Fahri Hamzah Sebut Generasi Milenial Kehilangan Teladan Para Elite Politik
Jum'at, 30 Oktober 2020 - 13:44 WIB
loading...
Mantan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah memberikan pandangannya terkait peran anak muda atau generasi milenial dalam menghadapi situasi negara Indonesia hari ini. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Mantan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah memberikan pandangannya terkait peran anak muda atau generasi milenial dalam menghadapi situasi negara Indonesia hari ini, terutama dalam demokrasi dan transisi yang panjang untuk menciptakan negara yang sejahtera.
"Kita bisa mengatakan bahwa kaum milenial adalah generasi baru Indonesia yang boleh jadi kita sebagai orang-orang tua, saya sendiri sebagai generasi yang lahir dan bergerak dalam satu perubahan politik paling besar yang terjadi setelah proklamasi, yaitu Reformasi 1998, mungkin itu sebesar revolusi yang melahirkan Orde Baru, itu lah Reformasi yang melahirkan orde demokrasi kita," ujar Fahri kepada wartawan, Jumat (30/10/2020). (Baca juga: Megawati 'Sentil' Anak Muda yang Hobi Demo dan Rusak Fasum)
Sementara, Wakil Ketua Umum Partai Gelora ini melanjutkan, generasi milenial ini adalah generasi yang menyaksikan dunia yang berubah. Tidak saja negara kita yang berubah, tapi juga dunia yang mengalami perubahan. Teknologi mengalami distrupsi yang dahsyat, bahkan sekarang ini ada pandemi Covid-19 sebagai distrupsi baru, yang keduanya menciptakan kegalauan yang masif.
"Karena itu lah, generasi ini (milenial) sebenarnya lagi mencari imamnya, lagi mencari siapa yang harus didengar, dan lagi mencari kemana kita harus menuju dan melangkah. Ada baiknya kita memahami dan menyadari bahwa jangan-jangan kegagalannya ada pada generasi yang seharusnya menjadi suri tauladan, menjadi bintang pembimbing, menjadi contoh, menjadi yang hari-hari ditiru dan dilihat, kata-kata, aksi dan polanya di dalam berbangsa dan bernegara," ujarnya.
Oleh karena itu, menurut Fahri, instrospeksi paling besar harus dilakukan oleh politisi. Karena politisi yang diberi amanah untuk memberikan pendidikan politik bangsa. Para pemimpin politik diberi uang negara, anggaran negara dan akses kekuasaan untuk melakukan itu.
"Kalau kita menyaksikan milenial galau dan tidak sesuai dengn pandangan-pandangan kita, di satu sisi memang itu adalah batang dari sebuah perubahan. Tetapi yang penting adalah apakah kita sudah memberi contoh yang cukup, sehingga ekspektasi kita tentang kaum milenial itu memadai," papar Fahri.
Amanah yang kedua, sambung mantan anggota Komisi III DPR ini, amanah kepada tokoh dan agamawan, karena mereka yang juga punya mekanisme dan media untuk membimbing generasi milenial supaya mereka memegang jati dirinya dan tuntutannya dalam melangkah ke depan. Jadi kaum milenial itu tidak bisa disalahkan, karena mereka tumbuh di zaman dengan segala kompleksitas yang memengaruhi mereka.
"Kita bisa mengatakan bahwa kaum milenial adalah generasi baru Indonesia yang boleh jadi kita sebagai orang-orang tua, saya sendiri sebagai generasi yang lahir dan bergerak dalam satu perubahan politik paling besar yang terjadi setelah proklamasi, yaitu Reformasi 1998, mungkin itu sebesar revolusi yang melahirkan Orde Baru, itu lah Reformasi yang melahirkan orde demokrasi kita," ujar Fahri kepada wartawan, Jumat (30/10/2020). (Baca juga: Megawati 'Sentil' Anak Muda yang Hobi Demo dan Rusak Fasum)
Sementara, Wakil Ketua Umum Partai Gelora ini melanjutkan, generasi milenial ini adalah generasi yang menyaksikan dunia yang berubah. Tidak saja negara kita yang berubah, tapi juga dunia yang mengalami perubahan. Teknologi mengalami distrupsi yang dahsyat, bahkan sekarang ini ada pandemi Covid-19 sebagai distrupsi baru, yang keduanya menciptakan kegalauan yang masif.
"Karena itu lah, generasi ini (milenial) sebenarnya lagi mencari imamnya, lagi mencari siapa yang harus didengar, dan lagi mencari kemana kita harus menuju dan melangkah. Ada baiknya kita memahami dan menyadari bahwa jangan-jangan kegagalannya ada pada generasi yang seharusnya menjadi suri tauladan, menjadi bintang pembimbing, menjadi contoh, menjadi yang hari-hari ditiru dan dilihat, kata-kata, aksi dan polanya di dalam berbangsa dan bernegara," ujarnya.
Oleh karena itu, menurut Fahri, instrospeksi paling besar harus dilakukan oleh politisi. Karena politisi yang diberi amanah untuk memberikan pendidikan politik bangsa. Para pemimpin politik diberi uang negara, anggaran negara dan akses kekuasaan untuk melakukan itu.
"Kalau kita menyaksikan milenial galau dan tidak sesuai dengn pandangan-pandangan kita, di satu sisi memang itu adalah batang dari sebuah perubahan. Tetapi yang penting adalah apakah kita sudah memberi contoh yang cukup, sehingga ekspektasi kita tentang kaum milenial itu memadai," papar Fahri.
Amanah yang kedua, sambung mantan anggota Komisi III DPR ini, amanah kepada tokoh dan agamawan, karena mereka yang juga punya mekanisme dan media untuk membimbing generasi milenial supaya mereka memegang jati dirinya dan tuntutannya dalam melangkah ke depan. Jadi kaum milenial itu tidak bisa disalahkan, karena mereka tumbuh di zaman dengan segala kompleksitas yang memengaruhi mereka.
Lihat Juga :