Bangun Jembatan Bailey, Hutama Karya Hubungkan 5 Desa di Luwu Utara
Jum'at, 02 Oktober 2020 - 12:39 WIB
loading...
Project Manager Hutama Karya, Rifky Alfrianto mengungkapkan bahwa pihaknya harus mengebut proses pembangunan yang dimulai pada 2 Agustus 2020 tersebut.
A
A
A
LUWU UTARA - Warga di lima desa di sekitar Sungai Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan kini bisa beraktifitas dan melakukan mobilitas dengan mudah. Pasalnya, jembatan yang menjadi akses utama daerah tersebut kini telah tersambung setelah sempat terputus akibat banjir bandang Sungai Masamba pada 14 Juli 2020 yang lalu.
Setelah sebulan lebih jembatan beroperasi, geliat perekonomian warga pun kini mulai meningkat. Adalah PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) yang dipercaya oleh Kementerian PUPR melalui BBPJN-XIII Makassar untuk membangun kembali jembatan yang terletak di Desa Baloli tersebut.
Tipe jembatan yang digunakan adalah Jembatan Bailey, yaitu jembatan rangka baja ringan berkualitas tinggi namun mudah dipindahkan (movable). Struktur jembatan ini sangat cocok untuk merecovery pembangunan di pelosok daerah yang sulit dijangkau dan rawan bencana alam karena proses pembangunannya cukup cepat serta minim alat berat.
Meski bersifat sementara, namun keandalan dan keamanan Jembatan Bailey telah teruji sejak Perang Dunia ke-II untuk mengatasi kondisi darurat. Mobilisasi rangka jembatan dengan panjang 60 meter dan lebar 4 meter dimulai pada tanggal 27 Juli 2020 dari Gudang Jembatan milik Kementerian PUPR di Citeureup, Bogor, Jawa Barat.
Dibutuhkan waktu sekitar 7–10 hari hingga rangka jembatan tersebut tiba di lokasi pembangunan. Sementara Pemerintah Kabupaten Luwu Utara menargetkan jembatan sudah dapat tersambung pada saat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2020. Dengan target tersebut, Project Manager Hutama Karya, Rifky Alfrianto mengungkapkan bahwa pihaknya harus mengebut proses pembangunan yang dimulai pada 2 Agustus 2020 tersebut.
“Pekerjaan kami mulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 24.00 setiap harinya. Sambil menunggu jembatan sampai, kami bangun dulu jalan akses dan bronjong atau pondasi jembatan setinggi 4 meter,” kata Rifky.
Selama proses tersebut Rifky dan tim juga mengaku mengalami beberapa kendala, antara lain adalah kondisi medan dan cuaca yang kurang mendukung. Akibat terjangan banjir, jalan akses sebelumnya sudah tidak memungkinkan untuk dibangun jembatan lagi sehingga harus dibuat jalan akses baru yang bergeser 150 meter dari titik sebelumnya.
Setelah sebulan lebih jembatan beroperasi, geliat perekonomian warga pun kini mulai meningkat. Adalah PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) yang dipercaya oleh Kementerian PUPR melalui BBPJN-XIII Makassar untuk membangun kembali jembatan yang terletak di Desa Baloli tersebut.
Tipe jembatan yang digunakan adalah Jembatan Bailey, yaitu jembatan rangka baja ringan berkualitas tinggi namun mudah dipindahkan (movable). Struktur jembatan ini sangat cocok untuk merecovery pembangunan di pelosok daerah yang sulit dijangkau dan rawan bencana alam karena proses pembangunannya cukup cepat serta minim alat berat.
Meski bersifat sementara, namun keandalan dan keamanan Jembatan Bailey telah teruji sejak Perang Dunia ke-II untuk mengatasi kondisi darurat. Mobilisasi rangka jembatan dengan panjang 60 meter dan lebar 4 meter dimulai pada tanggal 27 Juli 2020 dari Gudang Jembatan milik Kementerian PUPR di Citeureup, Bogor, Jawa Barat.
Dibutuhkan waktu sekitar 7–10 hari hingga rangka jembatan tersebut tiba di lokasi pembangunan. Sementara Pemerintah Kabupaten Luwu Utara menargetkan jembatan sudah dapat tersambung pada saat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2020. Dengan target tersebut, Project Manager Hutama Karya, Rifky Alfrianto mengungkapkan bahwa pihaknya harus mengebut proses pembangunan yang dimulai pada 2 Agustus 2020 tersebut.
“Pekerjaan kami mulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 24.00 setiap harinya. Sambil menunggu jembatan sampai, kami bangun dulu jalan akses dan bronjong atau pondasi jembatan setinggi 4 meter,” kata Rifky.
Selama proses tersebut Rifky dan tim juga mengaku mengalami beberapa kendala, antara lain adalah kondisi medan dan cuaca yang kurang mendukung. Akibat terjangan banjir, jalan akses sebelumnya sudah tidak memungkinkan untuk dibangun jembatan lagi sehingga harus dibuat jalan akses baru yang bergeser 150 meter dari titik sebelumnya.
Lihat Juga :