Dua Metode Kampanye Daring Pilkada yang Dinilai Tidak Efektif
Selasa, 29 September 2020 - 11:51 WIB
loading...
A
A
A
Di sisi lain, masih banyak kandidat yang belum memahami bahwa cara menggunakan media sosial secara interaktif. Padahal, hal ini sangat penting untuk memperkuat hubungan dengan pemilih.
"Penting untuk diingat, pengguna media sosial adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Mereka bukan pihak pasif yang hanya menerima informasi yang disampaikan, tapi pengguna media sosial adalah pihak yang juga aktif dan selektif, serta kritis terhadap semua informasi yang disampaikan," ujarnya.
Anto mengingatkan pentingnya kandidat mengemas konten dengan baik agar pesan kampanye dapat disampaikan dengan efektif dan diterima oleh para pengguna media sosial. Misalnya, tidak menggunakan berita bohong dalam postingan kampanye dan memberikan pesan-pesan menarik yang informatif berdasarkan data yang valid.
Catatan berikutnya adalah kesenjangan akses internet yang dapat menciptakan kesenjangan informasi bagi pemilih. Menurut dia, persoalan itu patut menjadi catatan bagi parpol dan paslon karena pemanfaatan media sosial untuk media kampanye dalam pilkada serentak tidak dapat dilakukan di semua daerah, kecuali di daerah yang memiliki jumlah pengguna internet besar, serta didukung oleh tingkat literasi digital dan infrastruktur yang memadai.
"Karena itu, dibutuhkan kreatifitas dari para kandidat untuk menyiasati kondisi ini dan menjalankan strategi kampanye daring yang efektif, ditambah kita masih berada di tengah pandemi Covid-19," tukas Anto.
"Penting untuk diingat, pengguna media sosial adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Mereka bukan pihak pasif yang hanya menerima informasi yang disampaikan, tapi pengguna media sosial adalah pihak yang juga aktif dan selektif, serta kritis terhadap semua informasi yang disampaikan," ujarnya.
Anto mengingatkan pentingnya kandidat mengemas konten dengan baik agar pesan kampanye dapat disampaikan dengan efektif dan diterima oleh para pengguna media sosial. Misalnya, tidak menggunakan berita bohong dalam postingan kampanye dan memberikan pesan-pesan menarik yang informatif berdasarkan data yang valid.
Catatan berikutnya adalah kesenjangan akses internet yang dapat menciptakan kesenjangan informasi bagi pemilih. Menurut dia, persoalan itu patut menjadi catatan bagi parpol dan paslon karena pemanfaatan media sosial untuk media kampanye dalam pilkada serentak tidak dapat dilakukan di semua daerah, kecuali di daerah yang memiliki jumlah pengguna internet besar, serta didukung oleh tingkat literasi digital dan infrastruktur yang memadai.
"Karena itu, dibutuhkan kreatifitas dari para kandidat untuk menyiasati kondisi ini dan menjalankan strategi kampanye daring yang efektif, ditambah kita masih berada di tengah pandemi Covid-19," tukas Anto.
(maf)
Lihat Juga :