Klaster Baru Covid-19 Berpeluang Terjadi di Tengah Demonstran
Jum'at, 09 Oktober 2020 - 07:01 WIB
loading...
A
A
A
"Sampai dengan saat ini tidak ada rencana untuk menggunakan UU Kekarantinaan dalam merespons ini. Pembubaran kegiatan aspirasi merupakan kewenangan dari pihak aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian yang sedang bertugas. Oleh karena itu, kami mendorong agar para pihak yang ingin menyampaikan aspirasinya untuk mematuhi arahan pihak kepolisian selama kegiatan berlangsung," katanya.
Semua Pihak Diminta Menahan Diri
Dari Pandeglang, Banten, Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengatakan, perbedaan pendapat dan pandangan adalah hal yang wajar dalam negara demokrasi. Namun, jangan sekali-kali hal tersebut justru menghambat pembangunan apalagi mengorbankan kepentingan masyarakat banyak. (Baca juga: Demo Meletus di Berbagai Daerah, Satgas Ingatkan Ancaman Covid-19)
"Apalagi nanti kalau korbannya orang-orang yang lemah yang mesti dibela, malah jadi korban. Saya berharap semuanya menahan diri, gunakan cara, etika, budaya Indonesia," ujarnya di sela Sosialisasi Empat Pilar di Gedung Serbaguna PKPRI, Labuhan, Pandeglang, Kamis (8/10).
Gus Jazil juga meminta aparat kepolisian yang mengamankan jalannya aksi demonstrasi di lapangan bisa bertindak profesional, tidak melampaui batas dalam bertindak sesuai dengan koridor hukum berlaku. "Jangan sampai bertindak di luar jalur hukum. Tapi, siapa pun yang melanggar harus didisiplinkan. Perlu juga dilakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh mahasiswa untuk bisa diajak berdialog," tuturnya.
Wakil Ketua Umum DPP PKB ini mengatakan, akibat pandemi Covid-19 , saat ini banyak aktivitas masyarakat seperti di pasar lumpuh. Jika aksi demonstrasi terus berlanjut dikhawatirkan akan memperburuk situasi. Untuk itu, Gus Jazil meminta para guru memantau pergerakan anak didiknya yang diduga banyak terlibat demonstrasi. "Memang sekarang ini harus diakui bahwa keadaan ini membuat anak-anak juga jenuh, cuma hiburannya masa demo gitu. Makanya ini serba salah. Ini demo dianggap hiburan ini oleh anak-anak yang belum mengerti apa masalah, yang penting bisa ramai-ramai turun ke jalan, nggak pakai masker, bisa lempar-lempar, ini susah," sesalnya. (Lihat videonya: Pedagang Tanaman Hias Raup Untung di Tengah Pandemi Covid-19)
Menurutnya, aksi demonstrasi seperti ini rawan ditunggangi oleh pihak-pihak yang menginginkan adanya kekacauan. "Nggak mungkin kegiatan seperti ini tanpa aktor. Yakinlah, pola ini adalah pola adu domba. Di lapangan banyak kayak begini ini dan akan merugikan masyarakat banyak," katanya. (Syachrul Arsyad/Dita Angga Rusiana/Abdul Rochim/SINDOnews)
Semua Pihak Diminta Menahan Diri
Dari Pandeglang, Banten, Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengatakan, perbedaan pendapat dan pandangan adalah hal yang wajar dalam negara demokrasi. Namun, jangan sekali-kali hal tersebut justru menghambat pembangunan apalagi mengorbankan kepentingan masyarakat banyak. (Baca juga: Demo Meletus di Berbagai Daerah, Satgas Ingatkan Ancaman Covid-19)
"Apalagi nanti kalau korbannya orang-orang yang lemah yang mesti dibela, malah jadi korban. Saya berharap semuanya menahan diri, gunakan cara, etika, budaya Indonesia," ujarnya di sela Sosialisasi Empat Pilar di Gedung Serbaguna PKPRI, Labuhan, Pandeglang, Kamis (8/10).
Gus Jazil juga meminta aparat kepolisian yang mengamankan jalannya aksi demonstrasi di lapangan bisa bertindak profesional, tidak melampaui batas dalam bertindak sesuai dengan koridor hukum berlaku. "Jangan sampai bertindak di luar jalur hukum. Tapi, siapa pun yang melanggar harus didisiplinkan. Perlu juga dilakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh mahasiswa untuk bisa diajak berdialog," tuturnya.
Wakil Ketua Umum DPP PKB ini mengatakan, akibat pandemi Covid-19 , saat ini banyak aktivitas masyarakat seperti di pasar lumpuh. Jika aksi demonstrasi terus berlanjut dikhawatirkan akan memperburuk situasi. Untuk itu, Gus Jazil meminta para guru memantau pergerakan anak didiknya yang diduga banyak terlibat demonstrasi. "Memang sekarang ini harus diakui bahwa keadaan ini membuat anak-anak juga jenuh, cuma hiburannya masa demo gitu. Makanya ini serba salah. Ini demo dianggap hiburan ini oleh anak-anak yang belum mengerti apa masalah, yang penting bisa ramai-ramai turun ke jalan, nggak pakai masker, bisa lempar-lempar, ini susah," sesalnya. (Lihat videonya: Pedagang Tanaman Hias Raup Untung di Tengah Pandemi Covid-19)
Menurutnya, aksi demonstrasi seperti ini rawan ditunggangi oleh pihak-pihak yang menginginkan adanya kekacauan. "Nggak mungkin kegiatan seperti ini tanpa aktor. Yakinlah, pola ini adalah pola adu domba. Di lapangan banyak kayak begini ini dan akan merugikan masyarakat banyak," katanya. (Syachrul Arsyad/Dita Angga Rusiana/Abdul Rochim/SINDOnews)
(ysw)
Lihat Juga :