Wabah Corona Membuat WNI di Melborune Lebih Rajin Mengaji
Selasa, 05 Mei 2020 - 16:23 WIB
loading...
A
A
A
Menu buka puasa biasanya dibawa oleh masing-masing keluarga untuk dicicipi bersama. Ada yang membawa acar, gorengan, kerupuk kampung impor dari Indonesia yang bisa dibeli di Indonesian Groceries, kolak dan sop buah.
Cukup banyak kegiatan yang dilakukan komunitas muslim Indonesia. Biasanya ada pengajian, tadarusan yang dilakukan seminggu sekali di ketiga masjid tadi dan beberapa tempat lainnya. “Pembimbingnya dan pemberi materi kultum kadang-kadang seorang ustad atau mahasiswa,” ujar ayah tiga anak itu.
Namun kebersamaan itu untuk sementara tak berlanjut. Sejak Pemerintah Australia memberlakukan lockdown, semua social gathering dan acara keagamaan di masjid, gereja dan tempat-tempat peribadatan lainnnya tidak bisa dilaksanakan.
Berkumpul bersama lebih dari dua orang tidak diperbolehkan, kecuali bekumpul bersama orang-orang dari satu rumah. Barangsiapa melanggar peraturan ini dendanya lumayan sadis: 20.000-100.000 dolar Australia (A$ 1 setara Rp 9.735).
Otomatis, restoran, bar, kelab, tidak bisa beroperasi secara normal. Hanya restoran yang masih boleh melayani pelanggan, secara take away dan tidak boleh makan di tempat.
Akibat pemberlakuan lockdown, banyak karyawan dirumahkan. Untuk mengatasinya, pemerintah pusat (federal government) telah menyiapkan insentif berupa Jobkeeper payments. Masing-masing pekerja bisa mendapatkan bantuan sampai A$ 750 per minggu.
Dalam kondisi abnormal seperti saat ini pengajian hanya bisa dilakukan secara online menggunakan aplikasi Zoom. “Sejak pemberlakuan lockdown, justru ada hikmahnya, pengajian jadi lebih intens, dua kali seminggu,” ujar Osep.
Pria kelahiran Tasikmalaya ini bersyukur hari demi hari penyebaran wabah covid 19 di Australia, khususnya di Melbourne terus menurun.
Di seluruh Australia virus corona menjangkiti 6.847 orang. Hingga Selasa (5/5) 5.886 orang
sudah sembuh, dan yang meninggal 96 orang. “Kemungkinan lockdown sampai akhir Mei saja, dan setelah itu kami bisa kembali ke kehidupan normal,” tuturnya.”Insya Allah.”
Cukup banyak kegiatan yang dilakukan komunitas muslim Indonesia. Biasanya ada pengajian, tadarusan yang dilakukan seminggu sekali di ketiga masjid tadi dan beberapa tempat lainnya. “Pembimbingnya dan pemberi materi kultum kadang-kadang seorang ustad atau mahasiswa,” ujar ayah tiga anak itu.
Namun kebersamaan itu untuk sementara tak berlanjut. Sejak Pemerintah Australia memberlakukan lockdown, semua social gathering dan acara keagamaan di masjid, gereja dan tempat-tempat peribadatan lainnnya tidak bisa dilaksanakan.
Berkumpul bersama lebih dari dua orang tidak diperbolehkan, kecuali bekumpul bersama orang-orang dari satu rumah. Barangsiapa melanggar peraturan ini dendanya lumayan sadis: 20.000-100.000 dolar Australia (A$ 1 setara Rp 9.735).
Otomatis, restoran, bar, kelab, tidak bisa beroperasi secara normal. Hanya restoran yang masih boleh melayani pelanggan, secara take away dan tidak boleh makan di tempat.
Akibat pemberlakuan lockdown, banyak karyawan dirumahkan. Untuk mengatasinya, pemerintah pusat (federal government) telah menyiapkan insentif berupa Jobkeeper payments. Masing-masing pekerja bisa mendapatkan bantuan sampai A$ 750 per minggu.
Dalam kondisi abnormal seperti saat ini pengajian hanya bisa dilakukan secara online menggunakan aplikasi Zoom. “Sejak pemberlakuan lockdown, justru ada hikmahnya, pengajian jadi lebih intens, dua kali seminggu,” ujar Osep.
Pria kelahiran Tasikmalaya ini bersyukur hari demi hari penyebaran wabah covid 19 di Australia, khususnya di Melbourne terus menurun.
Di seluruh Australia virus corona menjangkiti 6.847 orang. Hingga Selasa (5/5) 5.886 orang
sudah sembuh, dan yang meninggal 96 orang. “Kemungkinan lockdown sampai akhir Mei saja, dan setelah itu kami bisa kembali ke kehidupan normal,” tuturnya.”Insya Allah.”
(rza)
Lihat Juga :