10 Prestasi Dirut Pertamina Masuk Daftar Perempuan Berpengaruh di Dunia
Jum'at, 23 Oktober 2020 - 15:19 WIB
loading...
A
A
A
Keempat, secara korporasi, Nicke sigap memimpin Pertamina Group dalam melakukan berbagai upaya untuk membantu Pemerintah dalam penanganan dampak COVID-19.
Di masa-masa awal Pandemi Covid-19 menyerang Indonesia, Nicke langsung memutuskan untuk melakukan alih fungsi beberapa aset perusahaan. Hotel-hotel, perusahaan, dan Wisma disulap menjadi safe house untuk isolasi mandiri pasien Covid-19. Bahkan lapangan sepak bola di lingkungan aset Pertamina dialihfungsikan menjadi Rumah Sakit Darurat khusus Covid-19, dengan proses pembangunan yang memakan waktu sangat singkat kurang dari 30 hari. Fasilitas Pertamina juga menjadi salah satu trendsetter dalam penyediaan Drivethru Swab Test yang sampai saat ini masih dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Selain itu, di masa awal Pandemi, Pertamina juga menjadi bagian dari sinergi dengan BUMN lain dalam mendatangkan Alkes untuk tenaga medis serta swab kit. Selain itu, melalui komitmen Nicke yang kuat terhadap penanganan Pandemi Covid-19, Pertamina juga menjadi garda terdepan dalam penyediaan ventilator, serta beragam kontribusi lainnya hingga mencapai Rp1,4 triliun.
Kelima, Nicke mendorong Pertamina untuk memberikan dukungan penuh kepada UMKM.
Memahami akan peran UMKM yang signifikan terhadap perekonomian serta impact-nya terhadap ketenagakerjaan, mendorong Nicke untuk terus memastikan Pertamina memberikan dukungan penuh kepada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) agar bangkit dari dampak pandemi. Pertamina menggulirkan beragam program, mulai dari program pelatihan, kemitraan, program pinky movement, pemberdayaan OJOL dalam layanan Pertamina Delivery Service (PDS), hingga pemberdayaan mitra binaan untuk memproduksi APD dan perlengkapan kesehatan lainnya sebagai upaya memenuhi kebutuhan tenaga medis dan masyarakat selama pandemi. Bahkan Pertamina menyelenggarakan pameran virtual dan menyediakan market place agar UMKM tersebut dapat terus menjalankan dan mengembangkan usahanya.
“Walaupun Pertamina juga terdampak COVID-19, kita tetap harus dapat menyebarkan energi kepada yang lain agar semuanya bisa survive. Jadi, Pertamina harus survive, industri nasional harus survive, masyarakat juga harus survive. Inilah cara kita memulihkan bangsa,” ujarnya.
Keenam, Effisiensi biaya operasional (operating expenses/opex) untuk semua Pertamina Group sebesar 30 persen dan belanja modal (capital expenditure/capex) hampir 25 persen, dengan tetap meningkatkan produktifitas.
Walapun biaya dipangkas, namun hingga semester 1 / 2020, produksi minyak dan gas bumi Pertamina Group baik untuk aset domestik maupun internasional masih mencapai 99 persen atau 884,1 MBOEPD (ribu barel setara minyak per hari).
“Dengan kondisi force major seperti saat ini, hampir seluruh perusahaan migas dunia mengalami kinerja negatif. Meski kondisi sulit, pada Juni 2020, Pertamina tetap menyetor Rp181,5 triliun kepada negara sebagai hasil kinerja 2019,” ujarnya.
Ketujuh, di tengah pandemi, Nicke bersikap terbuka untuk bersinergi dengan pihak lain mengembangkan berbagai program strategis Pertamina.
Pandemi tidak menyurutkan langkah untuk melakukan pengembangan usaha. Pertamina bersinergi dengan Kementerian Dalam Negeri membangun Pertashop (SPBU mini) di seluruh desa di Indonesia. Pandemi pun mendapatkan kita semua tentang pentingnya kemandirian dalam industri farmasi nasional. Untuk itu, Pertamina bersinergi dengan Kimia Farma mengembangkan produk petrokimia untuk bahkan baku obat-obatan. Dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan PT Pupuk Kujang, Pertamina sepakat membangun pabrik katalis nasional pertama di Indonesia. Bahkan Pertamina tetap mendukung program Pemerintah dalam pemanfaatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada pengerjaan proyek-proyek yang sedang dijalankan melalui sinergi dengan tiga BUMN, yaitu PT Krakatau Steel, PT Pindad (Persero), PT Barata Indonesia (Persero) serta enam perusahaan swasta nasional. Dalam tiga tahun terakhir, TKDN Pertamina terus meningkat rata-rata mencapai hampir 50 persen sebagai bukti nyata Pertamina turut serta menggerakkan perindustrian dan perekonomian nasional.
