Fahri Hamzah Sebut Generasi Milenial Kehilangan Teladan Para Elite Politik

loading...
Fahri Hamzah Sebut Generasi Milenial Kehilangan Teladan Para Elite Politik
Mantan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah memberikan pandangannya terkait peran anak muda atau generasi milenial dalam menghadapi situasi negara Indonesia hari ini. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Mantan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah memberikan pandangannya terkait peran anak muda atau generasi milenial dalam menghadapi situasi negara Indonesia hari ini, terutama dalam demokrasi dan transisi yang panjang untuk menciptakan negara yang sejahtera.

"Kita bisa mengatakan bahwa kaum milenial adalah generasi baru Indonesia yang boleh jadi kita sebagai orang-orang tua, saya sendiri sebagai generasi yang lahir dan bergerak dalam satu perubahan politik paling besar yang terjadi setelah proklamasi, yaitu Reformasi 1998, mungkin itu sebesar revolusi yang melahirkan Orde Baru, itu lah Reformasi yang melahirkan orde demokrasi kita," ujar Fahri kepada wartawan, Jumat (30/10/2020). (Baca juga: Megawati 'Sentil' Anak Muda yang Hobi Demo dan Rusak Fasum)

Sementara, Wakil Ketua Umum Partai Gelora ini melanjutkan, generasi milenial ini adalah generasi yang menyaksikan dunia yang berubah. Tidak saja negara kita yang berubah, tapi juga dunia yang mengalami perubahan. Teknologi mengalami distrupsi yang dahsyat, bahkan sekarang ini ada pandemi Covid-19 sebagai distrupsi baru, yang keduanya menciptakan kegalauan yang masif.

"Karena itu lah, generasi ini (milenial) sebenarnya lagi mencari imamnya, lagi mencari siapa yang harus didengar, dan lagi mencari kemana kita harus menuju dan melangkah. Ada baiknya kita memahami dan menyadari bahwa jangan-jangan kegagalannya ada pada generasi yang seharusnya menjadi suri tauladan, menjadi bintang pembimbing, menjadi contoh, menjadi yang hari-hari ditiru dan dilihat, kata-kata, aksi dan polanya di dalam berbangsa dan bernegara," ujarnya.



Oleh karena itu, menurut Fahri, instrospeksi paling besar harus dilakukan oleh politisi. Karena politisi yang diberi amanah untuk memberikan pendidikan politik bangsa. Para pemimpin politik diberi uang negara, anggaran negara dan akses kekuasaan untuk melakukan itu.

"Kalau kita menyaksikan milenial galau dan tidak sesuai dengn pandangan-pandangan kita, di satu sisi memang itu adalah batang dari sebuah perubahan. Tetapi yang penting adalah apakah kita sudah memberi contoh yang cukup, sehingga ekspektasi kita tentang kaum milenial itu memadai," papar Fahri.

Amanah yang kedua, sambung mantan anggota Komisi III DPR ini, amanah kepada tokoh dan agamawan, karena mereka yang juga punya mekanisme dan media untuk membimbing generasi milenial supaya mereka memegang jati dirinya dan tuntutannya dalam melangkah ke depan. Jadi kaum milenial itu tidak bisa disalahkan, karena mereka tumbuh di zaman dengan segala kompleksitas yang memengaruhi mereka.



"Tapi politisi tidak boleh menanyakan apa yang mereka lakukan, sebab mereka akan bertanya balik, apa yang kalian contohkan kepada kami? Apakah kita sudah berbuat cukup untuk menjelaskan kepada mereka kaum milenial tentang mimpi bersama, beginilah kita harus melangkah ke depan," tegas Fahri.

Dengan demikian, Fahri menambahkan, kalau para pemimpin dan politisi juga mengalami disorientasi dan kegalauan, maka tentu kegalauan itu akan lebih masif dampaknya ke bawah. Faktanya hari ini, kaum milenial tidak mau mendengar siapapun sekarang, mereka lebih mendengar gawai mereka dan memilih siapa pun yang mereka mau dengar lewat gawai dan sosial media (sosmed). Sebagian mendengar orang-orang yang produktif dan positif, sebagian lagi mendengar orang-orang yang negatif dan destruktif.

"Sekali lagi, kesalahan kita karena para elite tidak mendominasi cuaca kehidupan kita dengan akternatif yang baik. Politik ini kita selenggarakan agar orang itu punya alternatif pilihan yang baik. Kekuasaan itu diselenggarakan adalah agar kaum milenial memiliki alternatif yang baik untuk menyongsong masa depan mereka," tegas mantan politikus PKS. (Baca juga: Tak Sekadar Jabatan, Anak Muda di Lingkaran Kekuasaan Harus Punya Karya)

"Bukan kemudian alternatif yang kosong atau bahkan yang berkembang adalah alternatif yang negatif. Jadi kalau harus disalahkan, salahilah pemimpin dan pemimpin akan bertanggung jawab terhadap keadaan rakyatnya, keadaan bangsanya. Ini instrospeksi bagi kita semua, terutama yang senior," pungkasnya.
(kri)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top