Jangan Eksploitasi Pelajar untuk Demo Tolak UU Cipta Kerja
Jum'at, 16 Oktober 2020 - 08:01 WIB
loading...
A
A
A
Dari kondisi itu, masyarakat khususnya pelajar menjadi terlibat. Ketertarikan mereka akan demonstrasi dan rasa ingin tahu yang besar membuat mereka tertarik ingin demo. “Ini bagian dari kepedulian mereka. Persoalan mereka mengerti atau tidak, itu soal lain, yang penting mereka hadir dan ikut menyuarakan,” sebutnya.
Psikolog Universitas Pancasila (UP) Aully Grashinta mengatakan, pelajar adalah remaja sehingga punya energi besar yang perlu penyaluran. Dengan kondisi demikian, mereka memerlukan media penyaluran arah yang baik.
“Pada masa remaja ini, mereka memiliki konformitas yang tinggi pada kelompok karena adanya keinginan untuk diterima sehingga cenderung mengikuti apa yang dilakukan kelompok itu tanpa mempertimbangkan benar, salah, dan apa risikonya. Saat ada pimpinan dalam kelompok teman sebayanya, maka remaja cenderung mengikuti mentah-mentah,” katanya.
Ditambah lagi, pada kondisi pandemi saat ini, para pelajar merasa bosan dengan keadaan sehingga mereka mencari suasana lain dengan cara yang mereka mau. “Pada masa pandemi juga ada faktor kejenuhan menghadapi situasi ini. Energi yang sudah lama tidak tersalurkan, dimanfaatkan pada kegiatan aksi,” katanya. (Lihat videonya: Satukan Tekad untuk Memenangkan Perang Melawan Covid-19)
Shinta menuturkan, pelibatan pelajar dalam demo sebenarnya bukan fenomena baru. Dulu mereka terbiasa tersulut dengan aksi tawuran antarremaja atau antarsekolah. Saat ini mereka dimanfaatkan untuk kegiatan yang mirip (penyaluran energi agresif). “‘Memegang’ salah satu yang dianggap mereka pimpinan saja cukup karena dengan mudah apa yang dilakukannya akan diikuti oleh teman-teman sebayanya,” ucapnya.
Dia menambahkan, secara psikologis, remaja lebih mudah melakukan sesuatu yang dilakukan bersama teman-temannya tanpa memikirkan lebih jauh konsekuensi dari tindakannya. Keinginan untuk diterima dalam kelompok sehingga memiliki kesamaan dalam rangka mencari jati dirinya. “Sehingga ketika sesama teman sebaya ada yang tergerak, dengan mudah pula bisa memengaruhi teman yang lain,” ungkapnya. (R Ratna Purnama/Yan Yusuf/M Yamin)
Psikolog Universitas Pancasila (UP) Aully Grashinta mengatakan, pelajar adalah remaja sehingga punya energi besar yang perlu penyaluran. Dengan kondisi demikian, mereka memerlukan media penyaluran arah yang baik.
“Pada masa remaja ini, mereka memiliki konformitas yang tinggi pada kelompok karena adanya keinginan untuk diterima sehingga cenderung mengikuti apa yang dilakukan kelompok itu tanpa mempertimbangkan benar, salah, dan apa risikonya. Saat ada pimpinan dalam kelompok teman sebayanya, maka remaja cenderung mengikuti mentah-mentah,” katanya.
Ditambah lagi, pada kondisi pandemi saat ini, para pelajar merasa bosan dengan keadaan sehingga mereka mencari suasana lain dengan cara yang mereka mau. “Pada masa pandemi juga ada faktor kejenuhan menghadapi situasi ini. Energi yang sudah lama tidak tersalurkan, dimanfaatkan pada kegiatan aksi,” katanya. (Lihat videonya: Satukan Tekad untuk Memenangkan Perang Melawan Covid-19)
Shinta menuturkan, pelibatan pelajar dalam demo sebenarnya bukan fenomena baru. Dulu mereka terbiasa tersulut dengan aksi tawuran antarremaja atau antarsekolah. Saat ini mereka dimanfaatkan untuk kegiatan yang mirip (penyaluran energi agresif). “‘Memegang’ salah satu yang dianggap mereka pimpinan saja cukup karena dengan mudah apa yang dilakukannya akan diikuti oleh teman-teman sebayanya,” ucapnya.
Dia menambahkan, secara psikologis, remaja lebih mudah melakukan sesuatu yang dilakukan bersama teman-temannya tanpa memikirkan lebih jauh konsekuensi dari tindakannya. Keinginan untuk diterima dalam kelompok sehingga memiliki kesamaan dalam rangka mencari jati dirinya. “Sehingga ketika sesama teman sebaya ada yang tergerak, dengan mudah pula bisa memengaruhi teman yang lain,” ungkapnya. (R Ratna Purnama/Yan Yusuf/M Yamin)
(ysw)
Lihat Juga :