Unjuk Rasa di Era Disinformasi
Sabtu, 10 Oktober 2020 - 08:19 WIB
loading...
A
A
A
Realitasnya saat protes berlanjut, disinformasi makin memburuk. Dan kebenaran kian jadi korban. Warga Hong Kong dipaksa mengonsumsi informasi yang gagal menyajikan kebenaran. Gejala yang nyata, masyarakat tersegregasi, hingga rekonsiliasi antara pihak yang berlawanan jadi sulit.
Modus serupa, terjadi di tengah protes besar-besaran warga Amerika, pasca kematian warga berkulit hitam George Floyd, lantaran tindakan kekerasan yang dilakukan polisi berkulit putih, di negara bagian Minneapolis.
Dalam laporan berjudul The Flood of Online Misinformation Around the George Floyd Protests, yang ditulis Megan K McBride dan Jessica Stern, 2020 disebutkan, jalan-jalan di berbagai kota Amerika dipenuhi dengan pemrotes.
Media sosial juga dibanjiri foto maupun video yang berisi informasi mengerikan, hingga yang menggembirakan. Ini menyebabkan kebingungan. Saat protes berubah jadi kekerasan, tak jelas siapa yang memicu perubahan. Kaum ekstrem kiri, pengunjuk rasa, pejuang supremasi kulit putih, maupun petugas penegak hukum, merupakan pelaku potensial.
Untuk menentukan kebenaran, banyak orang menyederhanakan narasi. Kesimpulan dibuat berdasar warna kulit, pakaian, atau tanda melekat, yang terlihat pada gambar. Dengan cara ini, afiliasi politik maupun posisi atas tindakan kekerasan, dapat ditentukan.
Dalam realitasnya jalan pintas itu, sering tak berfungsi. Ini terjadi ketika banyak kelompok membuat akun media sosial atas nama kelompok yang mereka lawan, mengenakan pakaian agar terlihat seperti "musuh", dan menyebarkan rumor tentang serangan yang akan terjadi. Media sosial saat protes telah berubah jadi arena disinformasi. Karenanya diperlukan skeptisisme.
Hari ini, ketika di banyak negara terjadi aneka perselisihan, yang dipicu berbagai hal, penanganan Covid-19, pemberlakuan suatu undang-undang baru, penanganan perbatasan maupun pengungsi, karenanya tak jarang diramaikan oleh unjuk rasa, akankah hipotesa tentang disinformasi lewat media sosial yang dilakukan pihak-pihak yang berselisih, benar adanya? Mari kita periksa dengan cermat.
Modus serupa, terjadi di tengah protes besar-besaran warga Amerika, pasca kematian warga berkulit hitam George Floyd, lantaran tindakan kekerasan yang dilakukan polisi berkulit putih, di negara bagian Minneapolis.
Dalam laporan berjudul The Flood of Online Misinformation Around the George Floyd Protests, yang ditulis Megan K McBride dan Jessica Stern, 2020 disebutkan, jalan-jalan di berbagai kota Amerika dipenuhi dengan pemrotes.
Media sosial juga dibanjiri foto maupun video yang berisi informasi mengerikan, hingga yang menggembirakan. Ini menyebabkan kebingungan. Saat protes berubah jadi kekerasan, tak jelas siapa yang memicu perubahan. Kaum ekstrem kiri, pengunjuk rasa, pejuang supremasi kulit putih, maupun petugas penegak hukum, merupakan pelaku potensial.
Untuk menentukan kebenaran, banyak orang menyederhanakan narasi. Kesimpulan dibuat berdasar warna kulit, pakaian, atau tanda melekat, yang terlihat pada gambar. Dengan cara ini, afiliasi politik maupun posisi atas tindakan kekerasan, dapat ditentukan.
Dalam realitasnya jalan pintas itu, sering tak berfungsi. Ini terjadi ketika banyak kelompok membuat akun media sosial atas nama kelompok yang mereka lawan, mengenakan pakaian agar terlihat seperti "musuh", dan menyebarkan rumor tentang serangan yang akan terjadi. Media sosial saat protes telah berubah jadi arena disinformasi. Karenanya diperlukan skeptisisme.
Hari ini, ketika di banyak negara terjadi aneka perselisihan, yang dipicu berbagai hal, penanganan Covid-19, pemberlakuan suatu undang-undang baru, penanganan perbatasan maupun pengungsi, karenanya tak jarang diramaikan oleh unjuk rasa, akankah hipotesa tentang disinformasi lewat media sosial yang dilakukan pihak-pihak yang berselisih, benar adanya? Mari kita periksa dengan cermat.
(dam)
Lihat Juga :