Di masa-masa awal Pandemi Covid-19 menyerang Indonesia, Nicke langsung memutuskan untuk melakukan alih fungsi beberapa aset perusahaan. Hotel-hotel, perusahaan, dan Wisma disulap menjadi safe house untuk isolasi mandiri pasien Covid-19. Bahkan lapangan sepak bola di lingkungan aset Pertamina dialihfungsikan menjadi Rumah Sakit Darurat khusus Covid-19, dengan proses pembangunan yang memakan waktu sangat singkat kurang dari 30 hari. Fasilitas Pertamina juga menjadi salah satu trendsetter dalam penyediaan Drivethru Swab Test yang sampai saat ini masih dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Selain itu, di masa awal Pandemi, Pertamina juga menjadi bagian dari sinergi dengan BUMN lain dalam mendatangkan Alkes untuk tenaga medis serta swab kit. Selain itu, melalui komitmen Nicke yang kuat terhadap penanganan Pandemi Covid-19, Pertamina juga menjadi garda terdepan dalam penyediaan ventilator, serta beragam kontribusi lainnya hingga mencapai Rp1,4 triliun.
Kelima, Nicke mendorong Pertamina untuk memberikan dukungan penuh kepada UMKM.
Memahami akan peran UMKM yang signifikan terhadap perekonomian serta impact-nya terhadap ketenagakerjaan, mendorong Nicke untuk terus memastikan Pertamina memberikan dukungan penuh kepada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) agar bangkit dari dampak pandemi. Pertamina menggulirkan beragam program, mulai dari program pelatihan, kemitraan, program pinky movement, pemberdayaan OJOL dalam layanan Pertamina Delivery Service (PDS), hingga pemberdayaan mitra binaan untuk memproduksi APD dan perlengkapan kesehatan lainnya sebagai upaya memenuhi kebutuhan tenaga medis dan masyarakat selama pandemi. Bahkan Pertamina menyelenggarakan pameran virtual dan menyediakan market place agar UMKM tersebut dapat terus menjalankan dan mengembangkan usahanya.
“Walaupun Pertamina juga terdampak COVID-19, kita tetap harus dapat menyebarkan energi kepada yang lain agar semuanya bisa survive. Jadi, Pertamina harus survive, industri nasional harus survive, masyarakat juga harus survive. Inilah cara kita memulihkan bangsa,” ujarnya.
Keenam, Effisiensi biaya operasional (operating expenses/opex) untuk semua Pertamina Group sebesar 30 persen dan belanja modal (capital expenditure/capex) hampir 25 persen, dengan tetap meningkatkan produktifitas.
Walapun biaya dipangkas, namun hingga semester 1 / 2020, produksi minyak dan gas bumi Pertamina Group baik untuk aset domestik maupun internasional masih mencapai 99 persen atau 884,1 MBOEPD (ribu barel setara minyak per hari).
“Dengan kondisi force major seperti saat ini, hampir seluruh perusahaan migas dunia mengalami kinerja negatif. Meski kondisi sulit, pada Juni 2020, Pertamina tetap menyetor Rp181,5 triliun kepada negara sebagai hasil kinerja 2019,” ujarnya.
Ketujuh, di tengah pandemi, Nicke bersikap terbuka untuk bersinergi dengan pihak lain mengembangkan berbagai program strategis Pertamina.
Pandemi tidak menyurutkan langkah untuk melakukan pengembangan usaha. Pertamina bersinergi dengan Kementerian Dalam Negeri membangun Pertashop (SPBU mini) di seluruh desa di Indonesia. Pandemi pun mendapatkan kita semua tentang pentingnya kemandirian dalam industri farmasi nasional. Untuk itu, Pertamina bersinergi dengan Kimia Farma mengembangkan produk petrokimia untuk bahkan baku obat-obatan. Dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan PT Pupuk Kujang, Pertamina sepakat membangun pabrik katalis nasional pertama di Indonesia. Bahkan Pertamina tetap mendukung program Pemerintah dalam pemanfaatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada pengerjaan proyek-proyek yang sedang dijalankan melalui sinergi dengan tiga BUMN, yaitu PT Krakatau Steel, PT Pindad (Persero), PT Barata Indonesia (Persero) serta enam perusahaan swasta nasional. Dalam tiga tahun terakhir, TKDN Pertamina terus meningkat rata-rata mencapai hampir 50 persen sebagai bukti nyata Pertamina turut serta menggerakkan perindustrian dan perekonomian nasional.
Lihat Juga :