawan Buzzer Mafia Tanah
Kamis, 12 November 2020 - 20:57 WIB
loading...
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Sofyan Djalil mengungkapkan soal mafia tanah yang mengerahkan buzzer untuk melawan kementerian yang dipimpinnya. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional ( ATR/BPN ), Sofyan Djalil mengungkapkan soal mafia tanah yang mengerahkan buzzer untuk melawan kementerian yang dipimpinnya.
Komunikolog Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing menilai apa yang disampaikan Sofyan merupakan bentuk keresahannya terhadap ulah mafia tanah. Dengan membuka fakta itu, Sofyan menganggap mafia tanah merupakan masalah penting yang harus diatasi. (Baca juga: Kementerian ATR/BPN Gandeng Polri Bentuk Satgas Antimafia Tanah)
"Ini bagus, beliau terbuka. Kalau tidak disampaikan nanti bisa jadi gunung es. Masalah itu menumpuk. Kalau ini kan sudah dibuka, ada mafia tanah, ada penggunaan buzzer-buzzer," ujar Emrus saat dihubungi wartawan, Kamis (12/11/2020).
Emrus menyebut dalam komunikasi memang ada metode membolak-balikan pesan untuk mengaburkan maksud dan tujuan serta membuat lawan menjadi lemah. Ini biasa dilakukan orang yang melakukan komunikasi tidak berintegritas. Dalam hal ini buzzer.
Buzzer bisa membingkai suatu pihak dalam sengketa tanah sebagai orang yang dizalimi, korban yang dirampas tanahnya. Playing victim istilahnya. Sementara lawannya dikesankan sebagai orang serakah dan culas. Ini akan menyulitkan Kementerian ATR/BPN dalam upayanya memberantas mafia tanah.
"Mereka membolak-balikkan pesan, seolah-olah rasional, fakta. Melakukan pengemasan dan framing untuk tujuan-tujuan tertentu. Itu harus kita hadapi, lawan," tuturnya.
Komunikolog Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing menilai apa yang disampaikan Sofyan merupakan bentuk keresahannya terhadap ulah mafia tanah. Dengan membuka fakta itu, Sofyan menganggap mafia tanah merupakan masalah penting yang harus diatasi. (Baca juga: Kementerian ATR/BPN Gandeng Polri Bentuk Satgas Antimafia Tanah)
"Ini bagus, beliau terbuka. Kalau tidak disampaikan nanti bisa jadi gunung es. Masalah itu menumpuk. Kalau ini kan sudah dibuka, ada mafia tanah, ada penggunaan buzzer-buzzer," ujar Emrus saat dihubungi wartawan, Kamis (12/11/2020).
Emrus menyebut dalam komunikasi memang ada metode membolak-balikan pesan untuk mengaburkan maksud dan tujuan serta membuat lawan menjadi lemah. Ini biasa dilakukan orang yang melakukan komunikasi tidak berintegritas. Dalam hal ini buzzer.
Buzzer bisa membingkai suatu pihak dalam sengketa tanah sebagai orang yang dizalimi, korban yang dirampas tanahnya. Playing victim istilahnya. Sementara lawannya dikesankan sebagai orang serakah dan culas. Ini akan menyulitkan Kementerian ATR/BPN dalam upayanya memberantas mafia tanah.
"Mereka membolak-balikkan pesan, seolah-olah rasional, fakta. Melakukan pengemasan dan framing untuk tujuan-tujuan tertentu. Itu harus kita hadapi, lawan," tuturnya.
Lihat Juga :