Pendidikan, Pandemi, dan Revolusi 4.0
Jum'at, 13 November 2020 - 05:40 WIB
loading...
A
A
A
Keempat, keterampilan citizenship, semacam pendidikan kewargaan (civic education), guna menjadi warga negara yang baik. Globalisasi telah membuat batas-batas nasional menjadi kabur. Kalau guru tidak mampu membekali siswa dengan pendidikan kewargaan dengan tepat, nasionalisme para siswa bisa semakin melemah. Guru dituntut tetap mampu menanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada siswa tanpa harus terjebak pada chauvinism (nasionalisme yang sempit).
Kelima, kemampuan literasi, khususnya literasi digital (digital literation), yaitu keterampilan untuk dapat memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber, khususnya dari internet. UNESCO memaknai digital literacy sebagai kemampuan untuk mengakses sumber berita dan mengevaluasi secara kritis dan menciptakan informasi melalui teknologi digital. Melalui digital literacy seseorang tidak sekadar memiliki kemampuan untuk mengoperasikan peralatan teknologi, tetapi juga harus memiliki kemampuan lain untuk mengolahnya menjadi hal-hal yang positif dan lebih berdaya guna.
Keenam, student leadership and personal development. Setiap siswa tentu saja memiliki potensi dan bakat yang berbeda-beda. Guru harus mampu menjadi fasilitator untuk pengembangan diri siswa, baik dari sisi kepemimpinan maupun pengembangan pribadinya. Dalam hal ini guru harus memahami bahwa potensi setiap siswa itu unik dan pengembangan potensinya harus disesuaikan dengan keunikan tersebut. Selanjutnya guru harus mampu meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam mengembangkan potensi personalnya.
Kelima, kemampuan literasi, khususnya literasi digital (digital literation), yaitu keterampilan untuk dapat memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber, khususnya dari internet. UNESCO memaknai digital literacy sebagai kemampuan untuk mengakses sumber berita dan mengevaluasi secara kritis dan menciptakan informasi melalui teknologi digital. Melalui digital literacy seseorang tidak sekadar memiliki kemampuan untuk mengoperasikan peralatan teknologi, tetapi juga harus memiliki kemampuan lain untuk mengolahnya menjadi hal-hal yang positif dan lebih berdaya guna.
Keenam, student leadership and personal development. Setiap siswa tentu saja memiliki potensi dan bakat yang berbeda-beda. Guru harus mampu menjadi fasilitator untuk pengembangan diri siswa, baik dari sisi kepemimpinan maupun pengembangan pribadinya. Dalam hal ini guru harus memahami bahwa potensi setiap siswa itu unik dan pengembangan potensinya harus disesuaikan dengan keunikan tersebut. Selanjutnya guru harus mampu meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam mengembangkan potensi personalnya.
(bmm)
Lihat Juga :